Hidayatullah.com– Otoritas Iran di Teheran hari Selasa (17/2/2026) menggelar upacara peringatan untuk mengenang ribuan orang yang tewas selama unjuk rasa di seluruh penjuru negeri itu belum lama ini.
Peringatan itu, yang digelar di Imam Khomeini Grand Mosalla, menandai hari ke-40 sejak kematian-kematian itu, sesuai dengan tradisi berkabung menurut ajaran Syiah, lansir AFP.
Kerumunan orang membawa bendera-bendera Iran dan foto-foto orang yang tewas, sementara lagu-lagu nasionalis dikumandangkan dan teriakan “Kematian bagi Amerika” dan “Kematian bagi Israel” bergema di tempat acara.
Aksi-aksi protes bermunculan pada akhir Desember 2025 dan kemudian meluas sebagai demonstrasi anti-pemerintah yang mencapai puncaknya pada 8 dan 9 Januari.
Teheran mengakui bahwa lebih dari 3.000 orang tewas selama aksi protes berlangsung, termasuk personel pasukan keamanan dan penonton demonstrasi, dan menuding kerusuhan yang dilakukan pengunjuk rasa sebagai “tindakan teroris”.
Sejumlah pejabat senior, termasuk Wakil Presiden I Mohammad Reza Aref dan komandan Korps Garda Revolusi Iran Esmail Qaani ikut menghadiri peringatan 40 hari kematian para demonstran itu.
“Mereka yang mendukung perusuh dan teroris adalah penjahat dan akan menghadapi konsekuensinya,” kata Qaani, seperti dilaporkan kantor berita Tasnim.
Hari Jumat (13/2/2026), Iran mengatakan sudah membentuk komite pencari fakta guna menyelidiki kerusuhan tersebut, sementara pihak berwenang berjanji akan segera mengadili mereka yang terlibat di dalamnya. *




