Hidayatullah.com—Pemerintah Republik Rakyat China secara resmi memblokir akses ke platform OnlyFans, menyusul penilaian bahwa konten platform berlangganan tersebut bertentangan dengan nilai moral dan budaya nasional.
Keputusan ini diumumkan oleh Cyberspace Administration of China (CAC) pada Selasa, 15 Juli 2025, dan diberitakan secara langsung oleh media-media China dan internasional.
Menurut laporan media teknologi Tech in Asia, regulator internet China menuding OnlyFans sebagai “Western influence” yang merusak moral dan budaya masyarakat China.
Media tersebut menyatakan bahwa tindakan ini adalah ujung tombak dari agenda Beijing untuk memperketat pengawasan konten daring dan menjaga stabilitas sosial.
Sementara itu, Inside Telecom menyebut pemblokiran ini sebagai bagian dari “digital moral governance” China. Meskipun platform ini sempat dapat diakses melalui VPN maupun pembayaran pihak ketiga, akses itu kini sepenuhnya ditutup.
Inside Telecom juga menegaskan bahwa pemerintah menilai OnlyFans sebagai simbol “dekadensi moral Barat” yang dinilai berpotensi membahayakan budaya nasional.
Sebuah laporan dari Central News, media Afrika Selatan, juga memberikan penekanan bahwa otoritas China menyebut konten OnlyFans sebagai “Western moral decay” dan “corrupt Western disease”, yang dinilai merusak keharmonisan sosial dan integritas budaya nasional.
Central News mencatat bahwa meskipun platform tersebut pernah sempat terbuka via VPN pada akhir 2024, pemerintah kini mengambil langkah yang lebih tegas dan permanen.
Masuk lebih dalam ke pesan resmi CAC, yang dikutip oleh RADII, regulator mempertegas bahwa OnlyFans “tidak sejalan dengan nilai-nilai inti sosialisme dan tradisi moral Tiongkok”.
Pemblokiran ini menjadi bagian dari tindakan lanjutan setelah pencabutan akses platform asing seperti Instagram, Reddit, dan beberapa judul video game.
CAC menegaskan bahwa penumpasan “spiritual pollution” dan “degenerasi Barat” akan terus menjadi prioritas utama dalam regulasi konten digital.
Dampak bagi pengguna dan influencer
Walaupun OnlyFans sebelumnya tidak resmi tersedia di daratan China, ribuan konten kreator – terutama KOL (Key Opinion Leaders) – memanfaatkan VPN dan sistem pembayaran internasional untuk menjangkau pasar global.
Berdasarkan artikel RADII, banyak di antara mereka yang memperoleh pendapatan signifikan. Pemblokiran total ini diperkirakan akan menghilangkan saluran penghasilan tersebut dan memaksa kreator untuk beralih ke platform lokal seperti WeChat, Bilibili, atau Zhihu yang dikontrol ketat oleh pemerintah.
Reaksi pengguna di platform lokal seperti Weibo bervariasi. Meski beberapa pengguna menanggapi pencabutan akses OnlyFans dengan guyonan, menganggap ini menjadi “solusi pengangguran kaum muda”, banyak pula yang mempertanyakan efektivitas larangan semacam ini dalam era VPN dan internet global.
Namun pemerintah menegaskan bahwa regulasi terhadap VPN juga akan diperketat, termasuk sanksi administratif bagi provider VPN tidak resmi.
Pornografi telah dilarang di China sejak 1949, dan CAC melalui kebijakan Golden Shield–Great Firewall secara aktif memblokir konten semacam itu, tulis Inside Telecom.
Sejak akhir 1990-an, semua platform asing yang dianggap “mengancam moral publik” secara rutin diblokir. Aksi terakhir terhadap OnlyFans merupakan hal yang konsisten dengan kebijakan anti-obscenity yang dijalankan sejak lama.*




