Hidayatullah.com– Masjid dan gereja dibakar di negara bagian Plateau, Nigeria, dalam bentrokan maut antarwarga yang dipicu pencurian hewan ternak.
Plateau merupakan daerah di mana Muslim yang kebanyakan tinggal di bagian utara bertemu dengan warga Kristen yang kebanyakan bermukim di bagian selatan. Perkampungan di daerah itu kebanyakan dihuni oleh suku-suku yang menganut Islam dan Kristen.
Bentrokan hari Selasa (23/1/2024) yang terjadi di Mangu – berjarak sekitar 75 kilometer dari ibu kota negara bagian Jos ke arah tenggara – itu melibatkan orang-orang dari suku Fulani atau Fula (mayoritas Muslim) dan Mwagaful (mayoritas Kristiani).
Jurnalis Ado Musa yang bekerja untuk koran lokal Daily Trust mengunjungi daerah tersebut. Dia mengatakan kepada BBC bahwa enam masjid dan dua gereja dibakar dalam bentrokan itu.
Masalah bermula ketika sekelompok bandit bersenjata berusaha mencuri hewan ternak milik orang Fulani, kata Ado Musa.
Upaya perampokan itu gagal. Namun ketika sapi-sapi melarikan diri saat terjadi keributan, yang memicu dilepaskannya tembakan, hal tersebut menimbulkan kekacauan di jalan sehingga membuat kesal warga lainnya.
“Sebelum Anda selesai berkata ‘Jack’ kerusuhan terjadi hingga menimbulkan kematian dan kerusakan,” kata Musa, menggambarkan cepatnya situasi berubah menjadi bentrokan maut antarwarga.
Anak-anak muda baik dari komunitas Mwagaful maupun Fulani bertindak di luar batas dengan merusak rumah-rumah ibadah.
Delapan orang melayang nyawanya dalam bentrokan itu.
Gubernur Plateau kemudian memberlakukan jam malam 24 jam guna menghentikan kerusuhan. Meskipun demikian, masyarakat diperbolehkan berkumpul untuk melaksanakan pemakaman bagi orang yang meninggal.
Sentimen etnis dan agama kerap menimbulkan bentrokan maut di Plateau. Lebih dari 100 orang kehilangan nyawa dalam kerusuhan yang terjadi pada masa perayaan Natal lalu.
Bentrokan di Mangu itu tidak berkaitan dengan bentrokan politik di Jos pada hari Selasa, ketika polisi menembakkan gas air mata ke arah sekelompok politisi yang berusaha masuk ke gedung dewan legislatif setempat. Para politisi itu marah karena kehilangan jabatan setelah pengadilan menyatakan hasil perolehan suara mereka dalam pemilu bulan Maret tahun lalu tidak sah.*