Hidayatullah.com—Hari Kamis malam, tanggal 21 Mei 2015, dilangsungkan perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) oleh #IndonesiaTanpaJIL di Jakarta.
Pemateri pada malam itu adalah Adnin Armas, MA dengan materi seputar filsafat.
“Sekarang ini, kalau tidak melakukan hal yang aneh atau bebas berpikir maka dianggap tidak filsuf. Filsafat seperti ini banyak diajarkan oleh dosen-dosen yang sama anehnya di beberapa perguruan tinggi di Indonesia,” ujarnya.
Filsafat model ini, ujar Adnin didasari oleh pengertian filsafat dari Barat yang justru merusak makna filsafat itu sendiri.
“Filsafat itu sendiri arti bahasanya adalah mencintai kebenaran,” ungkapnya. Anehnya, saat ini orang yang menganggap dirinya tahu malah dianggap bermasalah.
“Sebaliknya, yang mempunyai pendapat bahwa semua mungkin ada benarnya atau kita tidak boleh merasa benar sendiri, justru merekalah yang kini dianggap benar.”
Adnin memberi contoh bahwa di perguruan tinggi sekarang ada dosen filsafat yang mengatakan, “Apakah kalian pernah merasakan ciuman? Kalau belum pernah, coba saja sekarang di kelas!”
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa semua ini terjadi karena tidak ada nilai agama dalam pengajaran filsafat, khususnya yang diambil dari Barat.
“Mahasiswa-mahasiswa filsafat yang akidahnya masih lemah, yang shalat saja belum konsisten atau bahkan tidak shalat dan tidak mengerti maknanya, atau yang tidak membaca Qur’an dengan baik, sebaiknya jangan masuk ke dalam jurusan filsafat, karena pasti akan tidak terbentengi dan menjadi bingung sendiri dengan logika yang dibawa olehnya,” ujar Adnin menyarankan.
Menurutnya, bagi yang mau belajar filasat, maka harus mempersiapkan diri mempelajari bahasa Arab, belajar ushul fikih dan mengerti hukum-hukum Islam agar kita siap terjun ke dalamnya.
Lebih jauh ia juga menjelaskan bahwa ulama-ulama terdahulu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bersifat logika dan filsafat dengan mempelajari filsafat itu sendiri.
Umumnya mereka (para ulama, red) adalah para penghapal Qur’an, pengingat ribuan hadits, namun mereka juga bisa mengemukakan dengan baik penjelasan mengenai filsafat. “Kita harus pahami dan mengerti benar hakikat dari apa yang kita bicarakan. Kalau tidak, yang terjadi adalah debat kusir,” demikian pungkas Adnin.*/Kaisar Akbar (Jakarta)