Hidayatullah.com—Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kontroversi luas setelah menggunakan bahasa kasar dalam forum investasi internasional saat menyinggung Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam sebuah forum yang membahas investasi dan ekonomi global di Amerika Serikat pada akhir Maret 2026, yang dihadiri pelaku bisnis dan pemangku kepentingan internasional.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa hubungan kekuasaan antara dirinya dan pemimpin Saudi telah berubah. “Dia tidak menyangka akan harus bersikap hormat kepada saya… Dia mengira saya hanya akan menjadi presiden Amerika lainnya yang gagal,” ujar Trump di hadapan peserta forum.
Kontroversi memuncak ketika Trump melontarkan pernyataan vulgar secara langsung. “He didn’t think he would have to kiss my ass,” kata Trump, yang berarti, “Dia tidak menyangka akan harus mencium pantat saya.” Ucapan tersebut dinilai merendahkan pemimpin negara sekutu dan tidak lazim dalam praktik diplomasi modern.
Sejumlah media arus utama Amerika Serikat turut menyoroti pernyataan tersebut. The Washington Post dalam laporannya pada akhir Maret 2026 mencatat bahwa gaya komunikasi Trump kembali memicu perdebatan publik karena dianggap melanggar norma diplomasi.
Sementara itu, Reuters (Maret 2026) menilai pernyataan tersebut muncul di tengah situasi geopolitik yang sensitif, khususnya terkait hubungan AS dengan negara-negara Teluk.
Washington adalah sekutu Riyadh yang selama ini dikenal memiliki hubungan strategis, terutama dalam bidang energi, keamanan, dan stabilitas kawasan Timur Tengah. Namun, pernyataan terbuka dengan nada merendahkan seperti ini akan mengganggu keseimbangan hubungan tersebut.
Dari kawasan Arab, sejumlah analis menilai ucapan Trump mencerminkan pendekatan dominatif dalam relasi internasional.
Media seperti Al Jazeera mengutip pengamat yang menyebut retorika tersebut berpotensi merusak citra Amerika Serikat dan menyinggung sensitivitas budaya politik di Timur Tengah yang menjunjung tinggi kehormatan.
Di media sosial, reaksi publik juga bermunculan. Sejumlah warganet mengkritik kedekatan Arab Saudi dengan Amerika Serikat dan mendesak Riyadh menunjukkan sikap lebih tegas.
Salah satu pengguna menulis, “Sudah saatnya Saudi berhenti terlihat seperti mengikuti semua kemauan Washington.” Komentar lain menyebut, “Jika ini dibiarkan tanpa respons, maka martabat negara dipertanyakan.”
Sementara warganet lain menilai, “Hubungan strategis tidak seharusnya membuat satu pihak diperlakukan tidak hormat seperti ini.” Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Arab Saudi terkait pernyataan Trump tersebut.
Namun, kontroversi ini diperkirakan akan terus bergulir dan menambah sorotan terhadap dinamika hubungan antara Washington dan Riyadh di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks.*




