Hidayatullah.com– Australia menolak membantu proses repatriasi warganya dari kamp-kamp di Suriah karena diduga ada yang berkaitan dengan kelompok ISIS.
Mengutip keterangan direktur kamp Roj, lembaga penyiaran publik Australia ABC melaporkan empat wanita Australia dan sembilan anak dan cucu mereka sudah keluar dari kamp di bagian timur laut Suriah itu pada hari Jumat (24/4/2026), dan berharap bisa segera pulang ke negeri asalnya.
Tentara Suriah membawa mereka ke Damaskus dan berusaha membantu kepulangannya ke Australia, lapor ABC.
Namun AFP melaporkan, seorang juru bicara pemerintah dalam sebuah pernyataan mengatakan, “Pemerintah Australia tidak bersedia dan tidak akan merepatriasi orang-orang dari Suriah.”
“Badan-badan keamanan kami sudah dan masih terus melakukan pemantauan situasi di Suriah guna memastikan bahwa mereka siap jika ada warga Australia yang ingin kembali ke Australia,” imbuhnya.
“Orang-orang yang termasuk dalam golongan ini perlu mengetahui bahwa apabila mereka kembali ke Australia mereka akan menghadapi hukum yang tegas,” karena pemerintah memprioritaskan keamanan rakyat dan kepentingan nasional Australia, papar jubir itu.
Sekelompok orang tersebut termasuk di antara 34 orang Australia di kamp Roj yang gagal pulang pada bulan Februari, konon kabarnya karena ada masalah koordinasi dengan pemerintah Suriah.
Kala itu, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan pemerintahannya tidak akan memberikan dukungan apapun untuk mereka. “Kalian yang cari masalah, kalian sendiri yang harus membereskan,” kata Albanese, menyinggung kepergian mereka ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok-kelompok bersenjata termasuk ISIS.
Repatriasi anggota keluarga para petempur ISIS merupakan isu kontroversial di Australia, dengan sebagian politisi memperingatkan bahwa ideologi mereka membahayakan keamanan nasional.
Organisasi bantuan kemanusiaan Save the Children Australia pada tahun 2023 mengajukan gugatan hukum atas nama 10 wanita dan 20 anak di kamp Roj, guna mengupayakan repatriasi mereka.
Namun, pengadilan tidak berpihak kepada Save the Children, mengatakan bahwa pemerintah Australia bukan pihak yang mengontrol penahanan mereka di Suriah.*




