Hidayatullah.com– Bekas wakil presiden Amerika Serikat Mike Pence mengatakan dia tidak akan mendukung Donald Trump dalam pemilihan presiden tahun 2024.
“Tentunya tidak mengejutkan bahwa saya tidak akan mendukung Donald Trump tahun ini,” kata Pence dalam wawancara dengan Fox News Channel hari Jumat (16/3/2024) seperti dilansir Associated Press, setelah tampak jelas pengusaha properti itu akan menjadi calon presiden AS dari Partai Republik.
Sementara banyak politisi Republik anggota Kongres yang mendukung Trump untuk kembali menduduki kursi presiden, sejumlah kecil secara lantang menentang pencalonannya.
Sikap itu menandai metamorfosis Pence yang selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung setia Trump.
Simpati Pence habis setelah Trump menyeru kepada masyarakat pendukungnya untuk menyerbu gedung Capitol pada 6 Januari 2021 guna menghalangi Kongres AS dari mengesahkan hasil pemilu November 2020 yang dimenangkan oleh capres Demokrat Joe Biden.
Ketika penyerbuan terjadi, Pence sedang berada di gedung tersebut dan terpaksa menyelamatkan diri dengan bersembunyi di sebuah loading dock selama beberapa jam bersama pengawalnya, sementara kerumunan massa yang marah – yang sebagian membawa senjata beraneka macam – berteriak “Gantung Mike Pence!” di luar gedung.
Pence awalnya ikut kontentasi bakal calon presiden AS dari Partai Republik untuk pemilu 2024, tetapi mengundurkan diri sebelum pemungutan suara dimulai.
Untuk dapat berpartisipasi dalam kontestasi itu – yang dikenal sebagai Republican primary debates – Pence dan bakal calon lainnya diharuskan menandatangani surat perjanjian yang mengatakan bahwa dia akan mendukung siapa saja yang akhirnya terpilih sebagai kandidat presiden dari Partai Republik. Dalam perdebatan pertama di Milwaukee, Pence termasuk bakal calon yang mengangkat tangan ketika ditanya apakah mereka akan mendukung Trump meskipun jika bekas presiden AS itu menjadi terdakwa dalam satu dari empat dakwaan kriminal yang menjeratnya.
Namun, dalam pidato peluncuran kampanyenya Pence menegaskan, “Saya menyakini bahwa siapa saja yang menempatkan dirinya di atas Konstitusi tidak layak menjadi presiden Amerika Serikat dan siapa saja yang menyuruh orang lain untuk menempatkan diri mereka di atas Konstitusi tidak layak untuk menjadi presiden Amerika Serikat lagi.”
Dalam wawancara dengan Fox, Pence mengaku sangat bangga dengan apa yang telah dia dan Trump lakukan saat berkantor di Gedung Putih. Namun, seiring dengan berjalannya kampanye Pence melihat ada banyak perbedaan antara dia dan Trump dalam banyak isu, seperti tentang utang nasional, masalah perang Rusia di Ukraina, sikap tegas terhadap China termasuk penjualan saham TikTok di Amerika.
“… Donald Trump mengejar dan menyuarakan agenda yang berseberangan dengan agenda konservatif yang kami usung semala empat tahun masa pemerintahan dulu. Dan itu kenapa saya tidak bisa dengan secara sadar untuk memberikan dukungan kepada Donald Trump dalam kampanye kali ini,” kata Pence.
Bekas wakil presiden AS itu menolak mengatakan siapa tokoh yang dia dukung untuk menjadi presiden AS.
“Saya akan menyimpannya untuk diri saya sendiri… Namun saya tegaskan bahwa itu bukan Biden,” ujarnya.
“Saya tidak akan pernah memilih Joe Biden,” tegas Pence. “Saya seorang Republican.”*