Hidayatullah.com – Sebuah laporan menyebutkan adanya peningkatan signifikan dalam boikot akademis yang menargetkan para peniliti dan institusi di ‘Israel’, bahkan setelah gencatan senjata di Gaza.
Disusun oleh Tim Pemantau Boikot Akademis, laporan tersebut menyatakan bahwa citra negatif Israel di Eropa tampak “begitu mengakar sehingga langkah politik saja tidak cukup untuk mengubah persepsi publik.”
Laporan juga mencatat bahwa gencatan senjata dalam perang genosida tidak mengurangi tekanan boikot. Sebaliknya, “yang terjadi justru sebaliknya,” dengan lonjakan kasus yang diajukan oleh institusi dan akademisi individu, tambah laporan tersebut.
Tim pemantau lantas memperingatkan bahwa semakin banyaknya lembaga pendidikan yang melakukan boikot akademis dapat mendorong pendidikan tinggi Israel ke dalam “isolasi berbahaya yang menimbulkan ancaman strategis nyata bagi reputasi internasionalnya.”
Penjajah ‘Israel’ semakin terisolasi
Pada pertengahan September, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengakui untuk pertama kalinya bahwa Israel telah memasuki “semacam isolasi,” dan mengatakan bahwa negara itu harus bersiap untuk ekonomi yang lebih mandiri.
Jumlah universitas Eropa yang memberlakukan boikot akademik total terhadap institusi ‘Israel’ telah meningkat menjadi 1.000 hingga November, menurut laporan tersebut.
Laporan tersebut juga mengutip kasus-kasus baru akademisi Eropa yang menolak berkolaborasi dengan rekan dan universitas ‘Israel’.
Dinyatakan pula dalam laporan bahwa pada tahun 2025 terjadi penurunan hibah penelitian yang diberikan kepada akademisi ‘Israel’ oleh dana Horizon Eropa Uni Eropa, sumber utama pembiayaan penelitian ilmiah untuk ‘Israel’.
Penurunan ini terkait dengan akademisi ‘Israel’ yang dikecualikan dari proyek kerja sama internasional yang mencari pendanaan Horizon.
Menurut laporan tersebut, 57 persen kasus boikot memengaruhi peneliti individu, terutama melalui pengucilan dari kelompok riset internasional, sementara 22 persen melibatkan boikot institusional antara universitas-universitas Eropa dan ‘Israel’, 7 persen terkait boikot yang diberlakukan oleh asosiasi profesi, dan 14 persen terkait penangguhan program internasional seperti pertukaran mahasiswa dan kemitraan pascadoktoral.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tren ini kemungkinan akan berlanjut, dengan menyatakan bahwa gerakan boikot “akan menyertai dunia akademis ‘Israel’ untuk waktu yang lama dan tidak akan mereda tanpa perubahan regional dan geopolitik yang besar.”
Sejak Oktober 2023, penjajah ‘Israel’ telah menyebabkan hampir 70.000 orang di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak, syahid dan melukai lebih dari 170.900 orang selama perang genosida dua tahun yang menghancurkan sebagian besar wilayah kantong tersebut.
Namun, penelitian baru mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas bisa mencapai lebih dari 100.000 orang.*




