Hidayatullah.com – Jurnalis Inggris Myriam François mengatakan Israel menghabiskan hampir 50 juta dolar AS untuk menghapus kata “kelaparan” yang berkaitan dengan Jalur Gaza dari pemberitaan media.
Melansir Quds News Network pada Selasa (10/02/2026), ia menegaskan ranah digital telah menjadi medan pertempuran terbuka untuk membentuk kesadaran publik. Sehingga perang informasi kini memainkan peran penting dalam memengaruhi persepsi global.
Investigasi Eurovision
Pernyataan Myriam ini dikonfirmasi oleh sebuah investigasi pada September tahun lalu. Dikutip Anadolu, investigasi bersama Eurovision mengungkap bahwa Komite Pengecualian ‘Israel’ pada bulan Juni menyetujui permohonan dari agensi iklan milik zionis bernama Lapam untuk menjalankan kampanye informasi publik senilai $50 juta dengan Google, X, dan platform Prancis dan Israel Outbrain dan Teads.
Kontrak tersebut, yang berlaku mulai 17 Juni hingga 31 Desember, mengalokasikan 150 juta shekel ($45 juta) untuk YouTube dan platform manajemen kampanye iklan Google, Display & Video 360.
X juga mendapatkan 10 juta shekel ($3,03 juta) sementara platform iklan Prancis dan Israel Outbrain dan Teads mendapatkan 7 juta shekel ($2,12 juta).
Laporan berjudul “Front Perang Baru: Di Balik Serangan ‘Hasbara’ Digital Israel” menunjukkan bagaimana kampanye yang disponsori negara Israel menggunakan media sosial, influencer berbayar, dan tur militer untuk membentuk narasi global tentang Gaza.
Dokumen dari tahun 2018 hingga Juli 2025, yang diungkapkan oleh investigasi tersebut, menunjukkan bahwa Lapam menggunakan platform iklan Google dan Meta untuk mempromosikan narasi pemerintah Israel dan melawan kritik terhadap kebijakan dan operasi militer Tel Aviv melalui kampanye berbayar.
Tahun lalu, Lapam mensponsori 2.000 iklan, dengan 900 ditujukan kepada audiens domestik dan 1.100 ditujukan kepada pemirsa internasional di negara-negara tertentu, kata laporan itu, mengutip Pusat Transparansi Google Ads.
Agen iklan tersebut menjalankan lebih dari 4.000 iklan antara 1 Januari dan 5 September 2025, dengan setengahnya menargetkan audiens internasional.
Penjajah Israel secara khusus menggunakan platform ads dan iklan untuk menyangkal kelaparan di Gaza, “dengan menggambarkan situasi normal di dalam wilayah yang terkepung itu.”




