Hidayatullah.com – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya musyawarah nasional Majelis Ulama Indonesia yang ke-11, mengambil tema besar “Meneguhkan Peran Ulama untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Umat.”
Menurutnya, tema Munas XI memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan umat Islam hari ini. Isu kemandirian dan kesejahteraan merupakan kebutuhan mendasar masyarakat, namun belum menjadi fokus utama sebagian kalangan ulama dalam kiprah keagamaan mereka.
Karena itu, ia menilai Munas ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kontribusi ulama dalam dinamika kehidupan bangsa sekaligus memetakan arah peran ulama di tengah tantangan zaman. Padahal, ujarnya, sejarah ulama Nusantara menunjukkan kontribusi besar para kiai dan intelektual Muslim dalam pemberdayaan umat melalui pendidikan, ekonomi, hingga kekuatan sosial.
“Hidayatullah mengapresiasi tema yang diangkat. Tema kemandirian dan kesejahteraan bukanlah tema populer di kalangan beberapa ulama, meski secara historis keduanya sangat menyatu dalam peran-peran keulamaan,” jelas Naspi di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Lebih lanjut, Naspi juga melihat upaya mempertemukan kembali dimensi spiritual ulama dengan persoalan nyata masyarakat. Adanya kecenderungan sebagian aktivitas keulamaan yang lebih menekankan aspek ibadah mahdhah seperti shalat dan haji sehingga persoalan kemiskinan, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan umat sering berada di ruang yang terpisah.
“Kami memahami bahwa tema ini ingin lebih merekatkan antara eksistensi ulama sebagai payung umat dengan kebutuhan mendasar manusia yaitu kemandirian dan kesejahteraan, yang selama ini seakan terpisah dari kekhusyukan sebagian ulama pada tema-tema mahdhah,” terangnya. Dengan fokus tersebut, Naspi mendorong ulama untuk tampil sebagai pemimpin moral sekaligus penggerak sosial yang mampu menjawab problem-problem kontemporer umat.
Selanjutnya, Naspi Munas MUI juga sebagai momentum penting untuk menyegarkan kembali pemahaman mengenai tanggung jawab ulama dalam konteks modern. Rekonstruksi peran ulama, menurutnya, menjadi langkah strategis untuk memastikan kepemimpinan keagamaan mampu menjawab tantangan globalisasi, digitalisasi, perubahan sosial, hingga kebutuhan umat yang kian kompleks.
Ia menegaskan bahwa ulama tidak hanya dituntut memberikan tuntunan ibadah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif umat menuju kemandirian. Bentuk kemandirian yang dimaksud meliputi dimensi spiritual, intelektual, sosial, dan ekonomi. “Dengan merekonstruksi lebih utuh peran ulama, umat akan semakin tercerahkan dan tersantuni sehingga eksistensi ulama di hati umat juga akan semakin mengkristal,” tegasnya.
Terakhir, Naspi berharap agar Munas XI MUI menjadi momentum memperkokoh visi besar ulama Indonesia dalam membangun umat yang kuat, mandiri, dan sejahtera, sekaligus memperkuat peran MUI sebagai pengawal moral bangsa.*/Azim Arrasyid




