Hidayatullah.com– Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina mengundurkan diri dan kabur ke negara sekutunya India dengan helikopter bersama adik perempuannya Sheikh Rehana. Kabar kepergian Sheikh Hasina dikonfirmasi oleh kepala staf angkatan bersenjata.
Kepala Staf Bersenjata Jenderal Waker-Uz-Zaman mengatakan kepada awak media bahwa dia mengambil alih kendali pemerintahan “di masa kritis bagi negara kami” dan akan membentuk pemerintahan sementara.
“Saya mengambil tanggung jawab sekarang dan kami akan menemui presiden dan meminta pembentukan pemerintahan sementara guna memimpin negara untuk saat ini,” kata jenderal bintang empat itu hari Senin (5/8/2024).
Hasina, 76, yang memerintah Bangladesh sejak 2009, kabur dengan menggunakan helikopter, kata sebuah sumber yang dekat dengan pemimpin Bangladesh itu kepada AFP, tidak lama massa pengunjuk rasa menerobos masuk istana tempat tinggal resmi perdana menteri di ibu kota, Dhaka.
PM Sheikh Hasina menghadapi demonstrasi massa menuntut penghapusan sistem kuota penerimaan pegawai pemerintahan yang mengistimewakan anak keturunan pejuang kemerdekaan dan pendukung kekuasaan Hasina.
Aksi protes terus berlanjut meskipun Mahkamah Agung sudah membatalkan sistem kuota itu, disebabkan banyak warga yang tewas akibat tindakan keras aparat. AFP melaporkan per hari Ahad korban nyawa sudah mencapai 94, meskipun laporan lain menyebutkan sudah lebih dari 100 orang.
Protes kemudian berubah menjadi tuntutan supaya Sheikh Hasina mundur dari kekuasaan. Gerakan anti-pemerintah itu kemudian menarik dukungan banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat – termasuk aktor, musisi dan penyanyi – di negara Asia Selatan yang berpenduduk sekitar 170 juta jiwa itu.
Dalam paparan pers di markas militer, Jenderal Zaman berjanji akan menyelidiki kasus-kasus kematian tersebut.
Pemerintahan Hasina dituduh oleh kelompok-kelompok peduli hak asasi manusia menyalahgunakan institusi negara untuk memperkuat kekuasaannya dan memberantas perbedaan pendapat, termasuk melalui pembunuhan para aktivis oposisi.*