Hidayatullah.com – Pesawat Presiden Erdogan menolak mendarat di bandara Sharm el-Sheikh menjelang KTT “Perdamaian di Timur Tengah” pada Senin, di tengah kabar bahwa Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu akan hadir.
Pesawat Erdogan terlihat melewati landasan pacu dan melayang di atas wilayah Laut Merah “sebelum akhirnya mendarat di bandara dan disambut oleh para menteri Mesir berpangkat rendah”, lapor Anadolu Agency.
Presiden Trump diduga harus mencabut undangan Netanyahu setelah Erdogan mengatakan ia tidak akan mendaratkan pesawatnya di Mesir, dan akan kembali ke Ankara jika undangan untuk Netanyahu tetap berlaku.
Perebutan kekuasaan di udara dimulai setelah diumumkan bahwa Netanyahu telah menerima undangan di waktu-waktu akhir dari Trump ke KTT tersebut, yang dipimpin oleh Presiden AS dan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi.
Beberapa situs web pelacakan penerbangan menunjukkan pesawat Erdogan masih belum mendarat pada pukul 14:00 GMT, melenceng jauh dari jadwal pendaratan.
Menyusul pengumuman yang terlambat mengenai kehadiran Netanyahu di KTT tersebut, diketahui bahwa Erdogan secara pribadi berbicara kepada Sisi untuk menyampaikan keberatannya saat pesawatnya berada di atas Mesir.
CNN Türk juga melaporkan bahwa ketika laporan tentang keterlibatan Netanyahu beredar, tidak hanya Turkiye, tetapi beberapa delegasi yang berkunjung mengumumkan bahwa mereka tidak akan hadir, dan baru membatalkan keputusan mereka setelah kantornya mengumumkan ketidakhadirannya.
Namun, seorang pejabat senior Turki mengatakan kepada CNN bahwa otoritas Turki telah berkomunikasi langsung dan menghubungi AS untuk mendesak mereka membatalkan undangan kepada Netanyahu.
Netanyahu menolak undangan ke KTT karena ‘alasan agama’
Kantor Netanyahu kemudian melaporkan bahwa ia tidak akan menghadiri KTT tersebut karena hari raya Atzeret-Simchat Torah, yang dimulai pada Senin malam.
Para pemimpin zionis ‘Israel’ sebelumnya diketahui tidak bepergian pada hari Sabat dan hari raya Yahudi kecuali jika keadaan luar biasa mengharuskannya.
Kantor Netanyahu menyampaikan terima kasih kepada Trump atas undangan tersebut, dengan mengatakan bahwa Netanyahu “tidak akan dapat hadir karena acara tersebut berdekatan dengan awal hari raya”.
KTT tersebut juga menarik perhatian berbagai media mengenai bagaimana Netanyahu akan diterima seandainya ia hadir, mengingat beberapa kepala negara dan diplomat yang berkunjung tidak secara resmi mengakui ‘Israel’.
Sebut saja kehadiran delegasi dari Qatar, Pakistan, Irak, Indonesia, Kuwait, dan Oman, yang tidak satu pun mengakui ‘Israel’.
Hubungan Turki-AS
Trump dan Erdoğan baru-baru ini memulihkan hubungan diplomatik yang erat setelah kunjungan presiden Turki ke Gedung Putih pada 29 September, menjalin kerja sama militer dan menetapkan target perdagangan senilai $100 miliar antara kedua negara.
“Presiden Erdoğan luar biasa. Beliau sangat membantu, karena beliau sangat dihormati,” ujar Presiden Trump pada pertemuan puncak di Gaza, Senin.
Kehadiran Netanyahu juga akan memperumit sikap banyak negara Arab yang menandatangani surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional terhadap Netanyahu atas kejahatan perang di Gaza.
Politik rumit seputar kehadiran Netanyahu di KTT tersebut menunjukkan betapa sulitnya bagi negara-negara Muslim tertentu untuk menormalisasi hubungan dengan Israel seperti yang diharapkan Trump, mengingat ia menggambarkan gencatan senjata tersebut sebagai “fajar bersejarah Timur Tengah yang baru”.
Pertemuan puncak pada hari Senin berlangsung beberapa hari setelah Israel dan Hamas meratifikasi perjanjian gencatan senjata untuk “mengakhiri perang” dan bertukar sandera.
Kesepakatan gencatan senjata ini menandai fase pertama dari “rencana perdamaian” AS, yang mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, pelucutan senjata Hamas, dan pengerahan pasukan penjaga perdamaian internasional.
Gencatan senjata ini mengakhiri genosida di Gaza, yang menyebabkan setidaknya syahidnya 70.000 warga Palestina di tangan zionis ‘Israel’.*




