Hidayatullah.com – Italia memutuskan untuk menangguhkan sebuah kerjasama militer dan penelitian teknologi dengan Israel, menurut Perdana Mentei Giorgia Meloni. Keputusan itu dipandang sebagai “kemenangan” oleh para pejabat partai oposisi yang telah memprotes genosida Zionis di Gaza selama tiga tahun terakhir.
“Mengingat situasi saat ini, pemerintah telah memutuskan untuk menangguhkan perpanjangan otomatis perjanjian pertahanan dengan Israel,” kata Meloni pada Selasa (14/04/2026) di Verona, menurut kantor berita Italia ANSA dan AGI.
Perjanjian militer yang disepakati dengan Israel pada 2006 itu secara otomatis diperpanjang setiap lima tahun, namun tahun ini kerjasama di seluruh industri pertahanan, pendidikan dan pelatihan personel militer, penelitian dan pengembangan, dan teknologi informasi itu ditangguhkan.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar meremehkan pentingnya perjanjian tersebut. “Bahkan tidak ada perjanjian,” tulisnya dalam sebuah unggahan di media sosial.
Pemerintahan sayap kanan Meloni telah menjadi salah satu sekutu terdekat Israel di Eropa, tetapi dalam beberapa minggu terakhir, mereka telah mengkritik serangan entitas Zionis terhadap Lebanon.
Ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dicari ICC mengunjungi Roma pada Maret 2023, Meloni menggambarkan Israel sebagai “teman dan mitra kunci Italia, di Timur Tengah dan di tingkat global.”
Partai-partai oposisi telah menekan pemerintah selama lebih dari setahun untuk menangguhkan perpanjangan tersebut. Marco Grimaldi, seorang anggota parlemen oposisi, mengatakan keputusan itu adalah “kemenangan” bagi mereka yang telah memprotes genosida Israel di Gaza selama tiga tahun terakhir.
Hubungan antara Italia dan Israel telah memburuk tajam. Ketika Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengunjungi Lebanon pada hari Senin, ia memposting di X bahwa perjalanan itu dimaksudkan untuk menunjukkan “solidaritas” Italia dengan Lebanon “menyusul serangan yang tidak dapat diterima oleh Israel terhadap penduduk sipil.” Ia menambahkan: “Kita harus menghindari eskalasi lain seperti yang terjadi di Gaza dengan segala cara.”
Sikap Italia terhadap serangan di Timur Tengah juga memperburuk hubungan dengan Trump. Berbicara kepada seorang reporter di surat kabar harian Milan, Corriere della Sera, pada hari Selasa, Trump mengatakan dia “sangat terkejut” dengan keputusan Meloni untuk tidak membantu AS dalam serangan terhadap Iran.
Meloni juga mengatakan pada hari Senin bahwa “tidak dapat diterima” bagi Trump untuk menyerang Paus Leo XIV, yang telah mengkritik serangan tersebut.
“Apakah orang-orang menyukainya? Saya tidak percaya,” kata Trump dalam wawancara tersebut, menambahkan: “Saya pikir dia memiliki keberanian. Saya salah.”
Trump di masa lalu menggambarkan Meloni sebagai “pemimpin dan pribadi yang fantastis.” Ia adalah satu-satunya pemimpin Eropa yang masih menjabat yang menghadiri pelantikan presiden kedua Trump, dan telah lama membanggakan memiliki “hubungan istimewa” dengan presiden Amerika tersebut.
Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan tentang Meloni: “Dia sangat berbeda dari yang saya kira,” menambahkan bahwa ia sudah lama tidak berbicara dengan Meloni.
Selain itu, telah terjadi protes besar-besaran pro-Palestina dan anti-genosida di seluruh Italia dalam beberapa bulan terakhir, yang menarik ratusan ribu orang di seluruh negeri, sementara pemerintah Meloni menghadapi kritik atas kelambatan tindakannya terkait genosida dan blokade di Gaza.*




