Hidayatullah.com—Setiap orang pasti meyakini datangnya kematian, tetapi tidak semua orang dipilih Allah bisa meninggal dalam keadaan yang baik di tempat yang baik.
Salah satunya adalah Ibu Nurlaeli Sanut Madinah (58) yang dipilih Allah Subhanahu Wata’ala meninggal di Kota Madinah, kota yang dicintai Rasulullah Muhammad.
Akhir hidup wanita yang telah melahirkan 5 anak ini berakhir tatkala ia menginjakkan kakinya di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Kamis (13 April 2017), pukul 18.10 waktu KSA di Kota Jeddah guna menunaikan ibadah umrah. Kala itu, ia ditemani putrinya, bernama Desi.
Usai perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta-Jeddah, wanita yang lahir pada tanggal 20 September 1959 silam ini akhirnya sampai di Kota Nabi, Madinah al Munawwarah.
Namun dua hari di Kota Madinah sudah Allah telah cukupkan untuk almarhumah hingga menjemput “syafaat Nabi”. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Sebagaimana diketahui, salah satu keutamaan meninggal di Kota Suci Madinah al Munawwarah adalah mereka yang wafat kemudian dikuburkan di Pemakaman Baqi’ (maka insyaAllah) akan mendapat syafaat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.
Desi, sempat bercerita, ibundanya, saat sehat selalu tak putus mengamalkan shalat qiyamul lail (shalat malam).
“Kebiasaan ibu menjaga shalat jamaah, tidak putus qiamul lail, bahkan ibu kalau kesiangan berusaha menyempurnakan semampunya, ibu juga suka ikut pengajian, kenang Desi putri almarhumah, ” kepada hidayatullah.com yang menemuinya.
Saat ditanyakan mengapa dirinya bisa tegar menerima kehilangan ibu yang seharusnya berbahagia bisa umrah bersama dan kembali bersama, Desi menjawab pendek.
“Saya juga hampir lepas control, tetapi akhirnya bersyukur ada ustadz yang menguatkan dan menjelaskan tentang keutamaan meninggal di Kota Madinah,” ujarnya.
“Perlu dicatat mas, ada 4 hal sudah ditetapkan Allah Subhanahu Wata’ala; kematian, rezki, jodoh dan taqdir baik buruk. Kita hanya menjalankan taqdirNya Allah memang harus ikhlas, ” tambah Desi.
Yang menarik, menurut Desi, satu hal menjadi harapan besarnya, ia ingin bisa bertemu di alam kubur baqi’ (perkuburan Madinah) bersama ibunya kelak.
“Suatu saat nanti kalau ada rezki saya ingin menjenguk ibu lagi, syukur-syukur bisa wafat di sana, harapnya berkaca kaca.”
Betapa mulianya orang yang bisa meninggal di Madinah. Sampai sampai Rasulullah menganjurkan untuk bisa meninggal di kota hijrah Nabi Allah tersebut.
Ini berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda,
(الرسول يشفع لمن مات في المدينة المنورة )
عن نافع عن ابن عمر قال. قال رسول صلى عليه وسلم من استطاع ان يموت في المدينة فليموت بها فاني أشفع لمن يموت بها.
و رواية ابن ماجه : من استطاع منكم ان يموت في المدينة فليفعل فاني اشهد لمن مات بها. صححه الألبانب
“Siapa yang mampu meninggal di Madinah, silahkan dia lakukan. Karena saya akan memberi syafaat bagi mereka yang meninggal di Madinah.” (HR. Ahmad 5437)
Dalam riwayat Ibnu Majah diterangkan, “Barang siapa dari kalian yang meninggal di Madinah maka lakukanlah. Maka aku (Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam) akan bersaksi bagi siapa yang mati di dalamnya.” Semoga kita semua mendapat kemuliaan dan syafaat dari Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Amin.*/Imam (Madinah)