Banyak orang membicarakan AI menggantikan manusia. Apalagi ada AI image generator gratis sampai yang berbayar bikin jadi lebih gampang untuk create gambar dengan AI. Tapi, apa benar AI bisa gantikan fotografer?
- Apa tanggapan fotografer profesional tentang AI generate Image yang semakin banyak digunakan?
- Bagaimana mengoptimalkan AI dalam dunia fotografi?
- Mengapa seorang fotografer profesional kurang menyarankan AI generate photo?
- Bagaimana sikap yang bijak dalam penggunaan AI di bidang fotografi?
- Kenali Afif Nur Efendi lebih dekat!
AI generate image sendiri adalah teknologi di mana kita bisa menghasilkan atau mengedit foto hanya dengan sebuah prompt. Sekarang semuanya makin gampang, karena udah banyak AI generator dari ChatGPT Images, Gemini AI, DeepAI sampai AI yang ada di aplikasi edit foto. Belum lagi orang-orang mulai membagikan banyak tips prompt AI foto, dari “10 Prompt AI foto ala studio”, “Prompt AI foto bareng keluarga”, sampai “Prompt AI foto prewedding” dan masih banyak lagi.
Apa tanggapan fotografer profesional tentang AI generate Image yang semakin banyak digunakan?
“Sebuah foto bukan cuma gambar yang bisa dilihat, tapi ada momen yang diabadikan”, Afif Nur Efendi, seorang fotografer profesional yang berkarir di bidang fotografi lebih dari 25 tahun ini tidak menolak perkembangan teknologi. Malah bisa efisiensi waktu dan memudahkan pekerjaan di bidang kreatif ini, menurutnya.
Sebagai lulusan fakultas ilmu komunikasi, Afif Nur Efendi menyadari perkembangan teknologi selalu punya tujuan untuk mempermudah hidup manusia. Sama halnya seperti kamera, dari sejarah fotografi dimulai dari kamera obscura, kemudian titik awal dunia fotografi dengan dipatenkannya kamera daguerreotype, lalu adanya kamera analog dan terus berkembang sampai munculnya kamera digital.
“AI juga bagian dari perkembangan teknologi, tujuan utamanya ya mempermudah”, begitu kata pria kelahiran Lamongan ini. Afif Nur Efendi menekankan AI Generate Image jadi alat untuk meringankan pekerjaan seorang fotografer.
Ia sama sekali tidak khawatir dengan isu AI menggantikan fotografer, karena AI atau teknologi lainnya hanya menjadi sebuah tools. Hasil akhir yang bagus dan sesuai itu tergantung pada siapa yang menggunakannya.
Bagaimana mengoptimalkan AI dalam dunia fotografi?
Dengan pengalaman 25 tahun tahun menjadi fotografer professional, menjadikan pria yang akrab disapa “Afif” bercerita tentang AI yang mempercepat pekerjaannya. Kita bisa mengoptimalkan AI di setiap tahapan proses produksi. “AI sangat membantu, adanya AI (buat) proses preps jadi lebih cepat. Hemat waktu dan kita bisa fokus ngerjain yang lain”, ucap Afif.
Di tahap pra produksi, AI bisa digunakan untuk pembuatan moodboard, mencari referensi visual, sampai diskusi konsep pemotretan.
Menurut Afif, AI sangat membantu mempercepat proses delivery kepada klien dan manfaatnya Afif bisa lebih mudah fokus untuk melanjutkan project-project yang lain.
Mengapa seorang fotografer profesional kurang menyarankan AI generate photo?
Pria yang memulai karir fotografinya sejak awal 2000-an ini, menyukai bidang fotografi karena di sinilah ia bisa mengabadikan banyak cerita orang-orang. Afif senang ketika hasil karya-karya fotonya bisa membangkitkan perasaan tertentu untuk setiap orang yang melihatnya.
Di sisi lain, Afif Nur Efendi juga melihat tren fotografi yang mulai kontras antara kesempurnaan visual buatan AI dan ketidaksempurnaan visual buatan manusia.
Dengan adanya AI Photo dimana banyak orang menggunakan AI Image generator, siapa pun kini bisa menghasilkan gambar yang terlihat “sempurna”. Tapi, kesempurnaan visual belum tentu bisa bercerita. Karena ketajaman, pencahayaan dan komposisi bukan satu-satunya ukuran dari sebuah foto yang baik.
Berbeda dari karya-karya fotografer yang mampu menyesuaikan tone warna mengikuti suasana momen yang nyata. Meski tidak selalu sempurna tapi sebuah visual yang dihasilkan seorang manusia akan selalu memiliki nilai seni tersendiri.
Dari ketidaksempurnaan, sebuah foto malah lebih bisa bercerita dan terasa hidup.
Menurut Afif, seiring dengan berjalannya waktu AI generate photo berpotensi untuk mengikis “rasa” dari sebuah foto. Ia mengkhawatirkan kita jadi terbiasa melihat gambar-gambar hasil kecerdasan buatan sampai melupakan esensi dari sebuah foto itu sendiri.
Ia juga percaya bahwa sebuah foto tidak selalu tentang hasil akhir, melainkan ada momen yang dialami dalam setiap proses pengambilan gambar. “Experiencing the moment”, setiap orang selalu memiliki momen dengan cerita dan perasaannya tersendiri.
Bagaimana sikap yang bijak dalam penggunaan AI di bidang fotografi?
Afif menjelaskan tentang pentingnya sebuah proses di tengah teknologi yang terus berkembang. AI memang sangat cukup mengubah banyak tren fotografi, tapi penggunaan AI yang berlebihan juga beresiko pada kualitas karya.
Untuk itu, Afif memposisikan AI sebagai tools yang digunakan saat secukupnya dan saat dibutuhkan agar setiap hasil karyanya tetap memiliki rasa dan lebih hidup.
Teknologi boleh terus berkembang tapi pada akhirnya, AI bisa membantu menciptakan sebuah visual. Tapi, hanya manusia yang mampu memberikan makna dan nilai seni dalam sebuah foto.
Kenali Afif Nur Efendi lebih dekat!
Memasuki tahun perak Afif Nur Efendi berkarir menjadi seorang fotografer telah mengabadikan berbagai lini fotografi mulai dari human interest, commercial & branding, fashion, profile portrait, pet hingga event & documentary.
Berbekal pengalaman dan dedikasinya di dunia fotografi, Afif Nur Efendi tidak hanya dikenal sebagai fotografer profesional, tetapi juga sebagai seorang pengusaha, yaitu Co-Founder sekaligus Creative Director PT Temara Media Republik, perusahaan yang didirikannya bersama Tedja Somantri dan Rai Tedja Sukmana. Perusahaan ini berfokus pada layanan fotografi, videografi, digital marketing dan media dengan menghadirkan solusi kreatif bagi berbagai kebutuhan individu maupun korporasi.
Melalui PT Temara Media Republik, Afif Nur Efendi membuka ruang kolaborasi bagi siapa saja yang ingin menghadirkan cerita melalui visual yang bermakna, Karena setiap karya adalah sebuah cerita yang layak diabadikan, sehingga setiap hasil yang diciptakan tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memiliki makna dan rasa yang mendalam.*




