SORE itu Ramang Pudu terpaksa harus menunggu dalam waktu lama untuk belajar ngaji pada ustadznya. Penyebabnya, sang ustadz masih tertuju sepenuhnya memberi pengajaran tahsin pada Abdurrahman Fadil, teman Ramang. Tetapi persoalan bukan karena sang pengajar hanya ingin mengajar satu per satu pada sang santri, melainkan karena keterbatasan sarana belajar.
“Kita punya al-Quran sangat terbatas di TPA, sehingga para santri belajar mengaji bergantian. Mestinya paling tidak bisa menghadap guru ngajinya dua atau tiga orang sekaligus,” kata Ust. Taufikurahman, Pimpinan Pondok Pesantren Ragaiyah di Halmahera Utara atau Tobelo, belum lama ini.
Ia menjelaskan, satu al-Quran yang ada di TPA pondok biasa digunakan untuk 4 santri saat mereka belajar al-Quran. Jumlah kitab al-Quran saat ini kurang dari 15 buah, sementara santri ada 50 anak.
Mereka belajar mengaji pagi dan selepas sore, yaitu pada saat jam sekolah dan setelah Magrib. Pendidikan al-Quran yang diberikan beragam, mulai dari pelajaran pengenalan huruf sampai menghapal al-Quran. Ramang Pudu dan Abdurrahman Fadil yang merupakan siswa SMA kelas 3 di pondok, saat ini tahap awal menghapal juz 30.
“Agak kesulitan juga santri belajar tajwid saat mereka mengaji bersama karena tidak semua anak pegang al-Quran,” kata Taufikurahman.
Biasanya saat kegiatan mengaji akan dimulai, baik pagi atau selepas sore, para santri berebut al-Quran. Siapa yang lebih cepat memegang al-Quran, dia pula akan lebih cepat menghadap guru ngajinya. Sementara yang lain menunggu bergiliran.
Menurut Taufikurahman, kondisi al-Quran yang ada pun tidak dalam keadaan bagus. Sebagian besar sudah lepas sampulnya, bahkan juga ada lembaran-lembaran isinya yang terlepas atau robek.
Pihak pondok karena keterbatasan dana masih belum bisa menyediakan al-Quran secara memadai. Kondisinya masih memanfaatkan al-Quran yang ada.
“Para santri secara individu juga masih belum bisa menyediakan al-Quran secara mandiri,” jelas Taufikurahman. Hal ini karena mereka rata-rata dari keluarga tidak mampu.
Saat ini Taufikurahman sangat berharap ada pihak-pihak yang bisa membantu memberi wakaf al-Quran kepada pondok yang dipimpinnya. Ia bahkan berharap, bantuan al-Quran itu tidak hanya untuk kepentingan belajar santri, tetapi juga ditujukan untuk warga di sekitar pondok. Masih banyak umat muslim di sekitar pondok yang di rumahnya tidak memiliki al-Quran, sehingga mereka pun kesulitan belajar al-Quran.
Baca informasi mengenai Tebar Sejuta Quran
Sebagaimana diketahui Pondok Pesantren Ragaiyah berada di Desa Togoliua Kecamatan Tobelo Barat. Di desa ini merupakan satu-satunya berpenduduk Muslim dari sejumlah desa di Tobelo Barat. 95% berprofesi sebagai petani, sisanya Pegawai Negeri Sipil, buruh, nelayan, dan lain-lain.
Di sebelah barat Desa Togoliua berbatasan dengan Desa Kesuri, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Gonga. Sebelah utara Desa Paca dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Gamsungi. Penduduk desa-desa itu umumnya umat Nasrani.
Di samping di pondok, para ustadz juga mengajar mengaji di TPA kawasan transmigrasi di Desa Cemara Jaya, Kec. Wasile, Halmahera Timur. Umumnya orang tua santri berprofesi sebagai petani. Baik di Desa Togoliua atau di Desa Cemara Jaya, fasilitas listrik hanya tersedia saat malam hari saja.
Bagi umat Islam yang ingin berwakaf al-Quran ke pondok ini, serta daerah-daerah terpencil lain di Indonesia yang mengalami kekurangan al-Quran, dapat melalui: sejutaquran.org.*