Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Bungkam Kebebasan, Mahasiswa MIT Dilarang Wisuda karena Bela Palestina

Ahmad
Terakhir diupdate: 4 Juni 2025 14:37 2:37 pm
Ahmad
Dipublikasikan 4 Juni 2025 14:36
Bagikan
Megha Vemuri mahasiswa MIT
Bagikan

Hidayatullah.com– Megha Vemuri, mahasiswa India-Amerika dan Presiden Kelas di Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengalami penolakan mengikuti upacara wisuda kampusnya pada Mei 2025.

Keputusan ini muncul setelah Megha secara terbuka menyuarakan dukungan untuk Palestina, yang dianggap kontroversial oleh pihak kampus.

Berita ini menjadi sorotan media internasional karena menyangkut kebebasan berekspresi dan isu politik global di lingkungan akademik.

Megha Vemuri in MIT graduation ceremony, calls to boycott Israel 🇮🇱

Megha is Indian origin whose Parents are hardcore communists. They migrated to US from an place in India 🇮🇳 that used to-be a communist hotbed

She’s comes from a Communist family and they ally with Islamists. pic.twitter.com/oCRm4Be2IJ

— Rudra Verma (@RudraVerma9999) May 30, 2025

Menurut laporan The Guardian, Megha Vemuri dilarang menghadiri upacara wisuda karena aktivitasnya mendukung rakyat Palestina yang tengah menghadapi konflik di wilayah Gaza dan Tepi Barat.

“Keputusan kampus ini telah memicu perdebatan sengit tentang kebebasan berpendapat dan peran mahasiswa dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan,” tulis The Guardian dalam artikel berjudul “MIT student barred from graduation over Palestine support”.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Megha, yang dikenal sebagai pemimpin mahasiswa yang vokal dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial, sebelumnya telah berpartisipasi dalam beberapa aksi solidaritas dengan Palestina.

Ia juga mengorganisir diskusi dan seminar di MIT yang membahas genosida ‘Israel’ atas Gaza dari perspektif kemanusiaan dan hak asasi manusia.

Media Al Jazeera mencatat bahwa kampus menilai tindakan Megha sebagai tindakan politik yang “mengganggu ketertiban” dan “mengancam reputasi institusi”.

 “Saya percaya bahwa mahasiswa harus berani berbicara untuk keadilan dan kemanusiaan, terutama ketika ada penderitaan yang begitu besar. Saya kecewa dengan keputusan ini, tapi saya tidak akan berhenti memperjuangkan apa yang saya yakini benar,” ujarnya  pada Al Jazeera.

Pernyataan ini mendapat perhatian luas, terutama di kalangan pendukung kebebasan akademik dan hak asasi manusia.

Sementara itu, MIT dalam sebuah pernyataan resmi kepada CNN menegaskan bahwa kebijakan mereka bertujuan menjaga netralitas kampus dan menghindari konflik di lingkungan akademik.

“Kami menghormati hak setiap mahasiswa untuk berpendapat, namun kami juga harus memastikan bahwa kegiatan kampus tetap kondusif dan tidak menimbulkan gangguan. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek,” dalih MIT dikutip CNN.

Kasus ini memicu reaksi keras dari berbagai organisasi mahasiswa dan kelompok hak asasi manusia.

Human Rights Watch menyebut keputusan MIT sebagai “langkah mundur dalam kebebasan akademik dan berekspresi.”

Dalam sebuah rilis pers yang dikutip oleh Reuters, organisasi tersebut menekankan pentingnya kampus sebagai ruang terbuka bagi diskusi kritis, terutama mengenai isu-isu yang bersifat global dan kemanusiaan.

Reaksi serupa datang dari komunitas mahasiswa India-Amerika yang menyatakan solidaritas kepada Megha.

“Megha adalah suara penting yang berani menyuarakan isu-isu sulit. Kami mengecam tindakan kampus yang membatasi haknya untuk berbicara,” kata perwakilan organisasi mahasiswa India-Amerika dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Kasus Megha Vemuri menjadi simbol perdebatan yang lebih luas tentang batasan kebebasan berekspresi di perguruan tinggi, terutama terkait isu-isu politik internasional yang sensitif.

Media The New York Times menulis, “Insiden ini menyoroti tantangan perguruan tinggi dalam menyeimbangkan antara menjaga ketertiban dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bersuara dalam dinamika dunia yang semakin kompleks.”

“Vemuri mengkritik hubungan MIT dengan militer ‘Israel’ dan menyatakan solidaritas dengan Palestina, mengenakan kaffiyeh sebagai simbol perlawanan. Pidatonya menyimpang dari pernyataannya yang telah disetujui sebelumnya, yang menyebabkan kampus melarang dia dan keluarganya menghadiri wisuda,” ujar Khaled A. Beydoun, Associate Professor of Law di Sandra Day O’Connor College of Law, Arizona State University.

Khaled A. Beydoun adalah seorang penulis yang dikenal luas karena keahliannya dalam isu Islamofobia, mengatakan; hukum konstitusi, dan hak-hak sipil.

Sampai saat ini, Megha terus mendapat dukungan dari berbagai pihak dan bertekad melanjutkan perjuangannya.

Kasus ini pun menjadi peringatan bagi institusi pendidikan tinggi agar lebih bijak dalam mengelola ekspresi politik mahasiswa, terutama yang menyangkut isu-isu kemanusiaan yang mendalam.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:mahasiswa India-Amerika dan Presiden Kelas di Massachusetts Institute of TechnologyMegha VemuriMITpalestinawisuda
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Survei YouGov: Dukungan Publik Eropa terhadap ‘Israel’ Semakin Menurun
Tulisan selanjutnya Puncak Haji Dimulai, 203 Ribu WNI Mulai Bergerak ke Arafah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

17 Juli 2026 15:23
Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

15 Juli 2026 21:36
Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

15 Juli 2026 21:25
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?