Hidayatullah.com—Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal (OTK) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis malam (12/3). Serangan terjadi sesaat setelah Andrie menyelesaikan rekaman siniar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” sekitar pukul 23.00 WIB.
Berdasarkan keterangan KontraS, dua pelaku berboncengan sepeda motor mendekati korban sebelum menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah wajah dan tubuh Andrie. Salah satu pelaku disebut mengenakan helm hitam, kaus putih atau biru dengan celana gelap diduga jeans, serta penutup wajah berupa buff. Pelaku kedua juga menutupi sebagian wajahnya dengan masker hitam.
Akibat serangan tersebut, Andrie mengalami luka bakar serius pada bagian wajah, mata, dada, serta kedua tangan. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk mendapatkan penanganan medis. Dari hasil pemeriksaan awal, dokter menyatakan korban mengalami luka bakar sekitar 24 persen pada tubuhnya.
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menyebut serangan tersebut sebagai ancaman serius bagi demokrasi dan kebebasan sipil di Indonesia.
“Ini bukan lagi alarm bahaya demokrasi. Ini sudah berada di jurang demokrasi,” kata Dimas dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (13/3).
Dimas menegaskan bahwa teror tersebut tidak akan menghentikan kerja organisasi yang telah berdiri hampir tiga dekade itu. “Dengan intimidasi seperti yang dialami Andrie Yunus ini tidak akan menyurutkan langkah KontraS yang sudah dibangun selama 28 tahun,” ujarnya.
Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Muhammad Isnur, mengatakan serangan terhadap Andrie merupakan serangan terhadap masyarakat sipil secara luas.
“Serangan terhadap Andri adalah serangan terhadap kita semua—serangan terhadap masyarakat sipil, terhadap kemanusiaan, dan terhadap seluruh korban yang sedang memperjuangkan hak asasi manusia,” kata Isnur.
Ia juga mendesak aparat kepolisian segera mengungkap pelaku dan aktor intelektual di balik penyerangan tersebut. Menurutnya, masyarakat sipil juga tengah menyiapkan tim investigasi independen untuk menelusuri kasus tersebut.
Sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti Indonesia Corruption Watch, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, serta berbagai jaringan advokasi hukum turut mengecam keras serangan tersebut dan meminta negara memberikan perlindungan bagi para pembela HAM.
Peristiwa ini kembali mengingatkan publik pada kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Novel Baswedan pada 2017. Para aktivis menilai pola kekerasan serupa menunjukkan masih rentannya keselamatan pembela hak asasi manusia di Indonesia.
Sementara itu, aparat kepolisian menyatakan telah menerima laporan dan tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan tersebut. Koalisi masyarakat sipil mendesak agar proses hukum dilakukan secara cepat, transparan, dan akuntabel agar tidak terjadi impunitas terhadap pelaku kekerasan terhadap aktivis.*




