Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Palestina Terkini

Gaza Gelar Kampanye Permintaan Maaf Inggris Atas Janji Belfour Jelang 2017

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 November 2015 07:58 7:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 November 2015 07:58
Bagikan
Peta pembagian Negeri Syam menurut perjanjian Sykes-Picot tahun 1916. Negeri yang dimerdekakan oleh Umar ibn Khattab lebih dari seribu tahun sebelumnya, dibagi-bagi oleh penjajah kafir seperti kue yang dipotong-potong. Karena jauhnya umat Islam dari sebab-sebab kemenangannya di masa lalu
Bagikan

Hidayatullah.com— Hari Ahad (29/11/2015) digelar kampanye “Permintaan Maaf Inggris Menjelang 2017”, sebuah gerakan rakyat lintas negara yang lahir dari proyek hak kembali bangsa Palestina ke tanah airnya.

Proyek hak kembali bangsa Palestina ke tanah kelahiranya yang dilakukan lembaga persahabatan Amerika Quakers bertujuan menuntut pemerintah Inggris dalam hal meminta maaf kebada bangsa Palestina atas kesalahan mereka memberikan tanah Palestina ini kepada yahudi saat itu dalam sebuah perjanjian yang dinamakan perjanjian Balfour.

Kampanye  yang mulai diluncurkan dalam konferensi pers di Gaza juga bertujuan meminta pertanggung jawaban secara sejarah dan hukum atas eksodusnya bangsa Palestina akibat tekanan dari pemerintah Inggris.

Mera diberikan tenggang waktu selama dua tahun hingga 2017 mendatang, bertepatan 100 tahunnya Perjanjian Balfour.

Dikutip Sahabat Al Aqsha, kampanye menuntut permintaan maaf Inggris atas Deklarasi Balfour itu diluncurkan secara resmi di London pada 19 Januari 2013 saat konferensi akademis yang diselenggarakkan oleh Palestinian Return Center.

Baca Juga

Hamas Tolak Lucuti Senjata Sebelum Penjajah Tinggalkan Gaza
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
Al-Aqsha Ditutup untuk Muslim, Para Rabi Berdoa di Tembok Al-Buraq Picu Sorotan
Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina

Gerakan ini sudah dimulai bulan April 2013, di mana sebanyak 220 delegasi dari berbagai negara menandatangani memorandum yang menuntut Inggris meminta maaf atas Deklarasi Balfour.

Penandatangan petisi itu dilakukan dalam sebuah konferensi yang digelar di Kairo dari 4-6 April lalu. Konferensi itu dihadiri para pemuka dari negara-negara Arab dan Muslim.

Petisi itu antara lain ditandatangani oleh anggota parlemen, para pelajar, akademisi, wartawan, politikus, pemimpin asosiasi, dokter, insinyur serta penulis dari berbagai negara Arab, Islam dan Barat.

Kampanye ini ditujukan untuk mengumpulkan satu juta tanda tangan dalam waktu lima tahun yang akan disampaikan kepada pemerintah Inggris agar meminta maaf kepada rakyat Palestina terkait Deklarasi Balfour.

Deklarasi Balfour adalah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour kepada pemimpin komunitas Yahudi Inggris, Lord Rothschild untuk dikirimkan kepada Federasi zionis.

Surat itu menyatakan sikap yang dimufakati oleh Rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917 bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis untuk membuat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina, dengan syarat zionis tidak melakukan hal-hal yang mungkin merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana.

Pada waktu itu, sebagian besar wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Islam terakhir, Turki Usmaniyah, namun Inggris telah menyiapkan diri untuk mengalahkan pasukan Usmaniyah dan menguasai Palestina. Batas wilayah yang akan menjadi bagian ‘Israel’ telah dibuat dalam Perjanjian Sykes-Picot, yang telah disetujui sebelumnya oleh Inggris dan Prancis pada 16 Mei 1916.

Perjanjian Sykes-Picot adalah sebuah kesepakatan sepihak yang dilakukan Inggris dan Prancis yang dikemudian hari membagi Negeri Syam menjadi empat negara jajahan: Palestina dan Yordania di bawah Inggris, Suriah dan Libanon di bawah Prancis.

Deklarasi itu membuktikan, Inggris menyetujui berdirinya pemerintahan Yahudi di Palestina dan memberi bantuan dalam pembentukan negara tersebut. Lalu pada 1948, David Ben-Gurion membacakan proklamasi berdirinya negara bangsa Yahudi di Palestina yang diberi nama ‘israel’. Setelah itu, terjadilah “pengusiran” besar-besaran terhadap rakyat palestina dari Tanah Air yang telah menjadi hak mereka selama bertahun-tahun.

Termasuk yang menjadi puncak penjajahan itu, pada tanggal 5 Juni 1967, penjajah Zionis Yahudi merampas Masjidil Aqsha, salah satu masjid terpenting dalam aqidah tauhid, sampai hari ini.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Deklarasi BalfourisraelMasjidil Al AqshapalestinaPerjanjian Sykes-Picot
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya MAN 1 Surakarta Selenggarakan Seminar Jurnalistik “Bersama Media Merangkul Dunia”
Tulisan selanjutnya Al-Quran dan Pemimpin Kafir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Berita
31 Agustus 2026 20:04
Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Terbaru

  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Mungkin Anda Juga Suka

Palestina Terkini

Menteri Penjajah Tuangkan Miras Rayakan Disahkannya Hukuman Mati untuk Warga Palestina Terjajah

31 Maret 2026 09:13
Palestina Terkini

Zionis Sahkan Undang-Undang Hukuman Mati bagi Warga Palestina Terjajah, Picu Kritik Internasional

31 Maret 2026 09:08
Palestina Terkini

Babak Baru Pendudukan: ‘Israel’ Resmikan Pencaplokan Tepi Barat

17 Februari 2026 14:18
Palestina Terkini

Khaled  Misy’al: Senjata Bagi Hamas adalah Alat Pertahanan Diri dari Penjajahan

10 Februari 2026 06:48
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?