Hidayatullah.com – Mesir melalui Kementerian Luar Negerinya mengecam keras pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mendukung visi “Israel Raya”. Kemenlu menilai pernyataan tersebut sebagai penolakan “proses perdamaian” dan meminta penjelasan resmi dari Tel Aviv.
Kemenlu Mesir, dalam pernyataannya, menegaskan kembali komitmen Kairo terhadap perdamaian dan keamanan regional, memperingatkan bahwa pernyataan Netanyahu memicu ketidakstabilan dan bertentangan dengan upaya internasional untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
Komentar Netanyahu disampaikan dalam wawancara pada 12 Agustus dengan penyiar Israel i24News, di mana ia menyatakan dukungan kuatnya terhadap visi teritorial “Israel Raya”.
Mantan anggota Knesset, Sharon Gal, memberinya sebuah jimat yang menggambarkan peta “Tanah Perjanjian”, yang tidak hanya mencakup wilayah Palestina yang diduduki, tetapi juga sebagian Yordania, Lebanon, Suriah, dan Mesir. Netanyahu mengatakan ia merasa “sangat” terhubung dengan peta ini, menyebut misinya “bersejarah dan spiritual”.
Ini bukan pertama kalinya Netanyahu menggunakan peta untuk mempromosikan narasi ekspansionis. Pada tahun 2023 dan 2024, ia memamerkan peta-peta kontroversial di Majelis Umum PBB yang tidak memasukkan negara Palestina, sembari menggambarkan perluasan perbatasan ‘Israel’. Para pengkritik mengatakan bahwa presentasi-presentasi ini menghapus solusi dua negara dan mengangkat visi dominasi regional.
Kemarahan Regional atas Klaim Teritori Israel
Tujuan ekspansionis Netanyahu memicu kemarahan di seluruh Asia Barat. Yordania mengecam pernyataan Netanyahu sebagai “eskalasi provokatif yang berbahaya,” menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional, sementara Arab Saudi menolak “proyek ekspansionis” pendudukan Israel, dan Qatar mengatakan pernyataan tersebut mencerminkan “arogansi” dan mengobarkan ketegangan regional.
Selain itu, Liga Arab menggambarkan pernyataan Netanyahu sebagai ancaman terhadap keamanan nasional Arab dan pelanggaran prinsip-prinsip PBB. Liga Arab memperingatkan bahwa pernyataan tersebut memperkuat pola pikir kolonial dan melemahkan inisiatif perdamaian.
Akar Ideologis ‘Israel Raya’
Gagasan “Israel Raya” berakar pada Zionisme revisionis awal, yang dipelopori oleh Ze’ev Jabotinsky, salah satu pendiri partai Likud Netanyahu. Gagasan ini membayangkan entitas ‘Israel’ yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich juga menyuarakan gagasan serupa, pernah memajang peta di Paris yang memasukkan Yordania ke dalam “Israel”. Ia merujuk pada masa depan di mana “Yerusalem meluas hingga Damaskus,” yang menempatkan nubuat Alkitab di garis depan politik Israel.*




