Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

AS Dinilai Lindungi ‘Israel’ Lewat Penetapan Ikhwanul Muslimin sebagai Organisasi Teroris

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 November 2025 14:39 2:39 pm
Ahmad
Dipublikasikan 25 November 2025 14:35
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com— Langkah Amerika Serikat untuk menetapkan cabang-cabang Al-Ikhwan al-Muslimun sebagai organisasi “teroris” menuai kritik tajam dari para analis kebijakan luar negeri. Mereka menilai bahwa upaya tersebut lebih cenderung memperkuat kepentingan ‘Israel’, daripada semata-mata soal keamanan.

Namun, sejumlah lembaga dan analis menyoroti potensi politisasi dari penetapan ini. Center for American Progress memperingatkan bahwa labeling “Ikhwan sebagai teroris” bisa berdampak buruk bagi kebijakan keamanan AS dan kebebasan sipil Muslim-Amerika.

Dalam laporan mereka, disebutkan bahwa “tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah ancaman teroris terhadap keamanan dalam negeri AS”, dan tindakan ini dapat menjadi dasar untuk penyitaan aset, pengawasan masjid, serta menekan aktivitas komunitas Muslim.

Foreign Affairs, jurnal kebijakan luar negeri, menyatakan bahwa penetapan ini bisa melemahkan kredibilitas AS di mata dunia. “Jika AS melabelkan Ikhwan sebagai organisasi teroris, hal itu dapat mengikis pengaruh globalnya dan membuat negara lain menganggap keputusan ini sebagai langkah yang bersifat sewenang-wenang,” demikian pernyataan mereka dikutip Foreign Affairs.

Kritikus menilai bahwa agenda ini berpotensi selaras dengan prioritas pro-’Israel’. Dengan menekan ikatan-ideologis Ikhwan — yang dalam sebagian pandangan punya afiliasi pemikiran dengan Hamas — AS dianggap memperkuat narasi keamanan ‘Israel’, sementara membatasi suara Islamis non-militan.

Baca Juga

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Sebagai perbandingan, sejumlah analis menyoroti bahwa AS tidak menerapkan penetapan teroris serupa terhadap ‘Israel’, meskipun konflik yang menewaskan puluhan ribu warga Palestina dalam beberapa tahun terakhir telah menuai tuduhan genosida dari para pengamat internasional. Hingga kini, langkah penetapan seperti itu tidak muncul meskipun korban sipil sangat besar.

Standar Ganda AS

Pada 24 November 2025, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang memulai proses untuk mengklasifikasikan cabang Ikhwan di Mesir, Lebanon, dan Yordania sebagai Foreign Terrorist Organizations (FTO) dan Specially Designated Global Terrorists (SDGT).

Pemerintah AS menyatakan bahwa sebagian cabang Ikhwan tersebut memberikan “dukungan material” kepada Hamas dan kelompok faksi pejuang dan perlawanan pembebasan Palestina yang menargetkan sekutu AS, termasuk penjajah ‘Israel’.

Penetapan ini disebutkan secara khusus menyasar cabang di Mesir, Lebanon, dan Yordania yang dianggap kedua menteri AS, Marco Rubio dan Scott Bessent, terlibat dalam aksi kekerasan dan mendukung kelompok Hamas yang berlawanan dengan kepentingan ‘Israel’ dan Amerika.

Arab Saudi dan UEA sejak lama memimpin upaya untuk melemahkan Ikhwanul Muslimin di kawasan. Keduanya mendukung kudeta militer Mesir pada 2013 yang menggulingkan pemerintahan yang dipimpin Ikhwanul Muslimin dan terus mendukung penindakan terhadap kelompok tersebut, yang menyebabkan ribuan anggotanya dipenjara.

Beberapa analis percaya bahwa kampanye Yordania dilakukan di bawah tekanan terkoordinasi dari Arab Saudi, UEA, dan ‘Israel’.

Sebelumnya, negara-negara Arab juga termasuk cemas jika Ikhwanul Muslimin berkembang karena ideologi Islam politik yang diusungnya menonjolkan partisipasi rakyat dan demokrasi Islam, sehingga dipandang sebagai ancaman serius terhadap rezim monarki atau pemerintahan otoriter yang berkuasa turun-temurun.

Yvonne Ridley, jurnalis Inggris dan pengamat Timur Tengah, dalam artikelnya mengungkapkan bahwa rezim Arab sangat takut pada Ikhwanul Muslimin karena potensinya menggoyang struktur kekuasaan dan memberi harapan perubahan di masyarakat, serta membuktikan keberhasilan organisasi ini dalam pemilu selama Musim Semi Arab.

Analis Al Jazeera, Marwan Bishara, menegaskan kebijakan ini merupakan “strategi politik untuk melindungi ‘Israel’ di Timur Tengah, bukan langkah kontra-terorisme yang didasari evaluasi obyektif.”

“Israel’” telah menewaskan puluhan ribu warga sipil di Gaza, namun tidak pernah dilabeli sebagai organisasi teroris internasional oleh AS, ini menunjukkan standar ganda yang tidak adil,” ujar analis politik senior yang juga dikenal luas sebagai otoritas di bidang politik global, khususnya isu Timur Tengah dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat ini.

Kritik serupa disampaikan Council on American-Islamic Relations (CAIR), melalui Direktur Litigasi Lena Masri. “Label teroris pada Ikhwanul Muslimin adalah politik proteksi kepentingan ‘Israel’, sekaligus bentuk diskriminasi terhadap komunitas Muslim. Standar ganda ini menimbulkan efek negatif bagi Muslim Amerika dan dunia,” ujar Lena.

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, turut menyoroti langkah AS yang menurutnya “sepenuhnya bermotif politik demi melindungi ‘Israel’ di Timur Tengah,” dan “tidak didasari penilaian obyektif atas terorisme aktual di kawasan.”

Data Kementerian Kesehatan Gaza bulan September 2025, sedikitnya 65.419 warga Palestina syahid dalam aksi genosida yang dilancarkan penjajah ‘Israel’ di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.

Serangan ‘Israel’ telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang semakin parah, sementara ribuan korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalanan.

Berdasarkan perhitungan para peneliti, antara 99.997 hingga 125.915 orang tewas atau terbunuh dalam serangan brutal ‘Israel’ di Jalur Gaza selama dua tahun pertama perang. Perkiraan median para peneliti adalah 112.069 orang.

Para ilmuwan Max Planck mengumpulkan data dari berbagai sumber dan melakukan proyeksi statistik. Selain data dari Kementerian Kesehatan yang berbasis di Gaza, mereka juga memasukkan survei rumah tangga independen dan laporan kematian dari media sosial.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatHeadlineIkhwanul Muslimunisraelteroris
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Boikot Akademik terhadap ‘Israel’ Tak Berhenti Meski Genosida Gaza Mereda
Tulisan selanjutnya Intelijen Iran Klaim Ali Khamenei Jadi Target Israel dan AS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

3 Juni 2026 16:00
Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

3 Juni 2026 13:30
Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

3 Juni 2026 13:00
Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

3 Juni 2026 12:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?