Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
BeritaKajian

Bahaya Maksiat dan Durhaka pada Orang Tua di Bulan Sya’ban

Ahmad
Terakhir diupdate: 22 Februari 2025 21:32 9:32 pm
Ahmad
Dipublikasikan 22 Februari 2025 21:26
Bagikan
Bagikan

Setiap Muslim untuk memperbanyak ibadah, meningkatkan ketaatan, dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan

Hidayatullah.com  | BULAN Sya’ban adalah “permata” yang sering kali terlupakan di antara bulan-bulan lainnya. Seharusnya, ini menjadi waktu untuk membersihkan hati dan memperkokoh iman, sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh berkah.

Inilah saatnya bagi setiap Muslim untuk memperbanyak ibadah, meningkatkan ketaatan, dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Sayangnya, ada sebagian orang yang justru terperangkap dalam kelalaian, menghabiskan bulan ini dengan perbuatan yang tidak bermanfaat, bahkan sampai berani durhaka kepada orang tua dan bermaksiat kepada Allah.

Kisah berikut ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang masih enggan menerima nasihat kebaikan.

Baca Juga

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Betapa bahayanya durhaka kepada orang tua, karena doa mereka terhadap anaknya adalah doa yang mustajab. Dalam sebuah hadits disebutkan:

ثَلَاثُ دَعْوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga doa yang pasti dikabulkan, tidak ada keraguan padanya: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Seorang anak yang tidak menghormati dan menyakiti hati orang tuanya bisa saja merasakan akibat buruk dari perbuatannya, sebagaimana kisah tragis yang menimpa seorang pemuda bernama Manazil bin ‘Adi. Kisah ini bisa dibaca dalam buku Syekh Mahmud Al-Mishri berjudul “Qashahs ash-Shaalihiin wa ash-Shaalihaat”.

Manazil bin ‘Adi adalah seorang pemuda yang terkenal dengan kemaksiatan, kelalaian, dan kesenangan duniawi. Ia tidak pernah menjauh dari perbuatan dosa, bahkan ketika bulan Sya’ban dan Ramadhan tiba, ia tetap dalam kemaksiatannya.

Ayahnya adalah seorang lelaki yang lembut hati dan penuh kasih sayang, yang tidak pernah lelah menasihatinya agar kembali ke jalan yang benar.

Ayahnya sering mengingatkan: “Wahai anakku, sesungguhnya Allah memiliki azab yang sangat pedih. Dia mengawasi setiap gerak-gerikmu, baik di malam maupun siang hari. Jangan sampai engkau terkena murka dan siksa-Nya.”

Sayangnya, Manazil tidak mau mendengar. Ia justru semakin durhaka, bahkan tega memukul ayahnya. Pukulannya kian keras setiap kali orang tuanya memberi nasihat.

Ayahnya pun tetap bersabar, tetapi akhirnya  ia bertekad untuk berpuasa terus-menerus dan berdoa kepada Allah agar memberikan balasan atas kedurhakaan anaknya.

Ketika musim haji tiba, ayahnya pergi ke Mekkah. Di sana, ia berdoa di hadapan Ka’bah: “Ya Allah, Engkau yang didatangi oleh para jamaah haji dari berbagai penjuru dunia. Mereka berharap rahmat dan ampunan-Mu. Aku memohon kepada-Mu agar Engkau mengambil hakku dari anakku.”

Seketika itu juga, doa sang ayah dikabulkan. Manazil tiba-tiba lumpuh pada sisi kanan tubuhnya dan menjadi bahan perbincangan orang-orang yang melihatnya di sekitar Masjidil Haram.

Manazil akhirnya menyadari kesalahannya dan pergi menyusul ayahnya ke Mekkah untuk meminta maaf. Namun, saat ia tiba di sana, ayahnya sudah selesai berdoa. Dengan penuh penyesalan, ia meminta agar ayahnya memohonkan kesembuhan untuknya. Sang ayah, yang masih memiliki kasih sayang kepadanya, akhirnya luluh dan berjanji akan mendoakannya.

Tahun berikutnya, Manazil kembali ke Mekkah bersama ayahnya. Namun, di tengah perjalanan, sebuah insiden terjadi. Seekor burung yang terkejut terbang dari sarangnya, menyebabkan unta yang ditumpangi ayahnya kaget dan menjatuhkannya. Akibatnya, ayahnya meninggal dunia seketika.

Manazil semakin terpukul dan menyesali semua yang telah ia lakukan. Sejak saat itu, ia tidak pernah berhenti menangis, memohon ampunan Allah, dan beribadah di Baitullah dengan penuh ketundukan.

Kisahnya menjadi peringatan bagi siapa saja agar tidak meremehkan durhaka kepada orang tua. Kisah ini mengandung beberpaa pelajaran penting:

Pertama, Jangan Menghabiskan Bulan Sya’ban dengan Maksiat. Bulan ini adalah waktu untuk bersiap menyambut Ramadhan. Gunakan kesempatan ini untuk bertobat dan memperbanyak amal shaleh.

Para salafus saleh, ketika memasuki bulan Sya’ban, mereka sibuk melakukan amal saleh berupa membaca Al-Qur’an, sedekah dan lain sebagainya sebagai persiapan menyongsong Ramadhan. Bahkan bulan ini disebut “Syahrul Qurraa” (Bulan Para Pembaca Al-Qur’an).

Lebih jauh lagi, bulan ini diibaratkan sebagai bulan untuk merawat tanaman yang sudah ditanam di bulan Rajab yang akan dipetik hasilnya pada bulan Ramadhan.

Kedua, durhaka kepada orang tua adalah dosa besar.

Doa orang tua bisa menjadi berkah atau bencana bagi anaknya. Hormati dan taati mereka sebelum terlambat. Sesabar apapun orang tua, terkadang juga ada batasnya, maka selagi sempat, jangar membuatnya murka dengan kedurhakaan kita.

Ketiga, sanksi Allah nyata dan bisa datang kapan saja. 

Manazil mengalami akibat dari dosa-dosanya di dunia sebelum di akhirat. Ini menunjukkan bahwa maksiat membawa konsekuensi yang nyata.

Keempat, pintu tobat selalu terbuka.

Meski Manazil terlambat menyadari kesalahannya, ia akhirnya bertaubat dan menghabiskan sisa hidupnya dalam ibadah. Allah Maha Pengampun bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya dengan tulus.

Melalui kisah ini para pembaca bisa menjadikannya pelajaran agar tidak menunda tobat dan senantiasa menjaga hubungan baik dengan orang tua. Ibarat nasih sudah jadi bubur, jangan sampai penyesalan datang ketika segalanya sudah terlambat.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bukan ramadhanBulan Sya'banHeadlineibadahmaksiatPilihan RedaksiTarhib Ramadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dosen Univeritas Harvard Mengundurkan Diri karena Ada ‘Bias Anti-Muslim’
Tulisan selanjutnya Mencerahkan “Indonesia Gelap” dalam Perspektif Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

3 Juni 2026 06:00
Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

2 Juni 2026 21:41
Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

2 Juni 2026 19:00
Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

2 Juni 2026 18:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?