Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Krisis Universitas Modern: Hebat Tapi Tanpa Arah

Ahmad
Terakhir diupdate: 14 Maret 2026 15:31 3:31 pm
Ahmad
Dipublikasikan 14 Maret 2026 15:45
Bagikan
Süleymaniye Tıp Medresesi di era Utsmani memadukan kecanggihan medis dan nilai spiritual melalui sistem wakaf, di mana adab menjadi ruh utama yang membentuk dokter menjadi pelayan kemanusiaan yang berakhlak mulia, yang tak dimiliki Barat
Bagikan

Tanpa adab, universitas modern saat ini mudah berubah dari taman ilmu menjadi pabrik gelar dan angka. Ia hebat tapi sesungguhnya tanpa arah

Oleh: Dr. Nirwan Syafrin

Hidayatullah.com | UNIVERSITAS Harvard, Universitas Oxford, Universitas Stanford, dan Universitas Melbourne —nama-nama yang identik dengan prestise dan keunggulan. Seperti banyak kampus Barat lainnya, mereka selalu tampil memikat dalam brosur: gedung-gedung klasik nan anggun, perpustakaan raksasa, laboratorium mutakhir, serta reputasi global yang membuat banyak orang bermimpi menimba ilmu di sana.

Namun di balik citra yang memesona itu, dua profesor Barat, Harry Lewis dan Peter Fleming, justru menyuarakan kegelisahan yang serupa: ada sesuatu yang keliru di jantung universitas modern. Dalam bukunya, Excellence Without a Soul (2006), Lewis, mantan Dekan Universitas Harvard menyoroti bagaimana universitas perlahan kehilangan ruh pendidikannya. Sementara itu, Dark Academia (2021) karya Fleming menggambarkan dunia kampus yang kian dikuasai logika korporasi—target, metrik, publikasi, jabatan, dan reputasi. Dari luar, kampus tampak gemilang; tetapi di dalamnya tersimpan dilema yang jarang diucapkan secara terbuka oleh para akademisinya sendiri.

Fenomena ini terasa semakin global. Istilah publish or perish, obsesi pada indeksasi, perburuan jabatan akademik, hingga jargon “unggul” di ruang-ruang administrasi kampus kini menjadi pengalaman yang akrab—bukan hanya di Barat, melainkan juga di berbagai belahan Asia.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Dosen saling menanyakan jenjang jabatan, sementara kampus menekan program studi dengan target peringkat. Seakan-akan denyut kehidupan universitas direduksi menjadi deretan angka dan capaian administratif, bukan lagi pada kedalaman ilmu.

Adab yang Hilang dari Pendidikan

Pada titik inilah gagasan Syed Muhammad Naquib al-Attas terasa semakin relevan. Jauh sebelum kritik Lewis dan Fleming, sejak dekade 1970-an Al-Attas telah mengingatkan bahwa krisis mendasar pendidikan modern bukan semata persoalan metode atau sistem, melainkan hilangnya adab.

Dalam pandangannya, pendidikan tidak pertama-tama berurusan dengan transfer pengetahuan atau pencapaian teknis, melainkan dengan penanaman adab—yakni kemampuan menempatkan segala sesuatu secara tepat dalam tatanan ilmu, diri, dan kehidupan.

Secara etimologis, istilah universitas berasal dari universitas magistrorum et scholarium—yakni perkumpulan para guru dan pelajar yang berhimpun demi tujuan bersama. Pada mulanya, universitas bukanlah gedung atau birokrasi, melainkan sebuah komunitas pencari ilmu.

Namun dalam perkembangan modern, wajah universitas berubah menyerupai institusi administratif yang kompleks, bahkan tak jarang beroperasi seperti korporasi dengan target kinerja, dan manajemen reputasi.

Harry Lewis, melihat lulusan Universitas Harvard tampil gemilang secara akademik, tetapi kerap tanpa arah moral dan intelektual yang jelas. Sementara itu, Peter Fleming menyaksikan para dosen terjebak dalam pusaran kelelahan administratif dan tekanan produktivitas yang mengikis makna mengajar serta meneliti. Mereka tampak sibuk tanpa henti, namun sering kehilangan alasan mendasar mengapa pekerjaan itu sesungguhnya dijalankan.

Al-Attas menelusuri persoalan ini hingga ke akar yang lebih mendasar. Menurutnya, ketika ilmu dipisahkan dari adab, ia kehilangan arah dan tujuan. Ilmu tidak lagi berfungsi sebagai cahaya yang membimbing manusia memahami hakikat diri dan mengenal Tuhannya, melainkan sekadar menjadi alat mobilitas sosial dan keuntungan ekonomi.

Akibatnya, kampus tak lagi dipahami sebagai ruang pembentukan manusia beradab, melainkan menyerupai pabrik sertifikat yang menjanjikan karier. Inilah dilema yang jarang diucapkan.

Dari luar, universitas tampak gemilang: publikasi meningkat, peringkat menanjak, gedung berdiri semakin megah. Namun dosen dilanda kelelahan, mahasiswa kebingungan, dan makna pendidikan perlahan menguap. Semua tampak sibuk bergerak, tetapi hanya sedikit yang bertanya: untuk apa semua ini sebenarnya?

Konsep adab menegaskan bahwa tujuan pendidikan sejatinya adalah melahirkan manusia yang baik, bukan sekadar tenaga terampil atau peneliti produktif. Adab menuntut pengetahuan harus ditempatkan dalam hierarki yang benar: mana yang pokok dan mana yang pelengkap; mana yang membentuk jiwa dan mana yang sekadar keterampilan.

Tanpa adab, ukuran keberhasilan pendidikan mudah tergelincir pada hal-hal yang kasat mata dan terukur. Padahal, dimensi paling penting dalam pendidikan justru kerap berada di ranah yang tak mudah diukur—kedewasaan berpikir, kejernihan moral, serta kebijaksanaan bertindak.

Dengan demikian, kritik Harry Lewis dan Peter Fleming sesungguhnya berjumpa dengan peringatan Al-Attas pada satu titik: universitas modern berisiko kehilangan jiwanya. Ia tampil efisien, produktif, dan terukur—namun melupakan tugas hakikinya, yakni membentuk manusia. Dan ketika manusia tidak lagi menjadi pusat pendidikan, universitas hanya menyisakan kemegahan bentuk, tanpa kedalaman makna.

Dosen Pascasarjana, Program Studi Magister Komunikasi Penyiaran Islam, UIKA Bogor

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabakademikGelarHeadlinePilihan Redaksitaman ilmuuniversitas modern
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras, Koalisi Sipil Desak Polisi Usut Tuntas
Tulisan selanjutnya IAEI–Kemenko Perekonomian Bahas Dampak Perjanjian Dagang Indonesia–AS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Maladewa Peringati 900 Tahun Memeluk Islam

Berita
14 September 2026 21:09
MUI Sebut Danantara Syariah Harus Jadi Kekuatan Ekonomi Riil Umat
Arab Saudi Keluarkan Peringatan Serangan Udara, Mekkah dan Jeddah Siaga
Anwar Ibrahim Serukan BRICS untuk Tolak Penjajahan dan Terorisme ‘Israel’
Wanita Afghanistan Dideportasi dari Amerika Serikat oleh Pengadilan ‘Alien Terrorist’

Terbaru

  • Erdogan akan Maju Pemilihan Presiden 2028
  • Gerebek Kelab Malam dan Bar Gay, Turki Tangkap 162 Aktivis LGBT
  • 87 Persen Penonton Situs Berita Muslim Inggris Tak Percaya Houthi Menargetkan Mekkah
  • Komisi Eropa Mengajukan RUU Larangan Akses Media Sosial Bagi Anak di Bawah 13 Tahun
  • Bertemu Mahmoud Abbas Presiden Mesir Menolak Pengusiran Warga Palestina dari Jalur Gaza
  • Wanita Afghanistan Dideportasi dari Amerika Serikat oleh Pengadilan ‘Alien Terrorist’
  • Didepak dari Tur Ed Sheeran, Macklemore Donasikan 1 Juta Dolar untuk Palestina
  • Sejumlah Negara Muslim Kecam Serangan Drone ke Mekkah
  • Tingkatkan Publikasi Internasional, Unhan RI Tekankan Integritas dan Etika Pemanfaatan AI
  • Texas Sahkan Kurikulum Sejarah Anti-Muslim, Kaitkan Islam dengan Perang dan Perbudakan

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?