Hidayatullah.com–Pos kemanan Israel mencegat ibu-ibu hamil yang hendak pergi ke rumah sakit untuk persalinan. Akibatnya, banyak dari mereka yang melahirkan tanpa pertolongan medis. Korban dari kalangan wanita dan bayi pun berjatuhan”Kami mengatakan kepada tentara-tentara itu, bahwa saya harus pergi ke rumah sakit dengan segera, karena saya akan melahirkan,” ucap Misuk Hayik (23) ketika sampai di pos pemeriksaan yang dijaga oleh tentara Israel.Pada awalnya mereka menolak, lalu menyuruh Misuk membuka perutnya, hingga mereka yakin bahwa misuk benar-benar hamil. “Setelah pemeriksaan itu,” cerita Misuk, “satu jam kemudian mereka membolehkan kami melewati pos pemeriksaan. Maka mobil yang kami tumpangi bergerak. Akan tetapi setelah berjalan beberapa ratus meter, saya mendengar letusan senjata, dan percikan api terlihat dari depan mobil, dan mobil yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti.” Misuk melihat luka dibagian tas tubuh suaminya yang duduk di kursi kemudi. Ayahnya yang duduk disamping suaminya juga diterjang peluru di tubuh bagian atasnya.”Saya yang berada di bagian belakang mobil, berusaha melindung kepala dengan tas yang berisi pakaian bayi. Walau demikian, serpihan kaca yang berasal dari kaca depan sempat melukai saya. Setelah tembakan berhenti, suasana menjadi senyap, saya berbicara kepada suami dan ayah saya, akan tetapi tidak ada yang menyahut. Saya sadar bahwa situasi begitu mengkhawatirkan dan rasa sakit di dalam perut mulai aku rasakan.Saat itu, saya mulai menangis dan menjerit. Beberapa tentara berdatangan dan mengeluarkan saya dari mobil, dan memaksa saya untuk membuka pakaian. Saya dibiarkan di jalanan tanpa memberikan pakaian untuk menutup badan dalam keadaan terluka dan kesakitan. Kemudian mereka membawa suami dan ayah saya ke rumah sakit Israel. Mereka juga memanggil ambulan dari Nablus untuk saya.” Setelah tiba di rumah sakit, “Bayi perempuan saya lahir, di tangga rumah sakit, dan saya beri nama Fida.” Misuk memperoleh bayi mungil, akan tetapi di saat yang sama ia kehilangan suami dan ayahnya setelah melewati pos pemeriksaan. Kisah nyata ini terekam dalam jurnal Al Mu’anah Al Mar’ah Al Filisthiniyah.Pos-pos kemanan Israel, seakan menjadi tempat untuk menyerahkan nyawa. Tidak hanya bagi manusia dewasa, tapi juga bagi bayi-bayi yang masih dalam kandungan pun terancam kehidupannya. Bagi wanita Palestina yang hendak melahirkan dan segera membutuhkan pertolongan medis, maka bertemu dengan pos-pos Israel adalah sebuah keadaan yang gawat.Mereka yang pernah terjebak dalam situasi di atas, salah satunya adalah Malkah Qafishah, seorang ibu yang tinggal di kota Khalil. Pada bulan ke tujuh dari masa kehamilannya, pasukan Israel memasuki kotanya dan mulai menyalakkan senjata-senjata mereka.”Saya mendengar letupan senapan dan meriam yang berasal dari helikopter yang seperti mendekat ke rumah kami. Saat itu, kesadaran saya mulai menghilang dan saya terjatuh pingsan di depan pintu dan mengeluarkan banyak darah,” tutur Malkah.Keluarganya mengetahui apa yang harus dilakukan. Ambulan segera dipanggil guna membawa Malkah menuju ruma sakit untuk melakukan persalinan. Namun karena situasi kota cukup mencekam dan membahayakan, maka baru satu jam kemudian ambulan bisa sampai dengan selamat di rumah keluarga Malkah.Untuk menuju rumah sakit, Malkah harus melewati 4 pos keamanan Israel, sebelum diperiksa oleh para dokter di rumah sakit. Di setiap pos, tentara-tentara Israel membuka pintu ambulan. Dengan menjalani pemeriksaan itu, perjalanan yang mestinya bisa ditempuh dalam 5 menit molor menjadi 1,5 jam.Hingga tiba di rumah sakit, dokter memandangnya seraya mengatakan, “Sayang sekali…., seandainya Anda sampai di sini dua puluh menit sebelumnya, mungkin kami bisa menyelamatkannya.” Bayi itu telah meninggal di perjalanan sebelum dilahirkan.Peristiwa tragis juga menimpa Ruwaidah Naji Rasyid, yang tinggal di Desa Al Waljah, Bait Lahm (Betlehm). Ia mengandung setelah begitu lama menunggu. Di bulan ke tujuh, ia merasakan nyeri di perutnya. Ia sadar kalau hendak melahirkan.Bersama suaminya, ia meluncur menuju rumah sakit. Tidak seperti yang mereka harapkan, pasukan Israel melarang mereka melewati pos penjagaan. Sang suami mencoba agar mereka mengizinkan, akan tetap para penjaga itu bergeming. Akhirnya keduanya kembali ke rumah.Sekali lagi mereka kambali dan mencoba menembus pos pemeriksaan. 20 menit, sang suami berdebat dengan para penjaga itu. Hasilnya mereka tetap tidak memberikan izin. Tidak ada pilihan lain bagi suami-istri itu, kecuali menempuh jalan tak beraspal dan terjal, yang memakan waktu satu jam setengah untuk melaluinya, agar terhindar dari pos Israel.Di tengah perjalanan, si ibu melahirkan bayi merah yang beratnya hanya 1,416 gram. Janin itu tiba di rumah sakit setelah menempuh perjalanan yang amat payah dan suhu badannya menurun. Di rumah sakit, para dokter sudah mencoba menolong, tetapi si bayi meninggal, setelah satu jam berada di rumah sakit.Penderitaan Rola Asytiyah lebih parah dari kisah-kisah di atas. Saat usia kehamilannya mencapai 8 bulan, ia sudah merasakan bahwa bayinya hendak lahir. Karena itu, pada pukul 05:00 pagi hari bersama suaminya, berangkat menuju rumah sakit Rafidiyah di kota Nablus. Dalam kondisi normal, perjalanan itu hanya memakan waktu 15 menit.Dawud, suaminya menelpon Bulan Sabit Merah, agar bisa mengirim ambulan. Akan tetapi pihak Bulan Sabit Merah mengatakan bahwa ambulan tidak bisa menuju desanya, karena terhalang pos Israel. Mereka hanya bisa bertemu di pos itu, sehingga Rola dan suaminya harus berjalan menuju pos. Celakanya, sesampainya di depan pos keduanya dilarang lewat, sebagaimana nasib yang dialami ambulan.Rola pun tidak bisa menahan lagi. Berbekal beberapa lembar selimut, ia pergi ke padang pasir yang tidak jauh dari pos penjagaan, dan melahirkan di tempat itu. Jeritan Rola yang memecah sunyi tidak membuat para tentara penjajah itu iba. Dawud berkali-kali meyakinkan kepada para serdadu itu bahwa istrinya telah melahirkan. Setelah beberapa menit terdiam, Rola kembali menjerit-jerit, “Bayinya meninggal” bayinya meninggal”.Akhirnya para penjaga itu mengizinkan Dawud menyewa taksi ke rumah sakit. Namun segalanya sudah terlambat. Bayi itu lahir di dekat pos Israel dan meninggal di tempat itu pula. Rencananya mereka hendak memberi nama bayi perempuan itu dengan nama Mira. Ternyata nama itu tidak terpakai kecuali hanya satu kali, yakni sebagai tanda di nisan pusaranya yang kecil. Kejadian-kejadian memilukan di atas hanya sebagian kecil dari pendereitaan ibu-ibu Palestina. Karena, sejak tahun 2000 hingga 2006 tencatat sudah ada 69 kasus kalahiran yang terjadi di pos-pos pemeriksaan, sebagaimana telah dilansir oleh Kementerian Kesehatan Palestina. Dari kasus kelahiran itu, 35 bayi meninggal di pos-pos pemeriksaan, karena tidak mendapatkan perawatan medis dengan segera. Dan 5 ibu juga meninggal karena terpaksa melahirkan dekat pos-pos itu, tanpa memperoleh pertolongan yang layak.[Thoriq/Sahid/hidayatullah.com]