Hidayatullah.com – Tidak banyak yang memperbandingkan pemikiran Hamka dan Al-Attas, padahal banyak sekali kesamaan di antara keduanya. Hal itu disampaikan oleh Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat, Akmal Sjafril, dalam kajian daring Tuesday’s Special yang digelar Selasa (14/04) silam.
Dalam kajian bertajuk “Hamka & Al-Attas: Dua Cendekiawan Penentang Westernisasi” itu, Akmal mengaku ‘tidak sengaja’ menemukan banyak persamaan di antara kedua tokoh Melayu tersebut. “Saya berkenalan dengan pemikiran Al-Attas ketika berinteraksi dengan tulisan-tulisan dan kajian-kajian para peneliti INSISTS, kemudian secara khusus mendalami pemikiran Hamka saat menyelesaikan penelitian untuk tesis dan disertasi saya. Lambat laun, saya menyadari begitu banyaknya poin-poin persamaan di antara pemikiran Hamka dan Al-Attas, terutama dalam cara mereka menyimpulkan permasalahan umat dan mengusulkan solusinya,” ujar Akmal.
Tersebar luasnya pemikiran Al-Attas di Indonesia bukan hanya melalui penerbitan buku-bukunya, namun juga didukung oleh murid-muridnya yang tergabung dalam Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS). Mereka umumnya belajar dari Al-Attas melalui saat menimba ilmu di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Malaysia.
Buya Hamka adalah ulama yang namanya dikenal di seluruh penjuru Alam Melayu. “Hamka adalah ulama yang unik karena memiliki perhatian besar pada kebudayaan, bahkan beliau sendiri lebih suka menyebut dirinya sebagai seorang budayawan ketimbang dengan predikat-predikat lainnya,” ungkap Akmal.
Hamka disebut sebagai budayawan bukan hanya karena beliau banyak menulis novel klasik seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, melainkan karena ia benar-benar serius berdiskusi tentang kebudayaan dalam karya-karyanya.
“Kebudayaan dalam pandangan Hamka bukan hanya yang identik dengan kesenian seperti tari-tarian dan semacamnya. Menurut Hamka, kata ‘budaya’ itu terbentuk dari kata ‘budi’ dan ‘daya’. Artinya, kebudayaan itu adalah perbuatan manusia yang merupakan cerminan dari akal budinya. Kebudayaan sebuah bangsa terwujud dalam ilmu pengetahuan, filsafat dan kesenian yang dikembangkannya,” ujar doktor ilmu sejarah dari Universitas Indonesia (UI) ini.
Berbeda dengan Hamka yang banyak membicarakan kebudayaan, Al-Attas lebih banyak membahas tentang peradaban. Meski demikian, keduanya identik. “Kebudayaan mengimplikasikan adanya masyarakat, adapun peradaban adalah manusia sekaligus kebudayaannya itu. Al-Attas menghubungkan peradaban dengan adab, yaitu pengetahuan dan pengakuan akan adanya hirarki dalam segala sesuatunya di alam semesta ini,” ungkap Akmal lagi.
Baik Hamka maupun Al-Attas memperingatkan akan adanya risiko terpaparnya umat Muslim dengan pengaruh pemikiran dari luar. “Banyak yang tidak tahu bahwa Hamka pernah menulis Memorandum Kebudayaan yang berisikan rekomendasi untuk menghentikan kerja sama kebudayaan yang sifatnya khusus dengan Belanda. Kerja sama kebudayaan itu merupakan salah satu tindak lanjut dari Konferensi Meja Bundar. Usulan tersebut disampaikan karena Hamka khawatir Indonesia dan Belanda tidak dapat duduk setara karena Belanda pernah begitu lama menjajah Indonesia, sehingga kerja sama kebudayaan hanya akan menghasilkan penjajahan budaya,” ujar Akmal.
Dalam memorandum tersebut, Hamka mengevaluasi kontribusi Barat dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Al-Attas melalui bukunya, Islam and Secularism. “Hamka dan Al-Attas sama-sama menyatakan bahwa sumbangan Barat terhadap kemajuan ilmu pengetahuan tidak dapat dipungkiri. Pada saat yang bersamaan, Barat jugalah yang telah melahirkan begitu banyak kezaliman, penindasan dan kerusakan di dunia. Oleh karena itu, pemikiran yang datang dari Barat tidak boleh diterima tanpa sikap kritis,” tandas Akmal.
Untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam, Al-Attas menyerukan Islamisasi, yang didefinsikannya sebagai upaya membebaskan manusia dari tradisi lokal yang bersifat animis, magis dan mitologis, juga dari pengaruh sekularisme terhadap akal dan bahasanya. Dalam berbagai karyanya, Hamka juga banyak mengajukan tantangan terhadap tradisi-tradisi lokal pra-Islam di Nusantara dan sekularisme yang dibawa oleh Barat.
Terakhir, menurut Akmal, baik Hamka maupun Al-Attas sama-sama mengikuti ‘blueprint Al-Ghazali’. “Seperti Al-Ghazali, Hamka mengedepankan tashawwuf. Yang membuat Al-Ghazali dan Hamka unik adalah keberanian untuk mengakui adanya praktik-praktik tashawwuf yang menyimpang dan melancarkan kritik terhadapnya. Hamka bercerita tentang sejarah tashawwuf dalam buku Tasauf Dari Abad ke Abad, mengkritisi penyimpangan-penyimpangannya dalam buku Mengembalikan Tasauf ke Pangkalnya, dan memaparkan renungan-renungannya sendiri dalam buku Renungan Tasauf dan Tasauf Modern. Adapun Al-Attas banyak sekali merujuk dan mengembangkan pemikiran Al-Ghazali dan tokoh-tokoh tashawwuf lainnya, sehingga beliau mendapatkan kehormatan sebagai penerima pertama Abu Hamid al-Ghazali Chair of Islamic Thought di ISTAC,” pungkas Akmal di akhir paparannya.
SPI adalah sebuah lembaga pendidikan non-formal yang saat ini memiliki program kursus singkat pemikiran Islam di tiga kota, yakni Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Selain itu, SPI juga banyak mengadakan kajian-kajian daring, antara lain program Tuesday’s Special yang banyak membahas problematika umat kontemporer.*/SPI Media Center




