Hidayatullah.com – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Ahmad Muzani menegaskan kembali peran penting ulama dalam sejarah, pondasi, dan perjalanan bangsa Indonesia.
Dalam Munas XI MUI yang berlangsung pada 20-23 November 2025 dengan mengangkat tema: “Meneguhkan Peran Ulama Untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Rakyat.”
Muzani menyampaikan bahwa sejak sebelum republik berdiri, ulama telah menjadi kekuatan yang menggerakkan perlawanan terhadap penjajah, menanamkan nilai keadilan, serta membentuk kesadaran kebangsaan.
Menurut Muzani, jauh sebelum Indonesia merdeka, para ulama di berbagai daerah telah menanamkan keyakinan bahwa tindakan penjajah bertentangan dengan prinsip agama. “Itulah yang memompa heroisme melawan penjajah. Dari situlah nasionalisme tumbuh,” ujar Muzani dalam sambutannya di Mercure Convention Center Ancol, Kamis (20/11/2025).
Ulama, lanjut Muzani, menjadi perekat perjuangan kala itu. Ia menegaskan, sejak masa awal pembentukan republik, peran ulama tidak pernah terpisahkan dalam perjalanan bangsa. Ia merujuk pada dinamika awal kemerdekaan, termasuk perubahan Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945. Muzani menyebutkan dua ulama sebagai kunci utama saat itu. Yakni, Abdul Wahab Hasbullah dan Ki Bagus Hadikusumo.
“Perdebatan panjang antara kelompok Islam dan kekuatan kebangsaan akhirnya menyatu dan sepakat menggunakan Ketuhanan Yang Maha Esa. Umat Islam tidak kehilangan prinsipnya, karena intisari ajaran agama tetap menjadi landasan moral bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Muzani menggambarkan bahwa di banyak negara, perdebatan dasar negara yang melibatkan agama sering berujung konflik berkepanjangan dan pertumpahan darah. “Tapi di Indonesia, para ulama meredam itu semua. Kita berterima kasih kepada para ulama,” katanya.
Muzani juga mengingatkan bagaimana ulama berkali-kali menjadi penengah dalam persoalan negara, termasuk pada isu perempuan sebagai hakim di awal 1950-an, hingga perdebatan vaksinasi Covid-19. “Begitu Majelis Ulama Indonesia menyatakan vaksin halal, proses vaksinasi berlangsung lancar di seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Ulama, kata Muzani, selalu hidup sederhana dan mengabdikan hidupnya untuk umat. Mereka menjadi tempat mengadu masyarakat, mulai dari urusan nama bayi, jodoh, hingga panen dan kesehatan. Karena itu, ia menolak jika peran ulama hanya dijadikan pelengkap. “Jangan jadikan ulama seperti daun salam dalam masakan. Dicari untuk memberi aroma, penyedap, tapi dibuang saat makanan disajikan,” tegasnya.
Muzani menutup dengan menegaskan komitmen MUI untuk tetap bersama pemerintah. “Munas ulama ini meneguhkan, seperti yang disampaikan Kiai Ma’ruf Amin, bahwa MUI akan bersama Presiden Prabowo Subianto. Ulama tidak mau menjadi daun salam yang ditinggalkan,”pungkasnya disambut tawa hadirin.* Azim Arrasyid




