“Proses kirap atau yang dikenal dalam istilah peternakan “latihan” dari kata exercise atau training di dalam manajemen pemeliharaan ternak merupakan program latihan gerak yang dilakukan secara periodik. Tujuannya untuk menjaga stamina tubuh ternak agar tetap terpelihara. Juga untuk menstimulasi terbentuknya sel-sel penyusun struktur jaringan tubuh hewan agar lebih berkembang secara lebih baik dan seimbang.”
Hidayatullah.com | PERAYAAN Idul Adha bagi Jamaah Pengajian Surabaya (JPS) -asuhan KH. Sattar Madjid- tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah penyembelihan semata. Terdapat sebuah tradisi unik yang secara rutin dilaksanakan, yakni kirap hewan qurban −kambing− sebelum prosesi penyembelihan yang biasanya dilakukan di awal hari Tasyriq.

Kini, tradisi yang sarat akan nilai spiritual dan keilmuan tersebut yang dulunya dilaksanakan di Lawang, terus dilestarikan oleh jamaah, di wilayah Tandes, Surabaya, di mana prosesi penyembelihan dipusatkan di halaman depan Masjid As-Sattar.
Kirap secara harfiah berarti mengawal, membawa, atau menggiring sesuatu untuk diperlihatkan kepada masyarakat luas. Dalam konteks JPS, kegiatan mengarak hewan qurban menyusuri jalanan sebelum tiba di lokasi penyembelihan memiliki akar landasan yang kuat.
Ini sebagaimana dilansir dari artikel berita di Jawa Timur tahun 1995 bertajuk “Tinjauan Ilmiah Kirap Ternak Qurban: ‘Kualitas Daging pun Meningkat'”, tradisi ini didasari oleh semangat meneladani ajaran Bapak Tauhid, Nabi Ibrahim AS, serta merujuk pada prinsip-prinsip syariat yang mendorong agar hewan qurban diperlakukan dengan baik sebelum dikurbankan.
Di balik kemeriahan arak-arakan tersebut, tersimpan motivasi untuk menyiarkan syiar Islam sekaligus menunjukkan kepada masyarakat luas mengenai kesiapan hewan yang akan dikurbankan. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap hewan yang akan menjadi persembahan di jalan Allah SWT.
Tinjauan Ilmiah: Lebih dari Sekadar Arak-arakan
Apa yang dilakukan oleh JPS mendapatkan legitimasi kuat dari sudut pandang teknologi hasil ternak. Ir. Imam Suryo, MS, ahli teknologi hasil ternak dari Astajati, menjelaskan dalam artikel tersebut bahwa proses kirap dapat disejajarkan dengan istilah exercise atau training dalam manajemen pemeliharaan ternak.
Dalam dunia peternakan, latihan gerak periodik memiliki fungsi krusial untuk menjaga stamina tubuh ternak. Secara fisiologis, aktivitas ini menstimulasi sel-sel penyusun struktur jaringan tubuh hewan agar berkembang secara lebih seimbang dan proporsional.
Teknologi penanganan hasil ternak mencatat beberapa keuntungan utama dari program latihan fisik ini bagi hewan sebelum dipotong:
Pertama, Peningkatan Metabolisme: Aktivitas fisik meningkatkan kemampuan tubuh hewan dalam menyimpan glikogen dan memperbaiki proses respirasi sel-sel urat daging.
Kedua, Optimasi Oksigen: Latihan membantu melancarkan aliran darah, memastikan pasokan oksigen dan zat makanan tersalurkan dengan baik ke seluruh jaringan otot, sekaligus mempercepat pembuangan sisa-sisa metabolisme.
Ketiga, Pemulihan Jaringan: Hewan yang kurang aktif cenderung memiliki sistem sirkulasi yang tidak lancar. Perlakuan kirap membantu memulihkan jaringan otot yang kurang aktif tersebut.
Pengaruh Terhadap Kualitas Daging
Salah satu aspek paling krusial dari tradisi kirap yang kini dilaksanakan di jalan umum depan Masjid As-Sattar Tandes ini adalah pengaruhnya terhadap kualitas karkas. Menurut Ir. Imam Suryo, latihan yang terukur—tidak sampai membuat hewan kelelahan—justru berperan penting dalam menjaga keempukan daging.
Dalam proses pasca-sembelih, terjadi proses rigor mortis (kekakuan otot). Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada cadangan glikogen dalam jaringan otot. Jika hewan mengalami kelelahan yang berlebihan, persediaan glikogen akan menipis, sehingga proses pengempukan daging secara alami tidak berjalan optimal. Sebaliknya, dengan kirap yang terukur, glikogen tetap tersedia cukup untuk mendukung proses kimiawi yang membuat daging menjadi lebih empuk.
Manfaat lain adalah optimalisasi pengeluaran darah. Hewan yang tidak dalam kondisi stres atau kelelahan saat disembelih akan mengeluarkan darah lebih lancar. Darah yang tertahan di dalam jaringan tubuh merupakan media yang disukai mikroba untuk berkembang biak. Dengan darah yang keluar sempurna, risiko pembusukan daging akibat aktivitas bakteri dapat diminimalisir.
Keunggulan hasil dari tradisi ini dijelaskan melalui proses glikolisis, yakni perombakan glikogen menjadi energi dalam kondisi anaerobik (tanpa oksigen). Proses ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan nilai pH daging.
Saat nilai pH mencapai titik ideal (5,2—5,4), terjadi proses relaksasi pada serabut otot yang sebelumnya terkontraksi erat. Pengikatan serabut otot yang terlalu kuat biasanya membuat daging terasa alot. Namun, dengan suasana asam hasil glikolisis yang cukup, ikatan tersebut melonggar, sehingga daging menjadi lebih empuk.
Tradisi Kirap Hewan Qurban di JPS adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat bersinergi dengan ilmu pengetahuan modern. Dengan meneruskan tradisi ini di lingkungan Masjid As-Sattar Tandes, JPS membuktikan bahwa nilai ibadah yang tulus dan manajemen hewan berbasis ilmu pengetahuan −sebagaimana diuraikan dalam sumber berita Tinjauan Ilmiah Kirap Ternak Qurban− dapat menciptakan kualitas qurban yang lebih bermartabat, efektif, dan berkualitas bagi jamaah dan masyarakat sekitar. (MBS)




