Hidayatullah.com – Militer Turki menerbangkan sejumlah jet tempurnya dari bandara di Diyarbakir dan Malatya pada Selasa menyusul serangan ‘Israel’ di Doha, Qatar yang menarget pemimpin Hamas.
Saksi mata, dilansir Middle East Eye pada Rabu (10/09/2025), mengaku melihat beberapa jet pada sore itu di dekat salah satu pangkalan udara utama Turki.
Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada MEE bahwa Angkatan Udara Turki mengerahkan jet-jet tambahan semalaman dan meningkatkan intensitas patroli udaranya di wilayah udara Turki.
“Belum ada pengumuman peringatan, tetapi patroli rutin telah ditingkatkan di wilayah dekat wilayah udara Suriah dan Irak,” kata seorang sumber.
Para pengamat militer menduga Angkatan Udara ‘Israel’ mungkin telah melintasi wilayah udara Suriah dan Irak, terbang di dekat perbatasan Saudi sebelum mencapai Doha dengan dukungan tanker pengisian bahan bakar udara.
Turki mengambil tindakan serupa selama konflik Iran-Israel pada bulan Juni, setelah radar mendeteksi aktivitas militer ‘Israel’ di wilayah tersebut.
Mantan kepala Departemen Intelijen AU Turki, Gursel Tokmakoglu, kepada MEE mengatakan bahwa mengintensifkan patroli udara merupakan tindakan pencegahan standar bagi militer Turki dalam menanggapi perkembangan semacam itu.
“Angkatan Udara mungkin juga telah mengerahkan pesawat Sistem Peringatan dan Kontrol Lintas Udara (AWACS) untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas terhadap wilayah udara di sekitarnya,” kata Tokmakoglu. Menurutnya militer tidak akan mengeluarkan peringatan nasional karena tidak ada ancaman khusus yang ditujukan kepada Turki.
Turki juga menampung tokoh Hamas
Serangan ‘Israel’ di Doha terhadap para pemimpin Hamas juga telah memicu spekulasi di media sosial bahwa pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dapat menargetkan tokoh-tokoh Hamas di Istanbul.
Hamas mendirikan kantor di Turki pada tahun 2011, sebagai bagian dari negosiasi yang menyaksikan pembebasan tentara ‘Israel’ Gilad Shalit. Turki saat ini menampung sekitar 40 anggota Hamas berdasarkan perjanjian tersebut.
Tokmakoglu menekankan bahwa Turki tidak akan bertindak berdasarkan spekulasi mengenai keamanannya.
Sementara itu, media berbahasa Ibrani menyatakan bahwa ‘Israel’ telah melacak para pemimpin Hamas selama beberapa waktu, menunggu hingga banyak dari mereka pindah dari Turki ke Doha sebelum melancarkan serangan.
Sebuah laporan terbaru dari media berita Ynet mengklaim bahwa Turki mengizinkan para pemimpin Hamas untuk tinggal di negara itu selama maksimal tiga bulan per kunjungan.*




