Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Buya Hamka Tidak Anti Politik

Ahmad
Terakhir diupdate: 24 Januari 2019 14:57 2:57 pm
Ahmad
Dipublikasikan 24 Januari 2019 14:57
Bagikan
Akmal Sjafril, seorang pegiat #IndonesiaTanpaJIL (ITJ)
Bagikan

Hidayatullah.com–“Buya Hamka adalah ulama multidimensional,” demikian ungkap Akmal Sjafril saat mengawali presentasinya dalam kajian “Napak Tilas Keteladanan Politik Buya Hamka” di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Cawang, Ahad (20/01) lalu. Kajian ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan 111 Tahun Buya Hamka yang merupakan program utama Sekolah Pemikiran Islam (SPI) di awal tahun 2019.

Buya Hamka lebih dikenal sebagai seorang sastrawan dan ulama, bukan politisi. Meski demikian, bukan berarti beliau anti politik. Hamka bahkan sangat memandang penting politik sebagai bagian dari ajaran Islam, hanya saja beliau merasa politik bukanlah lapangan yang tepat untuk dirinya.

“Dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, Pak Rusydi Hamka menulis kata-kata yang pernah didengarnya dari Buya Hamka. ‘Kebudayaan adalah lubuk, politik permukaan. Apa yang bergolak pada permukaan timbul dari lubuk yang dalam’. Dua kalimat ini bisa menjelaskan bagaimana Buya Hamka memandang politik,” ungkap Akmal yang dikenal luas sebagai aktivis komunitas #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) ini.

Lebih suka memandang dirinya sebagai budayawan ketimbang politisi, Hamka memandang bahwa kepedulian terhadap politik justru merupakan konsekuensi dari tauhid itu sendiri.

“Saat menjelaskan soal tauhid dalam buku Pelajaran Agama Islam, Hamka menjelaskan bahwa seorang mukmin pasti memikirkan kehidupan ini secara mendalam. Karena itu, mereka terbiasa dengan keseimbangan dan keadilan, dan sebaliknya, tidak suka dengan kezaliman. Buya Hamka bahkan menganggap bahwa orang yang diam saja menyaksikan kezaliman itu sesungguhnya tengah berdiri di ambang pintu kemusyrikan,” tandas penulis buku Islam Liberal 101 ini.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Dengan demikian, menurut Akmal, Buya Hamka tidak mengidentikkan politik dengan kekuasaan, melainkan dengan sikap terhadap keadilan dan kezaliman.

“Karena para ulama senantiasa harus terdepan dalam menyuarakan tegaknya keadilan dan penentangan terhadap kezaliman, maka apa yang dikerjakan ulama itulah politik, meski tidak mesti melalui jalur politik praktis,” pungkas Akmal. 

Penafsiran  Al-Maidah 51 Sudah Jelas

 Akmal juga menyinggung  Pilkada DKI 2017 yang lalu, dibanyak banyak kehebohan terjadi lantaran telah terjadi penistaan terhadap Al-Qur’an. Lebih tepatnya, penistaan terjadi berhubungan dengan ayat ke-51 dalam Surat Al-Maidah.

Menurutunya, muncul berbagai info menyesatkan seputar penafsirannya semestinya tidak perlu terjadi, andai saja umat Muslim akrab dengan kitab-kitab tafsir para ulama, contohnya Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka.

Sebab menurutnya, penjelasan Buya Hamka saat menafsirkan ayat tersebut sudah sangat gamblang, sehingga tidak akan menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam.

“Maka orang yang telah mengambil Yahudi atau Nasrani menjadi pemimpinnya itu nyatalah sudah zalim. Sudah aniaya, sebagaimana kita maklum kata-kata zalim itu berasal dari zhulm, artinya gelap. Mereka telah memilih jalan hidup yang gelap, sehingga terang dicabut oleh Tuhan dari dalam jiwa mereka. Mereka telah memilih musuh kepercayaan, meski bukan musuh pribadi,” demikian yang tercantum dalam Tafsir Al-Azhar saat menafsirkan ayat tersebut, sebagaimana dibacakan oleh Akmal.

Peneliti di Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini menekankan bahwa Tafsir Al-Azhar semestinya menjadi bahan kajian di banyak majelis.

“Tafsir yang satu ini tergolong istimewa, karena ia dituliskan oleh satu dari sedikit mufassir asli Indonesia,” ungkapnya lagi.

Dalam mewujudkan kepemimpinan Islam itu, menurut Hamka, tugas ulama-lah dalam memberikan bimbingan, dan sebaliknya, tugas ulama pula untuk memberikan perlawanan manakala terjadi kezaliman.

“Ulamalah pelita di waktu sangat gelap. Ulamalah penunjuk jalan di belukar hidup yang tak tentu arah. Ulamalah pemberontak kekuasaan sewenang-wenang, melawan kezaliman dan aniaya,” demikianlah sepenggal pesan Buya Hamka yang tertulis dalam bukunya, Renungan Tasauf, yang dibacakan oleh Akmal di akhir uraiannya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akmalAl-Maidah 51Hamkapemimpin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ahok Bebas, Keluar Mako Brimob Lewat Pintu Belakang
Tulisan selanjutnya Tiar Anwar Bachtiar: Kehebatan Hamka Terlihat di Konstituante

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?