USTADZ bercambang itu lari mencari tempat persembunyian. Di belakangnya, puluhan santri mengikuti kemana sang ustadz pergi. Langkah-langkah mereka terus dibayangi oleh beringasnya sekelompok massa yang hendak menumpahkan amarah. Massa yang merupakan penduduk asli Merauke (Papua) itu membawa berbagai senjata tajam seperti golok, arit, tombak, linggis, hingga panah. Jumlahnya ratusan. Orang-orang itu menyerbu kompleks Pesantren Hidayatullah Merauke. Apa saja yang ada di depan mata mereka dilibas. Akibatnya, beberapa bangunan rusak.
Tiga orang santri kena sabetan golok. Lainnya ada yang tercocok tombak. Muallimin Amin, ustadz bercambang itu, pun kena sasaran. Beberapa bagian tubuhnya terluka. Peristiwa itu terjadi tahun 2001 lalu, ketika bumi Papua diguncang isu merdeka. Kaum pendatang jadi sasaran kemarahan warga asli. Orang Papua yang tinggal di pedalaman pun turun gunung, menyerbu daerah keramaian.
“Alhamdulillah, sekarang sudah kembali normal,” tutur ayah tiga anak kelahiran Makassar ini.
Berdakwah di Papua memang harus ‘tahan banting’. Tak cuma harus berhadapan dengan warga setempat yang sebagian besar masih belum mengenal Islam, namun juga perlu energi ekstra untuk melawan ganasnya alam.
Wilayahnya begitu luas. Sebagian besar berupa hutan. Di sela-sela belantara itu, ada berbagai komunitas suku yang menanti pembinaan. Di sisi lain, sumber daya dai masih sangat terbatas. Tidak hanya dalam hal jumlah, namun juga sarana dan prasarana.
“Terbatas dana, fasilitas, dan sumber daya manusia. Itulah sebabnya langkah dakwah di Papua hanya mampu berjalan lambat,” kata Muallimin yang sudah berpengalaman 15 tahun menjelajah wilayah Papua.
Ini sangat kontras dengan kalangan zending dan misionaris. Soal SDM, bisa dikatakan tak terbilang jumlah. Fasilitasnya pun serba wah, mulai dari logistik sampai pesawat terbang.
Ada satu lagi hal lain yang seringkali menciutkan nyali para dai, yaitu ganasnya nyamuk malaria.
“Nyamuknya sebesar burung,” Muallimin mengiaskan betapa mengerikannya serbuan hewan malam itu.
Pada musim kemarau, nyamuk malaria seolah tak ada. Namun begitu musim hujan tiba, tak terhitung sudah jumlahnya. Nyamuk-nyamuk itu seolah tumpah dari langit.
Permukaan kulit terbuka sedikit saja, misalnya lengan, akan langsung ditempati ratusan nyamuk. Bedanya dengan daerah lain, nyamuk di Papua sungguh ‘pemberani’. Sekali menempel, mereka tak mau lepas lagi, kecuali dibunuh.
Di tengah situasi seperti itu, para dai itu terus hilir mudik membina kaum Muslimin di perkotaan, pedesaan, sampai daerah terpencil. Di kota Merauke, misalnya, pembinaan rutin berlangsung di beberapa lokasi seperti Majelis Taklim Kodim 707, Majelis Taklim Kelapa Lima, pengajian rutin setiap malam Ahad di pesantren, serta pengajian dari masjid ke masjid.
Sedang pembinaan di desa dan kawasan terpencil meliputi Desa Tanah Miring Satuan Pemukiman (SP) 3 dan SP 6, Desa Maryam Indah, Desa Nguti Bob, serta Kampung Kecil Kombe. Khusus untuk pengajian bagi masyarakat pribumi yang Muslim, dikonsentrasikan di daerah Gudang Arang, sebuah kawasan di pinggiran kota Merauke.
Hidayatullah menjalin kerjasama dengan tokoh setempat. Misalnya dengan Wilhelmus Waros Gebze (54), Kepala Suku Marlin yang masuk Islam pada tahun 1988. Ia bahkan menaruh harapan besar kepada para juru dakwah di Papua.
“Hendaknya para mubaligh lebih gigih lagi dalam membina Muslim pribumi. Berdayakanlah mereka agar kelak juga dapat berbuat lebih banyak lagi untuk Islam di daerah ini,” kata Wilhelmus kini memiliki sebuah pesantren untuk penduduk pribumi itu.
Pesantren Hidayatullah Cabang Merauke dirintis oleh Ustadz Ardiansyah (1989). Dia terjun ke daerah itu ketika masih berstatus pengantin baru. Ardiansyah pernah nyantri di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.
Pada tahun 1992 dilanjutkan oleh Ustadz Sarbini Nasir. Pada masa kepemimpinannya, Hidayatullah mendapat tanah hibah dari masyarakat Muslim setempat seluas 20×20 meter persegi di Desa Kombe, Kecamatan Kurik, Kabupaten Merauke. Jarak dari pusat kota ke Kombe sekitar 20 kilometer.
Keberadaan kampus itu membuat Hidayatullah makin dikenal. Tahun 1994-1995, ada seorang simpatisan yang menghibahkan tanahnya seluas 2,5 hektar di kota Merauke.
Sejak saat itu, aktivitas santri dari Kombe dipindah ke Merauke. Lokasi lama dijadikan lahan pertanian dan Taman Pendidikan Al-Quran bagi anak-anak sekitar desa.
Tongkat komando Nasir beralih ke tangan Ustadz Sudirman Ambal dan Ustadz Muflih. Kedua dai ini membangun sejumlah sarana antara lain masjid sebagai sentra kegiatan, rumah untuk asatidz (para ustadz), kantor sekretariat, dan asrama untuk santri.
Sudirman Ambal kemudian dipindah ke Jayapura. Hidayatullah Merauke kemudian dipercayakan kepada Muallimin Amin, dai muda yang sudah malang melintang di Papua. Saat di bawah asuhan Muallimin itulah terjadi kerusuhan di Merauke.
Saat ini Pesantren Hidayatullah Merauke dipimpin Ustadz Jumardin. Santrinya ada 50 orang, beberapa di antaranya anak-anak asli Papua. Selain membina santri di kampus pesantren, Jumardin dan kawan-kawan mempunyai ratusan binaan di kota dan desa. Meski begitu berat tantangan dakwahnya, para dai Hidayatullah tak pernah menyurutkan langkahnya.*/Ali Athwa