Hidayatullah.com–Masjid Assalam, Okachimachi, Tokyo kembali semarak dengan aktifitas mahasiswa dan pekerja Indonesia yang ada di Tokyo dan sekitarnya. Sebuah kajian dua mingguan dengan nama “Kajian Islam Okachimachi” (KIMOCHI), kembali dihelat meski di tengah cuaca Jepang yang sudah mulai dingin.
Kajian KIMOCHI terdiri dari dua bagian: Pertama, kajian tafsir yang diisi oleh KH. Jailani Abdussalam, LC, MA. Kedua, “Pemaparan Prinsip-prinsip Dasar dalam Bahasa Arab” oleh Ust. Abdurrohman.
Dalam kajian kemarin, Jailani Abdussalam memberikan penjelasan seputar Tafsir Surat Al-Baqarah: 178-186.
Secara umum ayat ayat ini membahas mengenai beberapa jalan menuju ketaqwaan, diantaranya tersebut dalam tiga hal: qishas, wasiat dan puasa.
Sementara pemateri kedua membawakan tema tentang prinsip dasar Bahasa Arab. Dalam materi itu sempat diceritakan kisah Utbah bin Rabiah, seorang ahli syair dan sihir dari golongan musyrikin yangg tersebut dalam tafsir Ibn Katsir surat Fushilat ayat 1 sampai ayat Sajadah.
Utbah diutus oleh kaumnya untuk menemui Rosulullah supaya menghentikan dakwah dengan menawarkan harta, kekuasaan, kerajaan, dan jika kena sihir akan dicarikan tabib sampai sembuh.
Kemudian Rosul yang mulia membacakan surat Al Fushshilat, mendengar itu Utbah sangat takjub tidak bisa berkata apa2 mendengar surat yang dibacakan Rosul. Utbah kembali kepada kaumnya dengan wajah yang berbeda dari sebelum bertemu dengan Rosul seraya mengatakan bahwa itu bukan sihir atau mantra, serta mengatakan tidak akan ada yang bisa menghalanginya, kalaupun bangsa arab bisa dikalahkannya maka kemenangannya adalah kemenangan bangsa arab juga. Kisah ini sengaja disampaikan untuk menunjukkan keistimewaan bahasa Arab sebagai bahasa al-Quran.
Beberapa alasan kuat mengajarkan mempelajari bahasa Arab dijelaskan ustad Abdurrahman di akhir sesi. Namun harapannya, dengan adanya materi ini bisa mudah mempelajari bahasa al-Quran.
“Semoga materi ini mampu memacu kita untuk mempelajari Bahasa Qur’an ini,” tegas Abdurrrahman.
Fithra Faisal, salah seorang Panitia Pengarah menjelaskan, bahwa pengajian Kimochi ini terselenggara atas inisiatif para peserta Dauroh Tsukuba III yang diadakan setahun lalu.
Daurah serupa rupanya juga diinginkan para mahasiswa dan pekerja Indonesia dari berbagai daerah di Tokyo dan sekitarnya. Seperti Tsukuba, Ibaraki, Saitama dan Chiba.Mereka berharap bisa memiliki pengajian rutin dua pekanan. Ini pulalah yang menjadi alasan kuat bagi “Forum Kajian Islam Tokyo dan Sekitarnya” (FORKITA) untuk istiqomah mengadakan Pengajian Kimochi yang akan genap berumur setahun pada Januari mendatang ini.
FORKITA akan kembali mengadakan Daurah Tsukuba IV yang akan diselenggarakan di Masjid Tsukuba, bekerja sama dengan Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia Tsukuba (FKMIT).*/jaelani