Hidayatullah.com– Vatikan mengusir “biarawati pemberontak” karena menolak meninggalkan biara berusia 7 abad di Ravello, Italia.
Vatikan mengusir dua biarawati dari biara tersebut setelah keduanya tidak mematuhi permintaan untuk meninggalkan biara berusia tujuh abad yang terletak di pesisir pantai Amalfi Italia. Selama satu dekade terakhir, biara dan komunitas tertutupnya – yang dianggap merepresentasikan sebagian sejarah Ravello – hanya dihuni oleh tiga biarawati. Mereka adalah Massimiliana Panza, Angela Punnackal dan Maria Cristina Fiore, seorang biarawati berusia 97 tahun yang tinggal di sana sejak 1955.
Dikenal di kota di atas tebing Ravello sebagai “biarawati pembangkang”, Massimiliana Panza dan Angela Maria Punnackal meninggalkan biara Santa Chiara pada hari Sabtu pekan lalu setelah Paus Fransiskus memerintahkan agar mereka “dibebaskan dari kewajiban-kewajiban ordinasi sakral” atau dengan kata lain dipecat sebagai biarawati Katolik, lansir The Guardian Senin (6/2/2023).
Ketiganya diminta untuk dipindahkan ke biara atau konven lain setelah Vatikan melakukan pemeriksaan terhadap berbagai propertinya dan menyimpulkan bahwa penduduk di Santa Chiara terlalu sedikit untuk ditinggali komunitas biarawati seperti mereka.
Setelah permintaan untuk mengisi kembali biara dengan biarawati-biarawati ditolak, ketiganya berusaha bernegosiasi dengan Vatikan untuk mempertahankannya.
Namun, mereka akhirnya dikeluarkan dari tempat itu, dengan Panza dan Punnackal diberi perintah angkat kaki dari biara dan melepaskan status biarawati karena menolak pemindahan tersebut. Suster Fiore diizinkan untuk tinggal, karena kesehatan yang buruk yang membuatnya terbaring di tempat tidur, sementara dua biarawati lainnya pindah untuk membantunya.
Dalam surat yang dikirimkan Vatikan, dikatakan kepada Panza dan Punnackal bahwa mereka sudah tidak mematuhi gereja.
“Itu esensinya ada hukuman,” kata Fabrio Adernò, pengacara kedua wanita itu. “Dan oleh karena keputusan itu sudah dikonfirmasi oleh Paus Fransiskus maka mereka tidak dapat mengajukan banding. Satu-satunya solusi adalah kemurahan, di mana Paus menghapus perintah itu dan mengizinkan mereka untuk berintegrasi kembali ke kehidupan biarawati.”
Panza telah kembali ke rumah keluarganya di Nola, dekat Naples, di mana dia untuk sementara menampuu Punnackal, yang berasal dari India. Kedua biarawati itu memprotes pemindahan tersebut karena khawatir biara tersebut, berikut gereja yang bersebelahan dengannya yang dibangun pada 1297, akan ditutup.
“Biarawati telah ada di sana selama tujuh abad dan ada hubungan yang sangat kuat dengan masyarakat Ravello,” kata Gino Schiavo, yang merupakan bagian dari komite yang dibentuk untuk menyelamatkan biara tersebut. “Akan sangat memalukan jika itu lenyap.”
Schiavo berkata bahwa biara tersebut dulu pernah menjadi tempat yang lebih hidup, menampung sekitar 40 biarawati dan merupakan sebuah tempat pendidikan anak usia dini.
“Banyak generasi anak-anak pergi ke taman kanak-kanak di sana,” Papar Schiavo. “Itu adalah bagian dari sejarah Ravello. Meski hanya tersisa tiga biarawati, penting untuk mempertahankannya. Kehidupan tertutup tidak seketat di masa lampau, kita akan melihat mereka setiap kali mereka keluar untuk suatu keperluan, seperti pergi ke dokter atau kantor pos. Kami kecewa dan bingung dengan keputusan Vatikan, terutama setelah mereka mengusir kedua suster ini hanya untuk mendatangkan dua suster lainnya.”*