Hidayatullah.com–Sekitar 2000-an jamaah dari berbagai daerah di kota Yogya menghadiri dzikir dan tabligh akbar bersama Ustadz Arifin Ilham di Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Ahad (14/2/2016). Acara yang di mulai pukul 08.00 wib ini bertajuk ‘berdakwah membangun kampung Indonesia’. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka momentum setengah abad Masjid Jogokariyan.
Dalam tausyiahnya, Arifin berpesan agar jama’ah menjalankan tiga hal, yaitu lurskan niat, tetap beribadah serta terus berkhitmat (berbuat baik). “Waktu itu sangat singkat, kita tidak ada waktu untuk berleha-leha. Itulah yang membuat orang beriman selalu menjaga agar waktunya dipenuhi hal-hal yang bermanfaat serta tidak membuang waktu dengan bermaksiat,” ucap Arifin.
Arifin yang pernah tiga tahun menjadi marbot (tukang bersih-bersih masjid) pada sebuah masjid di kawasan Cibubur, Jakarta Timur ini juga mengingatkan agar jamaah senantiasa beristighfar dan giat melakukan sholat malam.
“Sholat yang paling utama yaitu sholat malam, bacaan Qur’an yang paling utama yaitu saat qiyamullail, dan doa yang paling diijabah adalah saat sepertiga malam terakhir,” seru Arifin.
Pada awal acara, ketua panitia Ustad Salim A Fillah berharap momentum setengah abad masjid Jogokariyan ini bisa menghasilkan kaum muslimin yang lebih berkualitas. Sehingga mulai dari Kepala Desa Camat, Bupati, Gubernur bahkan Presiden akan diisi oleh pemimpin yang berkualitas yang dilahirkan dari masjid.
“Momentum setengah abad ini menjadi titik tolak untuk bersyukur, bersabar dan meningkatkan semangat untuk bekerja dalam dakwah.” Kata Salim.
Dalam kesempatan lain, penasihat takmir masjid Jogokariyan, Ustad Jazir ASP menyampaikan bahwa kini Masjid Jogokariyan memiliki cita-cita agar kelak generasi selanjutnya dapat menghasilkan imam Masjidil Haram sebagaimana dulu ulama Indonesia juga banyak menjadi Imam di tanah suci. Sebut saja Syeikh Akhmad Khatib Al Minangkabawi, atau Arsyad al Banjari sebagai contohnya.
“Hal ini ditandai dengan dimulainya Masjid Jogokariyan merintis rumah tahfidz untuk menciptakan kader-kader imam,” ucap Jazir yang juga dosen ilmu sejarah di Universitas Gajah Mada.
Acara diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan berupa kaligrafi karya seorang seniman yang menjadi pendakwah, Ustad Mahroji Khudori. Penyerahan disampaikan langsung oleh ketua takmir masjid jogokariyan, M. Fanni Rahman.*/Upi Alwie (Jogjakarta)