MENJADI satu dari sekian banyak jamaah haji mandiri pada musim haji tahun ini, saya bisa melihat langsung kinerja lapangan Laskar Haji Arab Saudi. Laskar ini terdiri dari satuan kepolisian, tentara dan pertahanan sipil, baik di Masjidil Haram dan 3 Masy’aril Haram lainnya.
Ada dua fungsi utama yang saya lihat dari kinerja mereka di lapangan. Pertama adalah menjamin ketertiban dan keamanan ibadah haji, kedua adalah pelayanan kemanusiaan.
Sejak berhasil memasuki Kota Suci Makkah, ketiga unsur dari Laskar Haji itu berubah menjadi sahabat. Tidak seperti yang bertugas di pintu-pintu masuk Makkah, mereka sangat tegas dan mata mereka selalu mengintai setiap kendaraan yang lewat.
Di lingkaran Masjidil Haram, Laskar Haji telah bersiap satu jam sebelum adzan berkumandang. Mereka telah mengantisipasi kepadatan arus jamaah yang akan masuk ke masjid. Sementara itu, sebagian petugas lainnya membangunkan jamaah yang masih tidur, baik di dalam maupun di luar masjid.
“As-Shalatu yaa Haaj, Qum yaa Haaj. As-Shalatu khoirun minannaum (Shalat, Pak Haji. Bangun, Pak Haji. Shalat lebih baik dari pada tidur),” seru mereka.
Dua kinerja mereka semakin terasa saat saya memasuki Mina di hari Tarwiyah 8 Dzulhijjah 1436 H.
Sejak memasuki gerbang Mina, mereka sudah membagi-bagikan air mineral dingin kepada jamaah haji. Sebagian yang lain berbaris menyemprot kepala jamaah dengan air segar, sebagian mereka membagi-bagikan payung gratis. Tentu lebih banyak petugas yang mengontrol ketertiban dan keamanan jalur masuk.
“Ahlan wa sahlan bikum yaa Dhuyuf ar-Rahman bi Mina. Hanian bittarwiyah (Selamat datang di Mina, para Tamu Allah. Selamat menjalankan sunnah Tarwiyah),” ucap beberapa laskar sambil memberi air mineral kepada jamaah yang lewat.
Menggendong orang tua dan anak-anak kecil yang kelelahan adalah pemandangan istimewa lainnya. Tapi karena pemandangan tersebut sering terjadi, lama-lama saya merasakannya sebagai hal yang biasa.
Di samping Masjid Namirah, beberapa laskar terlihat memikul tas air, seperti alat semprot tanaman, mereka menyemprotkan air segar ke setiap jamaah yang masuk Arafah. Kepala setengah gundul saya pun ketagihan untuk disemprot. Cuaca 43 derajat celcius menjadi alasan utama layanan tersebut.
Didoakan
Layanan yang sama juga saya rasakan saat di Muzdalifah, hanya saja tidak ada semprotan air karena jamaah dalam suasana Mabit.
Saat akan melontar Jamarat, seorang laskar memanggil saya, meminta air mineral dingin yang saya bawa untuk mengisi alat semprotnya.
“Boleh saya minta airnya? Nanti isi lagi botolnya di sana,” kata seorang petugas.
Teman saya, Lukman Hakim dari Makassar, menawarkan air kemasan yang ada di sudut bangunan, airnya tinggal setengah botol.
“Jangan, saya tidak mau pakai air botol itu, saya tidak bisa memastikan kebersihannya,” ucap sang petugas.
“Kalau yang ini (air mineral dingin milik saya) bersih, segar dan masih penuh air botolnya,” lanjutnya sambil tersenyum mengimbangi senyum Lukman.
Setelah saya tinggal, laskar tadi kembali melanjutkan aktivitasnya memberi pelayanan kepada jamaah haji.
Ada beberapa kalimat khas berunsur doa yang sering digunakan para Laskar Haji saat menertibkan jamaah, khususnya jamaah haji mandiri yang tidak memiliki layanan tenda di Mina. Di antaranya adalah:
“Thoriq yaa Haaj, Allah Yardho Alaik (Tolong buka jalan, Pak Haji. Semoga Allah meridhoimu).”
“Harrik yaa Haaj, Harrik, Laa Taqif, Allah Yardho Alaik (Terus bergerak, Pak Haji, jangan stop di sini. Semoga Allah meridhoimu).”
Bila waktu adzan sudah dekat, patroli mobil kepolisian di Mina membangunkan jamaah haji agar bersiap untuk shalat berjamaah.
“As-Sholah yaa Haaj, as-Sholah… (Shalat, Pak haji, ayo shalat).”
Alhamdulillah, ada Laskar Haji Arab Saudi yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga ketertiban dan keamanan ibadah Haji.*/ Muhammad Dinul Haq, koresponden hidayatullah.com di Tanah Suci