Hidayatullah.com — Sejumlah keluarga warga ‘Israel’ yang disandera di Gaza memulai pelayaran dramatis dari Siprus menuju Jalur Gaza pada hari Kamis (7/8/2025), dalam upaya putus asa untuk meningkatkan tekanan agar orang-orang yang mereka cintai dibebaskan.
Mereka membawa pesan keras kepada pemerintah ‘Israel’: “Invasi darat ke Rafah adalah hukuman mati bagi para sandera.”
Aksi ini diinisiasi oleh kelompok “Families for Freedom” (Keluarga untuk Kebebasan), yang mewakili kerabat dari sebagian sandera yang masih ditahan oleh kelompok pejuangan Hamas dan lainnya di Gaza sejak serangan 7 Oktober 2024.
Kapal mereka berlayar dari pelabuhan Larnaca, Siprus, dengan tujuan mendekati perairan Gaza, meskipun diperkirakan akan dicegat oleh Angkatan Laut ‘Israel’ sebelum mencapai zona terlarang.
“Kami tidak bisa menunggu lagi sementara orang yang kami cintai menghadapi kematian setiap hari di terowongan gelap,” teriak salah satu peserta dari geladak kapal, seperti dikutip oleh Reuters.
“Setiap operasi militer besar, terutama di Rafah di mana banyak sandera diduga ditahan, secara langsung membahayakan nyawa mereka. Pemerintah mengatakan prioritasnya adalah membawa mereka pulang, tetapi tindakannya justru mengutuk mereka,” ujarnya.
Peringatan keras ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi gencatan senjata dan pertukaran sandera antara ‘Israel’ dan pejuang Hamas.
Keluarga menuduh pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengorbankan nyawa sandera demi tujuan militer yang lebih luas.
Mereka menuntut agar pemerintah penjajah menerima kesepakatan apa pun yang diajukan mediator untuk segera membebaskan sandera, bahkan jika itu berarti menghentikan operasi militer di Rafah, kantong terakhir Hamas di Gaza selatan.
Angkatan Bersenjata ‘Israel’ (IDF) menanggapi pelayaran tersebut dengan pernyataan keras. Upaya provokatif semacam ini ditakutkan akan dimanfaatkan oleh pejuang Hamas untuk propaganda mereka, kata juru bicara IDF
“IDF beroperasi dengan cara yang sangat terukur untuk membebaskan sandera dan menetralisir ancaman Hamas, sambil meminimalkan risiko terhadap kepada warga sipil dan sandera sebisa mungkin,” ujar IDF dikutip The Times of ‘Israel’.
Media internasional, termasuk Associated Press (AP) dan Al Jazeera, melaporkan bahwa kapal keluarga tersebut kemungkinan besar akan dicegat oleh kapal perang ‘Israel’ jauh sebelum mencapai perairan Gaza, seperti yang terjadi pada upaya serupa sebelumnya.
Namun, aksi simbolis ini berhasil menarik perhatian global yang signifikan terhadap nasib para sandera dan ketegangan yang mendalam di antara masyarakat zionis mengenai kebijakan pemerintah penjajah.*




