Hidayatullah.com – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, mengingatkan pemerintah agar menjaga stabilitas geopolitik yang aman dan damai, baik di dalam negeri maupun dalam hubungan internasional. Menurutnya, posisi strategis Indonesia menuntut kebijakan yang cermat agar kepentingan nasional tetap terjaga.
Hal tersebut disampaikan Amirsyah kepada media usai pertemuan para tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kamis (5/3). “Indonesia memiliki posisi strategis, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusia,” ujar Amirsyah.
Ia menjelaskan bahwa geopolitik pada dasarnya merupakan studi mengenai hubungan antara berbagai faktor yang memengaruhi posisi suatu negara di tingkat global. Salah satunya adalah kondisi geografis dan potensi sumber daya alam yang dimiliki suatu wilayah.
Selain itu, geopolitik juga berkaitan dengan kebijakan politik dan strategi kekuasaan yang dijalankan suatu negara dalam kancah internasional. Faktor ini, menurutnya, menentukan bagaimana sebuah negara memanfaatkan posisinya untuk mencapai kepentingan nasional.
Lebih lanjut, Amirsyah menekankan pentingnya memanfaatkan letak geografis Indonesia dalam kerangka Wawasan Nusantara guna menjaga persatuan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurutnya, sebagai bangsa besar yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia yang melimpah, Indonesia mempunyai posisi tawar yang kuat dalam pergaulan internasional.
“Posisi tawar ini penting dalam negosiasi internasional. Ia dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti alternatif yang tersedia, pengetahuan terhadap dinamika pasar global, serta nilai yang dibawa dalam proses perundingan,” jelasnya.
Amirsyah menambahkan bahwa negara dengan posisi tawar yang kuat umumnya lebih mudah memperoleh hasil yang lebih menguntungkan dalam setiap kesepakatan.
Dalam konteks global, ia juga menyinggung meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, termasuk konflik yang melibatkan Israel dan Iran yang turut dipengaruhi dukungan Amerika Serikat.
Menurutnya, dinamika tersebut menunjukkan bahwa setiap negara memiliki kekuatan dan kepentingan masing-masing yang memengaruhi posisi tawarnya dalam percaturan internasional.
“Dengan kekuatan yang dimiliki masing-masing negara, mereka berupaya menggunakan daya tawar tersebut untuk mempertahankan kedaulatan sekaligus mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan,” pungkas Amirsyah.*




