Hidayatullah.com—Bertempat di aula AQL Islamic Center Tebet Jakarta (29/07/2018), Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat Jakarta menghelat acara bedah buku sepesial karya kiai muda kondang NU; KH. Idrus Romli yang berjudul “Akidah Ahlus Sunnah Wal-Jamaah Penjelasan Sifat 50.”
Acara yang digelar dari ba’da shalat dzuhur ini dihadiri oleh dua pembedah yang cukup otoritatif Dr. Hendri Shalahuddin (Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations/INSISTS) dan Dr. Tiar Anwar Bachtiar (Sejarawan dan peneliti INSISTS).
Abdussalam – sang moderator acara yang merupakan alumni Ponpes Sidogiri – dalam sambutan acara yang begitu sepesial ini menyampaikan sedikit prolog mengenai buku ini. Katanya, di dalam hadits shahih – riwayat Abdullah bin Umar– dikatakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu yaitu golongan di mana aku dan para sahabatku berada di dalamnya.
“Nah, kira-kira siapa dalam konteks Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan Firqah Najiyah ini?” jawabannya bisa ditemukan dalam buku yang akan dibedah kali ini.
Pada pembukaan bedah buku, KH. Muhammad Idrus Romli mengemukakan bahwa buku ini ditulis atas permintaan banyak orang yang menginginkan dibukukannya ceramahnya yang sejak 2009 akhir menyampaikan tentang akidah Ahlus Sunnah Wal-Jamaah. Alhamdulliah, atas izin Allah buku yang cukup berbobot ini bisa dirampungkan.
“Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jamaah?” Alumni Pondok Pesantren Sidogiri sampai tahun 1997 ini melanjutkan diskusi dengan pertanyaan yang cukup penting ini. Ia jelaskan satu persatu kata-kata tersebut secara bahasa dan istilah kemudian ia menyimpulkan bahwa, “Ahlus Sunnah Wal-Jamaah adalah golongan yang mengikuti jalan yang diridai oleh Allah serta selalu menjaga jamaah, kekompakan, kebersamaan dan kerukunan.”
Lalu jika demikian, muncul pertanyaan lanjutan, “Golongan mana yang disebut Ahlus Sunnah Wal-Jamaah?” Yang mengaku Ahlus Sunnah Wal-Jamaah kata Gus Idrus hanya dua golongan. Pertama, jumhur muslimin yang mengikuti akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Kedua, kelompok yang mengikuti manhaj Syeikh Ibnu Taimiyah.
Apa yang ditulis oleh ia dalam buku ini adalah Ahlussunah Wal-Jamaah versi Asy’ariyah. Karenanya yang ia uraikan di dalamnya adalah sifat 50. Sebenarnya sifat 50 ini adalah 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah dan 1 sifat jaiz bagi Allah. Selanjutnya, 4 sifat wajib bagi para Rasul, 4 sifat mustahil bagi para rasul dan satu sifat jaiz. Jadi, keseluruhannya ada 50.
Menjadi pertanyaan menarik kemudian –sebagaimana ia pernah ditanya—mengapa ulama membangun konsep sifat 20 padahal Asmaul Husana ada 99?
Pria yang aktif di Lajnah Ta’alif wa an-Nasyr Jawa Timur ini menjawab dengan cukup gamblang. Pertama, tujuan ulama mengenalkan sifat 20 adalah untuk mengantarkan orang pada makrifat kepada Allah. Kedua, sifat dua puluh ini batas kemampuan akal manusia memahami makrifat kepada Allah. Ketiga, sebagai respon penyimpangan di luar Ahlis Sunnah tentang sifat Allah. Misalnya melawan Muktazilah dll. Keempat, sifat dua puluh ini kalau kita pikir adalah jawaban dari soal-soal yang mendasar tentang ketuhanan. Selain itu, kalau untuk mengantar orang untuk makrifat kepada Allah sangat sistematis sekali.
Setelah itu ia menyampaikan dengan ringkas maksud dari masung-masing sifat 50. Kemudian disambung dengan Dr. Henri Shalahuddin yang menyatakan secara ringkas tentang problem yang dihadapi umat Islam utamanya masalah akidah.
Menurut pria yang pernah nyantri di Ponpes Modern Darussalam Gontor ini, gerakan liberal, radikal, feminisme, pemurtadan dan lain sebagainya yang bisa mengancam akidah umat.
Pada akhir paparan, penulis buku “Keserasian Gender” ini bertutur, “Alhamdulillah kehadiran buku ini merupakan kontribusi besar untuk umat dalam mengantarkan umat untuk mengenalkan Sang Khaliq di saat generasi di dunia pendidikan disekulerkan dan diliberalkan,” ujarnya.
Sementara itu, Dr Tiar Anwar Bachtiar lebih menyoroti dari sisi sejarah. Bahwa konflik di lapangan internal umat Islam misalnya seperti Asy’ariyah dan Wahabi sudah masuk pada ranah politik. Ketika ini dibawa ke Indonesia –karena sudah masuk ranah politik—dibuat untuk mengadu domba antar elemen umat.
Padahal, kalau ini dilepas dari masalah politis dan sering-sering diadakan dialog dalam hal akidah di kalangan Ahlus Sunnah Wal-Jamaah, maka itu akan menjadi kekayaan khazanah intelektual umat Islam.
“Supaya kedepan lebih produktif, maka harus lebih diperbanyak kajian membahas masalah ini,” ujar pria yang juga Sekretaris Hubungan Masyarakat dan Kelembagaan (HMK) PP Persis ini.
Acara terakhir adalah pertanyaan yang disampaikan oleh tiga penanya yang ditujukan kepada Idrus Romli. Tepat pukul 15.00 WIB acara ditutup oleh moderator acara.*/kiriman Mahmud BS (Jakarta)