Hidayatullah.com– Petinju profesional Irlandia, Jono Carroll, mendapat sorotan internasional usai dihina secara Islamofobik oleh petarung UFC Conor McGregor. Dalam sebuah unggahan di media sosial, McGregor menyebut Carroll sebagai “Carpet Licker” atau “penjilat karpet”, merujuk pada kebiasaan Muslim sujud dalam shalat.
Komentar bernada ejekan tersebut muncul setelah Jono Carroll mengumumkan dirinya resmi memeluk Islam pada April 2024 lalu. Carroll, yang dikenal dengan gaya bertarung agresif dan kepribadian rendah hati, langsung memberikan tanggapan tenang atas hinaan tersebut.

Dalam video yang dibagikan di akun media sosialnya, seperti dilaporkan Middle East Monitor (18/7/2025), Carroll mengatakan, “Saya tidak marah. Saya merasa kasihan padanya. Saya berdoa agar Allah memberikan Conor hidayah dan membukakan hatinya kepada kebenaran.” Ia menambahkan bahwa tidak semua orang bisa memahami kedamaian yang dirasakannya setelah menjadi Muslim.
Carroll juga menyampaikan rasa syukurnya karena telah diberikan kelembutan hati dan petunjuk oleh Allah. “Saya lebih bahagia sekarang. Saya tidak membenci siapa pun. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa menjadi Muslim membuatku menjadi orang yang lebih baik,” ujarnya seperti dikutip Indy100 (19/7/2025).
Kata-kata McGregor menuai kritik keras di berbagai platform, terutama dari komunitas Muslim dan pecinta olahraga. Ini bukan kali pertama McGregor terlibat dalam kontroversi dengan sentimen anti-Islam. Sebelumnya, ia pernah menghina istri petarung Muslim asal Dagestan, Khabib Nurmagomedov, dengan menyebutnya “handuk”, serta mengejek ayah Khabib yang telah meninggal karena COVID-19, menyebutnya “pecundang pengecut”.
Sikap McGregor tersebut telah dikutuk oleh banyak pihak, termasuk jurnalis olahraga dan komunitas UFC sendiri. Namun, tak ada permintaan maaf resmi yang dikeluarkan McGregor hingga berita ini diturunkan.
Kisah Jono Carroll menjadi penyeimbang di tengah gelombang ujaran kebencian. Dikenal sebagai petinju yang sebelumnya hidup keras, Carroll mengatakan bahwa Islam menyelamatkannya dari kehampaan spiritual. Ia kini rutin menjalankan shalat, berpuasa, dan belajar Al-Qur’an.
“Islam memberi saya arah hidup. Saya menemukan makna dalam hal-hal kecil. Saya ingin memperbaiki diri, menjadi ayah dan suami yang lebih baik,” ungkap Carroll dalam wawancara eksklusif dengan Middle East Monitor.
Keteladanan Carroll memunculkan dukungan luas dari umat Islam di Eropa dan Timur Tengah. Banyak yang menyebut bahwa Carroll menunjukkan contoh nyata dari akhlak Islam yang lembut, bahkan kepada orang yang menghina sekalipun.
Seorang juru bicara komunitas Muslim Irlandia menyatakan, “Jono telah menjadi teladan. Dia membalas kebencian dengan doa. Itulah kekuatan Islam.”
Sungguh beruntung orang yang diberi kelembutan hati setelah masuk Islam, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Isra: 97).*




