BERDIRI di halaman depan rumah, dua perempuan muda semampai itu mengumbar senyum. Mengenakan hijab seadanya dengan stelan bawahan ketat, kepalanya ditutupi kain lebar sebagai pengganti jilbab.
“Saya mau ketemu ustadz,” kata seorang diantaranya kemudian setelah mengucapkan salam menyampaikan perihal kedatangannya. Dengan sopan ia kemudian dipersilahkan masuk.
Di ruang tamu rumah sederhana itu, shahibul bait menjamu hangat kedua tamunya ditemani beberapa jenis penganan. Salah satu dari perempuan itu pun mulai bercerita. Cukup lama ia menuturkan keluh kesahnya.
“Saya mau bertaubat,” katanya tiba-tiba, seraya air matanya tumpah.
Budi Setiawan, orang yang dituju oleh tamu tersebut, mendengarkan secara seksama “curhahan hati” salah satu dari wanita yang datang di siang hari itu. Wanita tersebut, masih dengan tangisnya, mengaku sangat berdosa atas segala perbuatannya. Ia ingin berhenti menjadi, maaf, tente girang yang selama ini digelutinya.
Wanita yang datang ditemani dengan sahabatnya ini berterus terang bahwa ia kerap “menaklukkan” para lelaki dengan menggunakan ilmu daya tarik berupa susuk yang dibenamkan di dalam tubuhnya oleh paranormal yang bersekutu dengan Jin. Ia kini menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu sangat bertentangan dengan syariat Islam.
Usia mendengar semuanya, Budi kemudian menasihati perempuan tersebut untuk bertaubat kepada Allah yakni selalu melafazkan istighfar dengan penuh kesadaran, tidak lagi melakukan kesyirikan, dan selalu mendirikan sholat fardhu.
“Kalau ibu melaksanakan itu semua dengan ikhlas, tanpa ada paksaan dan berat hati, Allah pasti mengampuni. Dan, segala susuk yang melekat pada ibu akan lepas, Insya Allah,” kata Budi menasihati.
Wanita itu kemudian dituntun untuk mengucapkan syahadat kembali dan melafazkan istighfar dengan tulus ikhlas. “Ibu harus rela, harus ikhlas, bertaubat benar-benar. Kalau tidak, percuma, susuk ibu tidak akan bisa lepas,” wejang Budi lagi. Tak dinyana, wanita ini tiba-tiba tangisnya pecah. Kali ini lebih keras. “Iya, ustadz, saya ikhlas mau bertaubat”.
Alhamdulillah, kini wanita tersebut telah kembali menemukah hidayah Allah, telah melepas segala atribut kesyirikannya, dan hidup bahagia bersama kerabatnya di sebuah kelurahan di Balikpapan.
Dari Mobil Hingga Handphone
Meski terus diserang stroke, Budi tidak berhenti untuk berdakwah. Ia mulai diserang stroke sejak tahun 2008. Gejala itu bermula saat Budi secara rutin menjalani profesi sampingan mencari nafkah sebagai sopir taksi lintas kota di Kalimantan Timur. Tiap malam ia kerap tidak tidur mengantar penumpang dari satu kota ke kota lain.
“Setiap malam hampir selalu begadang karena antrian penumpang yang selalu ramai, ditemani kopi,” kisah Budi. Ia mengatakan konsumsi kopi yang banyak dan kerap tak tidur malam menjadi salah satu pemicu serangan stroke tersebut.
Seperti diketahui, stroke adalah penyakit mematikan. Stroke terjadi apabila pembuluh darah di otak tersumbat atau pecah. Saat ini Budi mengidap stroke iskemik, yaitu stroke yang terjadi karena sumbatan pembuluh darah. Badan sebelah kirinya tak bisa apa-apa. Lengan di bahu kiri tak bisa lagi digerakkan, jari-jarinya tak bisa menggenggam.
Saat menjadi sopir, Budi mungin berbeda. Ia tidak seperti sopir pada umumnya. Di saat waktu sholat lima waktu tiba, ia tak pernah lupa berhenti dan mengajak penumpangnya untuk ikut sholat berjamaah di masjid yang dilalui.
Jika kebetulan non-Muslim, ia menjelaskan kepada penumpangnya tentang hakikat sholat bagi seorang Muslim. Sehingga tak sedikit dari penumpangnya yang kemudian menemukan hidayah Allah.
Bahkan, pernah ada penumpangnya yang mengaku sebagai pelacur dan mengaku sudah frustasi menjalani hidupnya. Budi kemudian menasihatinya agar jangan berputus asa dan segera bertaubat. “Kembalilah kepada fitrahmu sebagai manusia”. Pelacur ini pun terhenyak lalu bertaubat.
“Terlalu banyak orang yang menumpang, sudah lupa semua siapa saja. Setiap ada penumpang, setiap kali itu juga diajak ngobrol, tak sedikit yang langsung curhat dengan persoalan hidupnya” katanya mengenang.
Meski sudah tidak narik lagi karena stroke yang mendera. Aktifitas dakwah Budi tak berarti surut. Maka tak heran, meski sudah bertahun-tahun tidak naksi, nyaris semua sopir taksi di bandara Sepinggan Balikpapan kenal dekat dengan Budi. Terutama sopir-sopir senior yang sejak lama sudah mangkal di sana.
Bukan sekali dua kali Budi membantu menangani masalah seperti kisah di atas. Dari persoalan pribadi hingga soal kehidupan rumah tangga. Ia bahkan kerap harus menerima telep0n dari nomor-nomor yang tak ia ketahui sama sekali pemiliknya.
Misalnya, ia pernah ditelepon oleh seorang bapak yang mengaku akan bercerai dengan istrinya karena kesalahpahaman yang tak menemui titik temu. Budi diminta untuk menjadi penengah antara ia dan istrinya yang sudah di puncak pertengkaran biduk rumah tangganya.
Keesokan harinya, Budi ditelfon lagi untuk hadir di Kantor Urusan Agama (KUA) Balikpapan Timur untuk membantu menengahi kedua pasangan suami istri yang masih cekcok tersebut. Alhamdulillah, setelah ditengahinya, dilakukan komunikasi yang intens, kedua pasangan ini kembali akur dan tak jadi bercerai.
Suatu malam lepas Isya’, ada soal lain lagi. Budi kedatangan tamu di rumahnya. Seorang preman yang mengaku telah insyaf. Preman ini mengaku memiliki kemampuan supranatural yaitu ilmu kebal. Preman berbadan tegap dengan perawakan tegas ini menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu sama sekali tak dibenarkan dalam Islam karena bersekutu dengan Jin.
“Bapak harus beritighfar, bertaubat kepada Allah, dan hilangkan semua benda-benda syirik yang ada dalam diri Bapak. Karena syirik tempatnya neraka,” begitu Budi menimpali cerita sang preman. Kebetulan hidayatullah.com hadir juga dalam momen itu.
Mendengar itu, preman ini langsung melepas cincin yang ada ditangannya, serta beberapa jenis azimat lainnya, lalu menaruhnya di lantai. Dengan serius pria ini menyimak wejangan-wejangan Budi untuk selalu menjaga sholat lima waktu, zikir, berbuat baik kepada orang lain, dan tak lagi melakukan syirik kepada Allah.
“Alhamdulillah, saat ini saya merasa lebih tenang,” kata preman yang tak kami disebutkan namanya itu. Ia kemudian pamit pulang dengan senyum merekah.
Merintis Pesantren
Ayah dari 9 anak yang lahir di Malang 3 Mei 1952 ini adalah kader senior Hidayatullah yang juga telah malang melintang mengemban amanah dakwah Pesantren Hidayatullah. Ia pernah ikut merintis Pondok Pesantren Hidayatullah Lempake, Samarinda. Ia bertugas di sana selama 3 tahun yaitu tahun 1983 hingga 1985.
Ia kemudian diamanahkan bertugas ke Berau selama setahun (1986-1987). Tak lama-lama mengemban amanah di Berau, Budi kemudian dikirim membantu perintisan Pesantren Hidayatullah Tarakan dari tahun 1987 sampai tahun 1988.
Dinilai memiliki skill bersosialisasi yang bagus dalam merekrut simpatisan, oleh Ustadz Allahuyarham Abdullah Said, Budi lalu ditugaskan membantu merintis Pesantren Hidayatullah Bogor (sekarang Cilodong, Depok, red). Saat masuk ke Depok awal tahun 1988, Budi mengisahkan, jalan-jalan di sana masih setapak. Masih berupa hutan bambu, dan tidak ada listrik.
“Kalau malam lokasi pesantren sangat gelap karena belum ada listrik. Juga dianggap angker, karena warga sekitar sering bilang komplek pesantren ini bekas kuburan Belanda,” kisah Budi yang bertugas di Depok hingga tahun 1991.
Pesantren Hidyatullah Depok yang kini beralamat di Jl. Raya Kalimulya, Kelurahan Kalimulya Rt.01 RW.05, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, saat perintisannnya berdiri di atas lahan wakaf seluas 3,5 ha. Tanah ini diwakafkan oleh simpatisan yang juga salah seorang pendiri Pesantren Hidayatullah Depok yaitu Ustadz Agus Soetomo.
Sekitar 4 tahun di Depok, Budi lalu “dimutasi” lagi dari tempat tugasnya tersebut. Saat itu pembangunan pondasi masjid pesantren yakni Masjid Ummul Quro mulai memasuki tahap pendiriannya atas sumbangsih dermawan Muslim kala itu. Oleh pimpinan, Budi ditugaskan keluar negeri, tepatnya ke Brunei Darussalam.
Hanya 6 bulan di Brunei dalam rangka tugas menjajaki peluang dakwah di sana, Budi ditarik kembali ke Indonesia lalu ditugaskan ikut membantu perintisan dan pembangunan Pondok Pesantren Hidayatullah Sangatta, Kutai Timur (dulu Kabupaten Kutai, red), tahun 1992 hingga 1994.
Kini, di kediamannya, sebuah rumah sederhana inventaris Pesantren Hidayatullah Balikpapan, kakek yang baru mempunyai 7 cucu ini tak terlalu kuat lagi ke mana-mana. Jalannya pun sudah terseok-keok karena stroke yang terus menggerogoti. Kendati begitu, ia selalu menyambut hangat setiap tamu yang datang berkujung.
Tamu yang datang pun bermacam-macam. Ada yang datang sekedar konsultasi masalah keluarga, masalah kesehatan, hingga soal pasangan suami istri yang tak kunjung diberi momongan.
Namun, tak jarang pula ia bahkan harus berjalan kaki, meski kaki harus diseret-seret, dan menumpang angkot untuk memenuhi panggilan pasien ke Kota Balikpapan. Pada kesempatan-kesempatan seperti inilah Budi selalu menyisipkan pesan-pesan dakwah Tauhid.
“Selama nafas masih ada, jangan pernah berhenti berdakwah, semampu yang kita bisa,” kata suami dari Hafsah Sarai ini sering berpesan.
Ia mengatakan, amanah dalam berdakwah itu sangat berat, maka tak ada kunci yang lebih utama dari pekerjaan-pekerjaan tersebut selain keikhlasan. Sebab, lanjutnya, rintangan di jalan dakwah itu tidaklah ringan karena fitnah dan cobaan bisa datang bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam.**
Rubrik ini atas kerjasama dengan Persaudaraan Dai Nusantara (Pos Dai). Bantu dakwah mereka melalui Rekening Bank: Bank BSM: 733-30-3330-7 atau BNI 9254-5369-72 a/n Pos Dai. Program dakwah dapat di klik di www.posdai.com