Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Status Pengungsi Dicabut Orang Suriah di Austria Tidak Bisa Tidur

Ama Farah
Terakhir diupdate: 5 Maret 2025 13:43 1:43 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 5 Maret 2025 13:43
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Kekhawatiran menghantui orang Suriah di Austria, setelah pemerintah setempat memutuskan mencabut status pengungsi dan akan memulangkan mereka kembali ke negara asalnya, menyusul tumbangnya rezim Bashar Assad.

Pengungsi Suriah bernama Khaled Alnomman mengaku berusaha keras untuk berintegrasi sejak melarikan diri ke Austria 10 tahun silam, belajar bahasa Jerman sampai lancar, mendapatkan pekerjaan sebagai tukang bangunan dan mengajukan status kewarganegaraan.

Bungsu dari keempat anaknya dilahirkan di Austria dan tiga lainnya merasa sudah seperti orang Austria karena mereka dibesarkan di negara bersalju itu.

Namun, ketika mereka menyambut gembira kejatuhan rezim Assad pada bulan Januari, kehidupan mereka menjadi tidak jelas setelah mendapatkan sebuah surat dari otoritas Austria yang menyatakan bahwa status penging mereka akan dicabut.

“Rasanya seperti pisau menikam jantung,” kata pria berusia 42 tahun itu kepada AFP, dengan ekspresi menahan emosi.

Baca Juga

Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah
22 Persen Yahudi ‘Israel’ Dukung Usir Warga Palestina ke Luar Negeri
Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS
Perang Iran Dongkrak Penjualan Truk Listrik China
Qatar Bantah Menahan Pilot Iran

Sentimen anti-migran semakin marak di masyarakat Austria, terlebih ketika seorang remaja 14 tahun tewas dan lima lainnya terluka akibat aksi penikaman yang dilakukan oleh pria berusia 23 tahun pencari suaka asal Suriah di kota Villach.

Meskipun seorang pengungsi Suriah lain dipuji sebagai pahlawan setelah menabrakkan mobilnya guna menghentikan aksi pelaku, Alnomman mengatakan peristiwa itu merupakan “bencana” bagi orang Suriah yang tinggal di negeri bersalju itu.

“Kejadian itu berdampak sangat buruk bagi kami. Disebabkan Si Bodoh itu, sekarang kami semua harus menanggungnya,” ujar Alnomman.

Sejumlah negara Eropa menghentikan permohonan suaka dari orang-orang Suriah pada bulan Desember 2024, setelah rezim Assad digulingkan dan mendorong banyak orang Suriah ingin pulang kembali ke kampungnya.

Namun, Austria – yang menampung hampir 10.000 pengungsi Suriah – bertindak lebih jauh dengan menghentikan program reunifikasi keluarga pengungsi dan mulai mencabuti status pengungsi sekitar 2.900 orang Suriah, menurut data terbaru.

Pemerintah koalisi yang baru mendapatkan tekanan dari oposisi kanan-jauh Partai Kebebasan, yang muncul sebagai partai terbesar di usai pemilu Uni Eropa bulan September tahun lalu.

Partai itu juga berjanji akan memperluas penghentian program reunifikasi pengungsi dari negara-negara lain.

Para pakar suaka mengatakan bahwa surat pemberitahuan pencabutan status pengungsi tidak berarti orang-orang Suriah akan dilucuti dari haknya untuk tetap tinggal dalam waktu dekat. Namun, diakui surat itu memang menimbulkan keresahan di kalangan komunitas itu.

“Kami tidak bisa tidur waktu malam. Semua orang Suriah sekarang ketakutan,” kata Alnomman.

“Saya terus merasa tertekan sejak menerima surat itu,” imbuhnya.

“Mereka tidak menginginkan kami. Kesalahan apa yang sudah kami perbuat?” ujarnya keheranan.

Penghentian program reunifikasi sudah memukul banyak orang.

Ahmed Elgrk, pria berusia 37 tahun yang bekerja sebagai pengantar makanan di Vienna, terakhir kali melihat istri dan lima anaknya empat tahun silam ketika melarikan diri dari Suriah.

Dia berharap besar akan dapat membawa mereka ke Austria setelah mengumpulkan berkas dokumen yang diperlukan tahun lalu.

Dia bahkan sudah membeli tempat tidur untuk anak-anaknya yang berusia 4 sampai 14 tahun, ketika tiba-tiba menerima surat tentang pencabutan status suakanya. Dia kemudian mendapatkan pemberitahuan bahwa keluarganya tidak akan mendapatkan visa

.“Saya tertawa – bukan karena bahagia, tetapi karena kepedihan. Itu sangat menyakitkan bagi seluruh keluarga saya,” kata Elgrk kepada AFP.

“Selama empat tahun saya mengatakan kepada keluarga, ‘Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai’. Saya sudah mempersiapkan segalanya,” kata pria asal Idlib tersebut, yang mengaku takut dipersekusi oleh pemerintahan baru yang dikuasai kelompok Muslim apabila dia kembali ke Suriah.

Austria menawarkan 1.000 euro kepada orang-orang Suriah yang bersedia dengan sukarela pulang ke negeri asalnya Sejauh ini hanya 100 orang yang mengambil tawaran itu, menurut data terbaru dari pemerintah.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan program repatriasi dan deportasi teratur ke Suriah, meskipun mengaku bahwa saat ini masih belum dimungkinkan dan masih belum dijamin hukum karena peraturannya belum ada.

Menteri Dalam Negeri Gerhard Karner bahkan mengaku akan berusaha melegalisasi “pemeriksaan acak” terhadap rumah-rumah tempat tinggal para pencari suaka asal Afghanistan dan Suriah, menyusul insiden penikaman di Villach.

Dia juga bertekad untuk “bekerja 24 jam” untuk meredam arus migram masuk ke Austria.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Austriapengungsisuriah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Jenaka Bulan Puasa 3: Puasa Senin dan Kamis Dikerjakan, Puasa Ramadhan Ditinggalkan
Tulisan selanjutnya Bom Bunuh Diri di Lokasi Militer Pakistan 18 Orang Tewas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

LPPOM Raih Indonesia Public Relations Awards 2026 Kategori Corporate Reputation

Berita
11 Agustus 2026 14:30
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Erdogan: ‘Israel’ Ingin Hapus Palestina, Mendukung Kemerdekaannya adalah Tanggung Jawab Umat Islam
Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah, Dorong Media Tetap Cepat, Akurat dan Harus Benar di Era Digital
Ratusan Warga Yunani Gelar Demo Dukung Palestina, ‘Israel’ Minta Warganya Sembunyi

Terbaru

  • Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
  • Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah
  • 22 Persen Yahudi ‘Israel’ Dukung Usir Warga Palestina ke Luar Negeri
  • Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS
  • Perang Iran Dongkrak Penjualan Truk Listrik China
  • Qatar Bantah Menahan Pilot Iran
  • Tidak Becus Tandai Kecurangan NTU Hentikan Penggunaan Detektor AI
  • Pakai Toilet Umum Kaum Hawa Disuruh Bayar Kaum Adam Gratis, Wanita Austria Ini Menggugat
  • Banyak Peluncuran Satelit Eropa Terancam Kekurangan Roket
  • Redam Aksi Protes PM Modi Janjikan Pelatihan AI Gratis untuk Pelajar India

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Tidak Becus Tandai Kecurangan NTU Hentikan Penggunaan Detektor AI

16 Agustus 2026 14:49
Berita

Pakai Toilet Umum Kaum Hawa Disuruh Bayar Kaum Adam Gratis, Wanita Austria Ini Menggugat

16 Agustus 2026 10:55
Berita

Banyak Peluncuran Satelit Eropa Terancam Kekurangan Roket

16 Agustus 2026 10:17
Berita

Redam Aksi Protes PM Modi Janjikan Pelatihan AI Gratis untuk Pelajar India

16 Agustus 2026 09:46
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?