Hidayatullah.com—Madrasah Aliyah Megeri (MAN) 1 Surakarta bekerjasama dengan Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) menyelenggarakan Seminar Jurnalistik dengan tema “Bersama Media Merangkul Dunia” di Gegung kesenian Taman Balekambang Kota Surakarta.
Seminar Jurnalistik tersebut diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri dari berbagai siswa madrasah aliyah dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Solo hari Ahad (29/11/2015).
Hadir dalam seminar jurnalistik sebagai narasumber Yusuf Ahmadi dari DPP AWPI (Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia) dan Setyawan Eka Rahmanta alias Setyawan Tiada Tara sang motivator Humor.
Tampil sebagai Narasumber dari DPP AWPI (Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia) Yusuf Ahmadi menjelaskan fungsi peranan pers dan jurnalis sebagai keterampilan dan seni dalam mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan tentang peristiwa.
“Fungsi pers dan jurnalistik, sebagai media informasi, sebagai media hiburan, sebagai media pendidikan, sebagai media kontrol berfungsi untuk melakukan kontrol terhadap pemerintah, kontrol sosial , kontrol tanggung jawab , kontrol suport , dan kontrol partisipasi,” ujarnya.
Seminar jurnalistik dinilai sebagai suatu cara untuk mempertajam serta mengasah bakat siswa dan mahasiswa agar mendapatkan isnpirasi sebagai penulis yang mewujudkan fenomena di sekitaran kita dalam bentuk karya, peserta diharapkan menjadi penulis yang mampu merespon segala kejadian di sekitar kita dengan baik, jelas Yusuf Ahmadi.
Dalam forum tanya jawab beberapa mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi UMS (Universitas Muhamadiyah Surakarta) membahas serta mengkritisi peranan media di Indonesia yang saat ini cenderung dalam pemberitaan kurang profesional, terutama terkait berita tentang politik dan kebijakan pemerintah, dikarenakan pemilik perusahaan pers atau media di miliki oleh penguasa elit politik.
“Bisa kita lihat dalam satu permasalahan antara berita TV satu dengan yang lainya selalu berlawanan. Untuk itu ini menjadi PR kita bersama, maka peran serta mahasiswa untuk mengkritisi dalam bentuk tulisan sangatlah penting guna menyajikan informasi yang ideal di tengah masyarakat saat ini,” ujar seorang mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi UMS (Universitas Muhamadiyah Surakarta).
Sementara itu, Setyawan Eka Rahmanta alias Setyawan Tiada Tara motivator humor yang kerap muncul di acara Stand Up Comedy, mengatakan humor bisa menjadi menjadi pusat perhatian. Dengan humor bisa menimbulkan senyum, menggelitik, bahkan menimbulkan tawa.
“Sesuatu itu bisa dikatakan lucu apabila menimbulkan tawa, terus diingat, dan meninggalkan kesan,” ujarnya.
Pria yang juga berprofesi sebagai dosen itu juga memberikan tips dan trik bagi yang ingin berkarir di dunia media.
“Setiap akan tampil harus tahu siapa audiens kita, buat naskah kecil tentang joke-joke sebanyak mungkin agar lebih terarah dan efektif. Pilihlah kostum yang paling bikin Anda percaya diri, awali dengan hal-hal yang menarik, joke yang singkat tapi mengena, kemudian akhiri dengan punchline yang paling lucu sehingga audiens akan terkesan.” ujarnya.*/kiriman DPW AWPI