SYDNEY–Lebih dari 40 kekerasan menimpa umat Islam Australian di Sydney semenjak terjadinya peledakan bom di Bali, 12 Oktober lalu. Menurut laporan resmi pejabat tinggi kepolisian New South Wales, Ken Moroney, telah terjadi peningkatan kekerasan dan penganiayaan tehadap warga muslim Australia semenjak terjadinya peledakan bom di Bali, dua minggu lalu. Beberapa penganiayaan dan kekerasaan itu, terutama menimpa pada para muslimah, masjid dan rumah-rumah penduduk. Hingga hari ini, dikabarkan tidak kurang 40 kekerasan menimpa warga muslim di Australia. Diantaranya memrusak masjid, mengancurkan rumah, dan menciderai beberapa muslimah di tempat-tempat umum. Para muslimah dan masjid, adalah tempat yang mudah dijadikan sasaran kekerasan itu. Kekerasan warga Australia terhadap warga muslim ini setidaknya telah menjadikan tekanan psikologis yang kian mencemaskan bagi 500 ribu komunitas muslim yang hidup dan tinggal di sana. Keysar Trad, Ketua Asosiasi Muslim Libanon mengatakan bahwa ciri-ciri umum yang dilakukan adalah kata-kata hinaan yang membangkitkan perasaan anti Islam. “Kami telah mendengar beberapa kata bernada hasutan di beberapa stasiun radio atau surat pembaca di beberapa koran”, ujarnya. “Saya rasa ini adalah masalah yang amat serius karena terjadinya efek komulatif”, ujar Trad Setelah 11September, tahun lalu, Masjid Brisbane Kuraby diserang orang tidak dikenal dan dilempari dengan bom molotov. Imam Masjid Sydney Rooty Hill, Shabbir Ahmed mengaku, pernah didatangi rombongan orang di malam hari. Mereka datang dengan cara menghancurkan kaca dan jendela, serta eternit”. “Kami tengah tidur lelap saat mereka datang” , ujar Shabbir. “Kami tidak keluar karena kawatir mereka melukai kami. Anak kami sangat ketakutan”. katanya. Sejak saat itu, istri Shabir diinapkan di rumah salah seorang kawannya. Hingga kini, anaknya masih terus dilanda trauma dan ketakutan. Polisi menganggap peristiwa yang terjadi itu bukanlah dikarenakan motiv rasialisme. Tapi karena perasaan dendam setelah kejadian bom di Bali. (MSNBC/TGD/Cha)