Hidayatullah.com – Pada Sabtu, hari pertama serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran, sebuah serangan Israel menghantam sekolah dasar putri di Minab, sebuah kota di provinsi Hormozgan di Iran selatan, menewaskan lebih dari 100 orang.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa jumlah korban tewas setidaknya 118 orang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membagikan foto serangan tersebut, yang menurutnya menghancurkan sekolah perempuan dan menewaskan “anak-anak yang tidak bersalah”.
“Kejahatan terhadap rakyat Iran ini tidak akan dibiarkan begitu saja,” tulis Araghchi dalam sebuah unggahan di X.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei juga mengecam tindakan yang jelas-jelas adalah “kejahatan” tersebut dan mendesak tindakan dari Dewan Keamanan PBB.
Secara terpisah, kantor berita Iran Mehr melaporkan bahwa setidaknya dua siswa tewas akibat serangan Israel lainnya yang menghantam sebuah sekolah di sebelah timur ibu kota, Teheran.
Hal ini terjadi meskipun AS dan Israel mengklaim bahwa “mereka hanya menargetkan sasaran militer dan mereka mencoba menghukum rezim, bukan rakyat Iran.”
Israel targetkan Anak-anak di Gaza dan Iran
Serangan Israel secara konsisten menargetkan sekolah dan anak-anak, terutama di Gaza. Sejak genosida dimulai pada Oktober 2023, setiap sekolah di Gaza utara dan Rafah telah rusak. Di Khan Younis, 98,4 persen bangunan sekolah mengalami kerusakan, sementara di Kota Gaza angkanya mencapai 93,3 persen.
Pada 1 Oktober 2025, OCHA melaporkan 18.069 siswa dan 780 staf pendidikan tewas di Gaza akibat serangan Israel. Terdapat juga 26.391 siswa dan 3.211 guru yang terluka.
Sejak Oktober 2023, setidaknya satu anak Palestina tewas setiap jamnya secara rata-rata oleh pasukan penjajah Israel di Gaza selama hampir 23 bulan perang, dengan jumlah anak yang tewas kini melebihi 20.000, kata Save the Children.
Data terbaru yang dirilis oleh Kantor Media Pemerintah di Gaza pada bulan September menunjukkan setidaknya 20.000 anak-anak – sekitar 2% dari populasi anak-anak Gaza – telah tewas sejak Oktober 2023.
Sepanjang perang genosida di Gaza, entitas Zionis Israel telah menargetkan sekolah dan bahkan rumah sakit, mengklaim, tanpa memberikan bukti, bahwa fasilitas-fasilitas ini digunakan untuk menampung pejuang perlawanan atau infrastruktur militer.*




