Hidayatullah.com— Pernyataan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa kembali menjadi sorotan global setelah ia menegaskan bahwa dirinya “tidak pernah menyakiti seorang warga sipil pun” selama 20 tahun berjuang. Al-Sharaa, yang dulunya dianggap sebagai tokoh pemberontak dan pernah dikaitkan dengan kelompok militan, menyampaikan pernyataan tersebut dalam diskusi bersama jurnalis senior CNN Christiane Amanpour pada sesi utama Doha Forum di Qatar hari Jumat.
Dalam forum itu, Al-Sharaa menolak tudingan bahwa ia pernah terlibat dalam aksi teror. Ia menilai istilah “teroris” kerap digunakan secara keliru serta memiliki muatan politik yang kuat.
Menurutnya, label tersebut seharusnya diberikan kepada pihak yang secara sengaja menargetkan warga sipil atau melakukan kekerasan yang melanggar hukum internasional. Ia mengatakan bahwa penilaian atas terorisme harus menggambarkan tindakan nyata, bukan sekadar afiliasi atau persepsi politik.
Ia kemudian menyinggung rezim Bashar al-Assad, yang menurutnya bertanggung jawab atas lebih dari satu juta kematian dan memaksa lebih dari 14 juta warga Suriah mengungsi.
Al-Sharaa mempertanyakan mengapa rezim yang, menurut berbagai laporan internasional, telah menyebabkan korban dalam jumlah besar tidak diberi label “teroris,” sementara pihaknya yang mengklaim tidak menyerang warga sipil justru kerap menerima tudingan tersebut.
Al-Sharaa menyatakan bahwa pemahaman masyarakat internasional mengenai definisi terorisme telah mengalami perubahan signifikan dalam dua dekade terakhir.
“Saya percaya setelah 25 tahun, orang-orang telah memahami arti kata ‘teroris’ dan siapa yang sebenarnya pantas menyandang label itu,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan bahwa dalam seluruh operasi yang dipimpinnya, tidak pernah ada tindakan terencana yang menyasar warga sipil.
Pernyataan tersebut memicu perdebatan di antara peserta forum serta pengamat politik kawasan. Sejumlah pihak menilai klaim Al-Sharaa sulit diverifikasi secara independen, mengingat konflik Suriah selama bertahun-tahun diwarnai laporan korban sipil dari berbagai pihak.
Namun, sebagian lainnya melihat komentar Al-Sharaa sebagai upaya membangun legitimasi politik dan membedakan pemerintahannya dari rezim sebelumnya.
Cap Teroris dan Standar Ganda
Dalam dialog itu, Al-Sharaa juga menyinggung penggunaan istilah “teroris” dalam berbagai konflik dunia, termasuk di Gaza, Afghanistan, dan Iraq. Ia mengatakan bahwa banyak aktor negara yang melakukan operasi militer dengan korban sipil signifikan, tetapi tidak otomatis diberi cap “teroris.”
Menurutnya, hal ini mencerminkan standar ganda dalam politik global dan menunjukkan perlunya definisi yang lebih konsisten.
Ia menambahkan bahwa tujuan perjuangannya adalah membebaskan Suriah dari rezim Assad, dan ia mengklaim bahwa seluruh operasi militernya dilakukan dengan menghormati nilai kemanusiaan.
“Kami tidak pernah menggunakan metode yang melanggar prinsip perlindungan terhadap warga sipil,” katanya.
Pernyataan Al-Sharaa di Doha Forum menjadi salah satu momen paling banyak dibicarakan dalam penyelenggaraan tahun ini. Pengamat menilai bahwa sikapnya akan mempengaruhi diskusi diplomatik terkait masa depan Suriah, rekonsiliasi nasional, dan proses politik yang masih belum stabil.
Meski klaimnya memicu pertanyaan besar, kehadirannya di forum internasional menunjukkan adanya perubahan dinamika dalam penerimaan global terhadap pemimpin Suriah itu.
Apakah pernyataan Al-Sharaa akan mengubah persepsi internasional atau mendorong penyelidikan lebih jauh terkait tindakan semua pihak dalam konflik Suriah tetap menjadi pertanyaan yang menunggu perkembangan berikutnya.*




