Hidayatullah.com–Kolombia kembali melakukan penyemprotan kimia beracun karsinogenik dengan menggunakan drone untuk memusnahkan tanaman koka, kata Kedutaan Amerika Serikat di Bogota hari Jumat (13/2/2026), setelah pemimpin kedua negara bertemu guna meredakan ketegangan yang dipicu masalah narkoba.
“Kolombia meluncurkan drone eradikasi atas tanaman koka,” dengan dukungan dari pemerintah Amerika Serikat, kata Kedutaan AS di Bogota lewat media sosial hari Jumat (13/2/2026) seperti dilansir AFP.
“Teknologi ini dapat mengubah keadaan secar drastis: menurunkan kultivasi koka di Kolombia, mengurangi jumlah narkoba mematikan yang mencapai jalan-jalan di Amerika, serta menyelamatkan lebih banyak nyawa,” imbuhnya.
Kolombia menghentikan penyemprotan glyphosate dari udara pada tahun 2015, karena kekhawatiran akan dampak negatifnya terhadap kesehatan masyarakat disebabkan zat kimia itu bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker pada manusia.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Kolombia Gustavo Petro bertemu di Gedung Putih guna menurunkan ketegangan politik di antara kedua negara. Mereka berjanji akan menghidupkan kembali kerja sama historis di bidang militer antara Washington dan Bogota, serta memerangi bersama-sama gerilyawan dan kartel narkoba, lansir AFP.
Pada bulan Desember 2025, pemerintahan Petro melanjutkan kembali penyemprotan glyphosate atas tanaman-tanaman narkotika, seperti koka yang merupakan bahan utama pembuatan kokain, atas desakan pemerintahan Trump. Gedung Putih mendesak supaya Bogota memberlakukan kebijakan yang lebih keras terhadap aktivitas perdagangan narkoba. Kolombia dikenal sebagai penghasil kokain terbesar dunia.
Pada Desember 2025, Kementerian Kehakiman Kolombia mengeluarkan kebijakan baru pemusnahan tanaman koka.
Dalam kebijakan itu disebutkan bahwa drone akan terbang 1,5 meter di atas ladang tanaman koka dan melakukan penyemprotan terkontrol guna mencegah zat kimia berbahaya itu berdampak terhadap masyarakat.
Sejak naik ke puncak kekuasaan pada 2022, Petro mengambil kebijakan “sepenuhnya damai” untuk melucuti kelompok-kelompok bersenjata melalui dialog.
Namun, hingga enam bulan menjelang masa jabatannya berakhir, upaya itu belum menunjukkan hasil sehingga mendorongnya untuk mengambil tindakan yang lebih tegas dalam perang melawan narkoba.*




