Hidayatullah.com—Serangan udara yang dipimpin Arab Saudi pada Jumat (2/1/2026) menargetkan posisi pasukan yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) di Provinsi Hadramout, memicu eskalasi baru dalam konflik Yaman yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade.
Insiden ini menandai perpecahan tajam di antara dua sekutu lama yang selama ini berada di belakang kubu anti-Houthi (Hutsyi) di Yaman, kutip Aljazeera.
Menurut pejabat kelompok separatis yang didukung UEA, Dewan Transisi Selatan (STC), sedikitnya tujuh anggotanya tewas dan lebih dari 20 lainnya luka-luka akibat serangan udara di wilayah Al-Khasah, Hadramout.
Mohammad Abdulmalik, kepala STC di Wadi Hadramaut dan gurun sekitarnya, menyatakan bahwa serangan tersebut menghantam kamp pasukan mereka dan menuduh koalisi pimpinan Saudi melakukan agresi militer terhadap pasukan mereka yang selama ini dianggap sekutu.
Dalam sebuah pernyataan melalui media pro-STC, Abdulmalik menegaskan bahwa serangan itu dilakukan secara tiba-tiba dan dengan intensitas tinggi.
“Serangan menghantam kamp kami di Al-Khasah. Tujuh orang tewas, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka,” ujarnya, seperti dikutip oleh media internasional.
Klaim dan Pembelaan Para Pihak
Pejabat koalisi yang dipimpin Arab Saudi menyatakan bahwa operasi ini dimaksudkan untuk mendukung upaya pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam mengambil alih posisi militer strategis yang sebelumnya dikuasai oleh STC.
Salem al-Khanbashi, gubernur Hadramout yang didukung Riyadh, menegaskan kepada Saba Net bahwa operasi ini bukan “deklarasi perang” tetapi upaya untuk mengatasi ancaman terhadap stabilitas wilayah.
“Operasi ini tidak menargetkan kelompok politik atau sosial mana pun… ini bertujuan agar posisi militer diserahkan secara damai dan sistematis,” kata al-Khanbashi.
Sementara itu, STC melalui juru bicaranya menggambarkan serangan itu sebagai langkah agresif dan upaya Riyadh untuk memaksakan kontrol atas daerah yang baru saja direbut oleh pasukan separatis.
Dalam unggahan di platform X, perwakilan luar negeri STC Amr Al Bidh menuduh Riyadh menyesatkan komunitas internasional dengan menyebut operasi yang dilakukan sebagai “damai”, padahal serangan udara segera dilancarkan.
Latar Belakang Ketegangan dan Perpecahan Koalisi
Konflik ini menjadi sorotan setelah STC yang didukung UEA memulai ofensif di Hadramout dan al-Mahra pada Desember 2025, menguasai wilayah bernilai strategis dekat perbatasan Saudi Arabia.
Perkembangan ini memicu ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi, yang sebelumnya berada dalam koalisi militer yang sama melawan Houthi, kelompok bersenjata yang dikaitkan dengan Iran dan menguasai bagian besar wilayah utara Yaman.
Reuters juga melaporkan bahwa perpecahan ini menyebabkan UEA menarik sebagian besar pasukannya dari Yaman setelah Saudi meminta penarikan mereka menyusul meningkatnya ketegangan. STC menolak permintaan Saudi untuk mundur dari wilayah yang telah mereka kuasai.
Analisis dan Konsekuensi
Para analis internasional memperingatkan bahwa serangan udara terbaru tersebut mencerminkan retaknya internal koalisi anti-Houthi, yang dapat memperluas front konflik baru di Yaman.
Perpecahan antara kelompok yang didukung Saudi dan kelompok yang didukung UEA dapat membuka peluang konflik lebih luas yang akan memperumit upaya diplomatik dan memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung di negara itu.
Hingga saat ini, situasi di Hadramout dilaporkan masih tegang, dengan pengerahan pasukan tambahan oleh kedua belah pihak di titik-titik strategis. Penerbangan di beberapa bandara utama, termasuk Aden, bahkan sempat terganggu karena situasi yang semakin tidak stabil di selatan Yaman.
Reaksi Internasional
Sampai berita ini diturunkan, belum ada respons langsung dari pemerintah Saudi atau UEA terkait klaim serangan tersebut dalam rilis resmi mereka kepada media internasional seperti Al Jazeera.
Namun, laporan yang beredar menunjukkan dinamika baru dalam konflik Yaman yang dapat memicu perhatian diplomatik regional dan global karena keterlibatan dua kekuatan Teluk yang sebelumnya selaras dalam satu koalisi.*




