Hidayatullah.com – Ikhwanul Muslimin di Yordania pada Selasa mengumumkan pembubaran dirinya di tengah tekanan pemerintah yang sebelumnya melarang gerakan tersebut.
“Demi kesetiaan kepada tanah air kami, kepemimpinan Hasyimiyah kami, dan sejalan sepenuhnya dengan rasa kebangsaan kami, kami mengumumkan pembubaran diri kami sebagai badan yang sah secara hukum,” bunyi pernyataan pembubaran diri Ikhwanul Muslimin, Selasa (22/07/2025).
Keputusan itu diambil, lanjut Ikhwanul Muslimin, demi stabilitas, keamanan nasional, legitimasi kepemimpinan dan kesejahteraan generasi mendatang yang menjadi nilai-nilai gerakan tersebut.
Pada April 2025, Yordania mengumumkan melarang total gerakan Ikhwanul Muslim setelah menuduhnya merencanakan serangan dan menimbun senjata.
“Telah diputuskan untuk melarang semua kegiatan yang disebut Ikhwanul Muslimin dan menganggap setiap kegiatan (yang dilakukan olehnya) sebagai pelanggaran terhadap ketentuan hukum,” ujar Menteri Dalam Negeri Mazen al-Faraya kepada wartawan saat itu.
“Juga telah diputuskan untuk menutup semua kantor atau markas yang digunakan oleh kelompok tersebut, meskipun bermitra dengan partai lain,” tambahnya.
Sejak itu, pemerintahan Abdullah II melakukan penggerebekan kantor Ikhwanul Muslimin dan menyita dokumen mereka.
Langkah tersebut diambil tak lama setelah Amman mengatakan polisi menangkap 16 orang, termasuk anggota Ikhwanul Muslimin, atas dugaan rencana sabotase.
Kelompok tersebut membantah mengetahui adanya rencana tersebut, dan menganggapnya sebagai tindakan serigala tunggal oleh individu yang mendukung Palestina di tengah genosida yang sedang dilakukan ‘Israel’ di Gaza.
Meskipun dilarang, Ikhwanul Muslimin tetap menjadi kelompok berpengaruh di Kerajaan Hasyimiyah karena sayap politik kelompok tersebut, Front Aksi Islam, adalah partai oposisi utama Yordania dan yang terbesar di parlemen, setelah memenangkan 31 dari 138 kursi dalam pemilihan September lalu.
Ibu kota Amman merupakan lokasi beberapa kantor Ikhwanul Muslimin. Kelompok ini sering mengeluarkan pernyataan dan mengorganisir aksi solidaritas dengan Palestina, terutama sejak dimulainya perang ‘Israel’ di Gaza pada Oktober 2023.
Ikhwanul Muslimin, yang dilarang di beberapa negara Arab lainnya, telah mendapatkan dukungan masyarakat Yordania selama beberapa dekade.*




