Hidayatullah.com—Lusinan warga Palestina berbaris di depan kamar mandi dan sebagian besar dari mereka tidak dapat membersihkan diri selama berhari-hari setelah penjajah ‘Israel’ memutus pasokan air, listrik, dan pasokan makanan.
Salah satunya adalah Ahmed Hamid, 43, yang terpaksa harus mengungsi ke Rafah di Jalur Gaza selatan bersama istri dan tujuh anaknya setelah ‘Israel’ memerintahkan warga di utara untuk mengungsi demi alasan keamanan.
“Kami sudah beberapa hari tidak mandi. Kalau ke toilet pun harus antri lama,” kata Ahmed dikutip AFP.
Menurutnya, semua kebutuhan pokok habis dan kalau ada, harganya meroket. Sementara makanan yang ada tinga tuna kaleng, ikan, dan keju.
“Saya merasa tidak berguna karena tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Ahmed.
Penjajah juga memutus pasokan air, listrik dan makanan di daerah padat penduduk, namun melanjutkan pasokan air hanya di Jalur Gaza selatan. Warga lainnya, Mona Abdel Hamid, 55, mengatakan dia meninggalkan rumahnya di Kota Gaza dan menuju ke rumah saudara laki-lakinya di Rafah.
Namun, dia harus tinggal di rumah orang tak dikenal. “Saya merasa sangat malu dan terhina. Saya mencari tempat berteduh. Pakaian kami tidak banyak dan sebagian besar kotor karena tidak ada air untuk mencuci,” ujarnya.
Sementara itu, di sebuah rumah di kota Khan Yunis, dekat sekolah yang dikelola oleh badan pengungsi Palestina untuk PBB, seorang warga setempat bernama Esam mengatakan ia menerima tamu tunawisma dari Kota Gaza seperti lingkungan Al-Rimal dan Tal al Hawa.
“Tapi air itu masalah besar. Setiap hari kami harus memikirkan bagaimana mendapatkan persediaan air. Kalau mandi, kami tidak bisa minum,” ujarnya tanpa menyebut nama lengkap.
Meski sudah mengeluarkan perintah evakuasi, tentara ‘Israel’ terus melancarkan serangan udara di selatan Gaza, termasuk Rafah. “Saya melihat kehancuran di sekitar saya dan bertanya ‘tidak ada aktivitas teroris di sini’. Di manakah kemanusiaan yang mereka nyanyikan?” kata seorang warga Rafah, Alaa al-Hams.
Samira Kassab, berdiri di depan reruntuhan rumahnya, berkata: “Ke mana kami harus pergi? Ke mana negara-negara Arab? Kami hidup sebagai pengungsi, rumah kami semua hancur. Kami harus tidur di jalanan dan tidak ada yang tersisa.”
Samira menambahkan, putrinya menderita kanker, namun tidak bisa membawanya ke rumah sakit. “Saya tidak akan pergi dari sini apa pun yang terjadi, bahkan jika saya mati. Kami harus meminta roti kepada tetangga, tapi kami tidak mau menyerah,” ujarnya.
Gaza mengalami krisis kemanusiaan yang parah tanpa listrik sementara persediaan air, makanan, bahan bakar dan obat-obatan semakin menipis ketika warga sipil mengungsi ke selatan menyusul peringatan ‘Israel’ untuk mengungsi dari utara.
Genosida yang dilakukan penjajah ‘Israel’ dimulai ketika pejuang kemerdekaan Palestina dan Al-Qassam hari Sabtu, 7 Oktober 2023 memulai “Operasi Taufan Al-Aqsha” (Operasi Badai Al-Aqsha”, serangan mendadak yang dilakukan berbagai kelompok termasuk serangan roket dan infiltrasi ke ‘Israel’ melalui darat, laut, dan udara.
Kelompok pejuang kemerdekaan Palestina mengatakan infiltrasi ke wilayah Palestina yang dicaplok ‘Israel’ merupakan pembalasan atas berbagai penodaan terhadap Masjid Al-Aqsha dan meningkatnya kekerasan pemukim haram terhadap warga Palestina.
Militer ‘Israel’ kemudian melancarkan operasi pembalasan terhadap sasaran Hamas di Jalur Gaza. Lebih dari 1.400 pihak ‘Israel’ tewas, dan 200 orang ditawan milisi pejuang kemerdekaan.*