Hidayatullah.com – Angkatan laut penjajah ‘Israel’ kembali menyerang kapal-kapal Freedom Flotilla Coalition (FFC) yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza pada Rabu dini hari di perairan internasional, sekitar 120 mil laut dari Jalur Gaza. Juru bicara FFC menyebut ‘Israel’ membajak kesembilan kapal mereka.
“Pendudukan Israel kembali melakukan kejahatan perang di perairan internasional. Kami tidak akan berhenti.. Genosida harus dihentikan dan pengepungan harus dipatahkan,” menurut pernyataan Komite Internasional untuk Mematahkan Pengepungan di Gaza melalui X pada Rabu (07/10/2025).
Penjajah ‘Israel’ membajak kapal Abd Elkarim Eid, Alaa Al-Najar, Anas Al-Sharif, Gaza Sunbird, Leïla Khaled, Milad, Soul of My Soul, Um Saad, dan Conscience di perairan internasional hanya dalam satu jam.
Menurut Kementerian Luar Negeri zionis, pihaknya menggiring armada kapal tersebut ke pelabuhan ‘Israel’ dan akan segera mendeportasi semua relawan dan penumpangnya.
Kapal-kapal tersebut, menurut misi internasional, membawa bantuan senilai lebih dari $110.000 (setara Rp1,823 miliar) dalam bentuk obat-obatan, peralatan pernapasan, dan pasokan nutrisi untuk rumah sakit di Gaza.
FFC, yang didirikan pada tahun 2010, telah meluncurkan puluhan misi yang bertujuan untuk mengirimkan bantuan dan menarik perhatian global terhadap krisis kemanusiaan di Jalur Gaza yang dikepung ‘Israel’.
Konvoi terbaru berlayar setelah pasukan angkatan laut ‘Israel’ menyerang dan menyita lebih dari 40 kapal pekan lalu, bagian dari Armada Sumud Global, dalam upayanya menerobos blokade zionis, dan menahan lebih dari 450 aktivis di dalamnya. Sebagian besar dari mereka telah dideportasi.
‘Israel’, sebagai kekuatan pendudukan, telah menyerang kapal-kapal yang menuju Gaza, menyita kargo mereka, dan mendeportasi para aktivis yang berada di dalamnya.
Entitas zionis telah memberlakukan blokade di Gaza, rumah bagi hampir 2,4 juta orang, selama hampir 18 tahun dan semakin memperketat pengepungan pada bulan Maret ketika menutup penyeberangan perbatasan dan memblokir pengiriman makanan dan obat-obatan, yang menyebabkan daerah kantong itu dilanda kelaparan.
Sejak Oktober 2023, pemboman ‘Israel’ telah membunuh lebih dari 67.000 warga Palestina di daerah kantong itu, kebanyakan dari mereka perempuan dan anak-anak, dan membuatnya tidak layak huni. Negosiasi untuk mengakhiri perang berdasarkan rencana 20 poin yang diresmikan oleh Presiden AS Donald Trump sedang berlangsung di Mesir.*




