Subuh Kamis (20/3) kemarin, Presiden Amerika Serikat, George W Bush telah menandai penyerangan terhadap negara Iraq. Militer AS dan sekutunya, membuktinya janjinya untuk mengeroyok sebuah bangsa yang telah memiliki kedaulan dengan dalih senjata pemusnah massal. Seperti yang dapat dilihat melalui berbagai liputan TV, langit Kota Baghdad bagian selatan kontan menyala. Suara sirine tanda bahaya meraung-raung berbaur dengan suara letupan pesawat pengebom yang dijatuhkan militer AS. Sejumlah warga sipil Irak dilaporkan terluka di Baghdad akibat serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat. Demikian disampaikan pejabat Departemen Penerangan Iraq, hari ini. Sepeprti dikutip AFP, sekurang-kurangnya lima peluru dijatuhkan di kawasan berpenduduk yang dilancarkan pada Kamis petang itu. Sebuah rumah sakit pemerintah dan rumah sakit bersalin dilaporkan telah hancur. Dalam pidatonya sebelum menyerang Iraq, Bush sempat mengakui bila AS telah menyerang Iraq sejak subuh. Namun Bush menegaskan, dirinya tak punya ambisi apapun di balik agresi tersebut. Dalam pidatonya, Bush mengemukakan cita-citanya –yang banyak dijadikan dalih untuk memikat penduduk dunia– “Memerdekakan penduduk dunia dari ancaman senjata pembunuh massal yang dimiliki Irak”, katanya. Bush bahkan sempat juga meminta seluruh warga AS berdoa, terutama buat kerabat-kerabat yang ditugaskan maju ke medan perang agar kembali dalam keadaan selamat. Bush juga menyatakan akan bertanggung jawab terhadap warga Irak korban perang. “Kami berkomitmen merehabilitasi rakyat Irak setelah perang,” kata dia. Sebelumnya, Juru Bicara Gedung Putih Ary Fleisher juga membenarkan AS sudah secara resmi memerintahkan tentaranya menyerbu Irak sejak pagi buta tadi di waktu setempat. Sejauh ini, Presiden Irak Saddam Hussein dilaporkan masih bertahan di Baghdad. Putranya tertuanya Uday bahkan berpidato lewat radio nasional Irak untuk membakar semangat rakyatnya. “Tuhan melindungi Irak! Tuhan Melindungi kita semua”. Televisi setempat juga menyiarkan acara-acara patriotik, termasuk parade militer pro-Presiden Saddam dan lagu kebangsaan Irak. (AFP/hrk)